Mempunyai sebuah mimpi besar dalam hidup, tentunya bisa memberikan semangat untuk menjalani kehidupan. Segala cara ditempuh untuk mewujudkan mimpi itu. Namun bagaimana jika mimpi itu kandas di tengah jalan? Bagaimana jika dibalik mimpi-mimpi itu tidak didasari dengan kejujuran?

Ini mengingatkan kisah seorang perempuan yang tinggal di pinggiran kawasan industri besar di Bekasi. Seorang kawan yang pernah curhat kepada saya beberapa bulan lalu. Ia pernah bermimpi untuk mempunyai sebuah mobil. Memang, barang satu ini sudah menjadi kebutuhan. Kebutuhan yang bisa membantu manusia untuk beraktifitas.

Mobil bukan barang mewah lagi yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kaya. Orang-orang yang berharta melimpah. Namun siapapun itu bisa memilikinya. Dengan bekerja keras mengumpulkan uang, bukan orang kayapun bisa mendapatkan apa yang diimpikannya. Bahkan jika kita mempunyai tekad dan niat yang kuat kita bisa mendapatkan mobil impian kita.

Tapi jika tiba-tiba mimpi itu harus kandas karena ketidakjujuran seseorang, tentu sangat menyedihkan bukan?

Sebelumnya perempuan yang bisa dikatakan dia sebagai seorang Dreamer ini, telah bekerja sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah dasar swasta, mengajar private door to door dan juga mempunyai sebuah Bimbel untuk anak pra sekolah hingga anak sekolah menengah pertama. Dengan giatnya ia bekerja sebagai pengajar tentunya hasil yang didapatkan juga lumayan.

Ditambah suaminya juga akan memberikan uangnya untuk membayar DP mobil barunya. Dan kawan saya ini akan membayar cicilan perbulannya.

Hingga suatu hari rencana untuk membeli sebuah mobil dibicarakan dengan keluarganya. Semua keluarga mendukung niat baiknya. Namun ada masalah yang harus dihadapi teman saya itu ketika sudah kesana kemari mencari mobil yang cocok dengan keuanganya, ternyata mimpinya harus kandas di tengah jalan.

Rencana yang semula sudah matang dan mimpinya akan menjadi kenyataan ternyata harus tertunda dan entah kapan akan terwujud. Sebab, uang yang telah terkumpul dan sedianya akan digunakan sebagai uang muka, ternyata dialihkan kepada pihak lain dalam bentuk bisnis bersama kolega.

Ketidakjujuran akibat penyelewengan dana dan komitmen memicu masalah yang semakin meruncing dan selalu memantik pertengkaran. Sehingga, dalam perjalanannya, hubungan pasutri itu terganggu.

"Terpukul, kecewa, sedih, kesel dan bahkan rasa jealous pun muncul di hati," ungkapnya, saat berusaha mencurahkan rasa kecewanya yang selama ini dirasakan.

Ya, bagimana tidak kecewa dan cemburu? Mimpi untuk memiliki mobil dengan segala jerih payah mengumpulkan uang, menjadi kandas karena muncul pengkhianatan terhadap sebuah komitmen.

"Jelas saya kecewa banget, dan malu dengan saudara-saudara. Karena mereka sudah tau semua kalau saya mau membeli sebuah mobil, dan jelas saya cemburu!" Mendengar keluhnya, saat itu hatikupun merasa trenyuh, bagaimana kekecewaan yang dirasakan oleh teman saya itu.

Ada segelintir rasa prihatin yang saya rasakan. Kenapa suaminya harus menyembunyikan sesuatu yang seharusnya istri wajib tahu. Kalaupun harus menunda keinginan istri, seharusnya kan, bisa dibicarakan baik-baik dengan istri. Dan, seharusnya seorang suami tidak menyembunyikan masalah dari pasangannya.

Setahu saya, semua perempuan atau seorang istri akan merasa dihargai jika pasangannya selalu terbuka tentang apapun yang dia lakukan. Karena jika sudah ditakdirkan untuk bersama harus ada kejujuran, komitmen, dengan pemahaman yang saling menghargai. Apapun masalah dalam kehidupan berkeluarga harus dihadapi dan diselesaikan bersama.

Tidak ada yang sempurna, baik itu dalam hubungan rumah tangga ataupun kehidupan yang lainnya. Semua harus bisa saling menjaga, menyadari dan memahami kekurangan dan kelebihan pasangannya.

Sebagian orang paham bahwa kasus seperti yang dialami teman saya, berpotensi besar merusak suatu hubungan. Tapi, sebagian lagi menganggap sepele. Tapi itu, tergantung individunya dalam menyikapi setiap masalah yang muncul dalam sebuah hubungannya.

Sepertinya yang termasuk hal terpenting untuk keharmonisan suatu hubungan itu termasuk dengan adanya kejujuran. Karena menurut saya, adanya ketidak percayaan seseorang terhadap orang lain dipicu karena adanya ketidakjujuran. Dan satu hal lagi menurut saya, kejujuran itu merupakan dasar kepercayaan. Kejujuran dan kepercayaan tentu saja tidak dapat dipisahkan.

Sebagai contoh kasus teman saya yang sebelumnya saya ceritakan, setelah adanya penyelewengan dana dan komitmen, rasa percaya terhadap pasangannya itu perlahan hilang. Hal yang bisa kita cermati dalam kasus ini adalah, sekecil apapun bentuk penghianatan atau ketidakjujuran dalam sebuah hubungan akan meluruhkan rasa percaya pada pasangan kita.

Dan jika kejujuran dan kepercayaan ini bisa terbangun, sepertinya akan bisa memperkuat koneksi dalam suatu hubungan. Koneksi yang kuat tentu saja akan menciptakan suatu keharmonisan dalam sebuah hubungan.

Dan mungkin tidak akan banyak pasangan suami istri yang mendatangi kantor pengadilan agama untuk ketok palu perceraian, jika hubungan itu terbangun tidak hanya dengan rasa saling mencintai saja. Tetapi butuh respect, trust dan honesty yang kuat.