Grha Wiro Pribumi penuh sesak. Sekitar seratus orang berkumpul dengan wajah antusias namun juga dihinggapi heran sekaligus bingung.

“Mas, daftar posisi apa di perusahaan ini?”

 “Saya daftar posisi riset dan pengembangan produk untuk industri makanan, tapi ini tampak seperti acara rekrut staf industri otomotif ya mas?”

“Ini perusahaan telekomunikasi bukan? Saya daftar bagian pemasaran”

“Acara apa ini ya, mas? Saya sedang ada proyek jadi mandor untuk rumah sakit. Tapi ini katanya ada briefing dulu. Kenapa banyak sekali orang ya?”

“Saya juga tidak tahu. Seharusnya saya ada di bandara sekarang. Tidak mungkin juga kan masih ada bandara internasional dengan tampilan buruk rupa seperti ini.”

“Om lihat ibu saya? Saya di mana? Kata satpam, saya dicari ibu saya yang sedang belanja, tapi kenapa ini tampak seperti bukan kawasan pertokoan ya?”

“Ini bukan tempat perlombaan game online ya? Tidak ada satu unit komputer pun di sini”

Segala pertanyaan terus mengudara di antara ramai orang yang tidak saling mengenal. Tidak terlihat juga ada orang yang bertanggung jawab atas kehadiran mereka di ruangan itu. Tidak ada papan petunjuk, tidak ada meja informasi, tidak ada orang yang terlihat sibuk mengurusi acara ini. Di dalam ruangan serupa aula itu hanya tampak tersedia meja-meja plastik berjumlah 25 dilengkapi dengan nomor yang berurutan. Di setiap meja itu terdapat kursi lipat besi berjumlah 4 buah yang mengelilinginya. Selain itu, terdapat puluhan CCTV yang menggantung di langit-langit ruangan tersebut. Ada juga sebuah panggung kecil di sebelah pintu yang merupakan pintu satu-satunya di ruangan tersebut.

“Selamat pagi para kontestan sekalian. Se... la... mat... da... tang di... ‘KEJUARAAN MIARSA’!”

Tiba-tiba suara seseorang yang bertingkah seperti MC dibantu dengan pengeras suara mengambil alih perhatian orang-orang di sana. Berjalan pelan menaiki panggung seorang pria menggunakan jas berwarna merah terang melapisi kemeja berwarna kuning dan berdasi kupu-kupu. Tampilannya begitu eksentrik, karena rambut model jambulnya berwarna biru langit, sedangkan celana yang ia kenakan berupa celana karate yang disobek sepanjang lutut dan menggunakan sepatu gunung. Kulitnya yang gelap seakan-akan hanya menjadi latar tidak penting dari sebuah seni berpakaian untuk mengumpulkan konsentrasi sejumlah orang.

“Saya paham anda sekalian bingung. Namun, kebingungan itu akan lenyap seketika dan  berubah drastis menjadi antusiasme ketika saya menyebutkan hadiah yang akan didapat dari kejuaraan ini. Hadiah tersebut berupa emas 22 karat sejumlah 28 kilogram, intan permata sebanyak 144 karat, serta perkebunan anggur dan jagung dengan total seluas 1030 hektar. Hadiah tersebut hanya diberikan kepada satu orang pemenang saja.”

Seseorang mengangkat tangan dari balik kerumunan, “Mas...”

“Eits! Maaf untuk yang mengacungkan tangan. Kami tidak menerima pertanyaan. Cukup anda ikuti petunjuk dan peraturan yang akan saya berikan di sini. Info paling pertama yang harus saya sampaikan adalah ini bukan tempat yang anda inginkan untuk berada saat ini, tapi yakinlah bahwa ini adalah tempat yang seharusnya memang anda butuhkan. Sudah dengar dong tadi hadiahnya apa? Bila bagi anda itu bualan semata, saya kasih sedikit kisi-kisi kalau perkataan saya bukan pepesan kosong belaka.”

MC mengetuk-ngetukkan kakinya tiga kali di atas panggung. Panggung tempat MC berbicara perlahan naik dan semakin tinggi hingga dasar panggung yang semula hanya sejajar dengan lutut orang dewasa, kini mencapai tiga kali lipat tinggi rata-rata orang di sana. Di bawah panggung itu terdapat fondasi berupa kotak kaca tebal sekitar 2 cm. Di dalam kotak itu terdapat dua sekat sehingga terbagi menjadi tiga bagian : atas, tengah, bawah. Kesegaran jagung dan anggur nan matang memberi warna kontras di bagian atas, kemilau intan permata menyilaukan mata di bagian tengah, dan gemerlap bongkahan emas batangan menghiasi bagian bawah. Semakin apik karena pencahayaan di dalam kotak itu pun sangat pas untuk menyorot segala isi benda di dalamnya.

MC yang masih berada di atas memantau para kontestan dari ketinggian sambil memain-mainkan jambulnya. Sebagian kontestan perlahan mendekat menuju panggung dengan ragu untuk memeriksa keaslian dari barang-barang tersebut. Sebagian lainnya hanya memantau dari kejauhan, sedikit berdiskusi dengan orang di samping-sampingnya. Ada pula yang mencoba melangkah membuka pintu, namun 3 ekor cerberus siap menghadang ketika pintu terbuka. Buru-buru mereka menutup pintu lagi. Mengambil langkah mundur dengan muka pucat. Semua orang terkurung di sini.

“Bagaimana? Masih meragukan kejuaraan ini? Dengan segala kejujuran yang kami miliki, akan kami katakan pada kontestan sekalian bahwa kejuaraan ini memang benar adanya. Informasi lainnya yang ingin saya sampaikan adalah hadiah yang tadi telah dilihat oleh para kontestan layak diberikan hanya kepada satu orang pemenang. Anda sekalian berjumlah seratus orang ini adalah orang terpilih yang telah kami seleksi dengan ketat. Kapabilitas dan kepribadian anda memenuhi kriteria kami. Kami mendapatkan info anda sekalian dari berbagai sumber. Bisa dari keluarga anda, tempat anda bekerja, orang yang pernah ditolong oleh anda, hingga musuh-musuh anda sekalipun. Tidak ada yang bisa keluar dari aula kejuaraan ini hingga kejuaraan ini sendiri kami nyatakan beres. Maka untuk belajar saling menghargai, ikuti saja ketentuan yang kami berikan.”

Sang MC kembali mengetukkan kakinya pada panggung. Panggung tempat MC berdiri perlahan turun. Menyembunyikan kembali kisi-kisi hadiah yang telah dipamerkan.

“Ehem! Inti dari kejuaraan ini adalah tentang interaksi. Nanti anda sekalian akan menempati masing-masing meja secara acak tanpa kami tentukan anda harus duduk di meja nomor berapa. Itu terserah anda sekalian. Di meja tersebut anda akan duduk berempat di masing-masing kursi, berbicara tentang suatu topik, tidak perlu saling memperkenalkan diri bila dirasa tidak perlu. Topik tersebut harus mengenai hal yang masing-masing anda yakini. Boleh tentang agama, ketuhanan, pola hidup, jenis makanan, olah raga, apa pun. Selama itu menyangkut dengan pribadi anda secara langsung. Kegiatan diskusi dan gerak-gerik anda sekalian akan terpantau oleh kamera-kamera CCTV dan kami nilai dari ruang pengamatan. Di masing-masing meja juga terdapat microphone sehingga segala perkataan anda akan terekam dan terdengar oleh tim kami. Parameter penilaian tidak perlu dipikirkan, karena itu menjadi rahasia tim kami. Anda hanya perlu fokus berdiskusi dengan kelompok anda di meja masing-masing. Satu kesalahan kecil saja ketika anda berdiskusi akan membuat anda langsung tereliminasi tanpa anda ketahui secara langsung. Nanti akan kami sediakan pula sebotol air mineral untuk masing-masing dari anda. Durasi kejuaraan ini pun rahasia. Bila kami memutuskan untuk usai maka berakhir pula kejuaraan ini. Bila kami putuskan kejuaraan ini masih akan berlangsung maka tetaplah berdiskusi dan mencari topik. Bagaimana? Sudah paham semua?”

“Ini gila! Apa-apaan ini maksudnya?”, terdengar celetukan dari seorang wanita paruh baya mengenakan jas yang menutupi kemejanya. “Aku ingin pulang saja!”

Senyum merekah di wajah dingin sang MC, “Maaf, tidak bisa. Seperti yang anda sekalian lihat. Di ruangan ini hanya terdapat satu pintu. Di balik pintu ini terdapat 3 ekor makhluk serupa anjing raksasa berkepala tiga, atau kita sebut saja mereka sebagai cerberus, yang siap menerkam siapa pun dari anda yang coba keluar dari ruangan ini sebelum waktunya. Saya pun sempat menyaksikan ada orang yang telah membuka pintu ini dan segera menutupnya kembali. Bisa anda tanyakan kebenarannya pada kontestan yang berusaha untuk minggat tersebut. Sedangkan tembok ini sendiri ketebalannya setengah meter. Tenang saja para kontestan. Ini tidak akan memakan waktu sampai sehari. Lebih baik kontestan sekalian tenang dan berjalan menempati kursi-kursi yang telah disediakan karena kejuaraan ini akan segera dimulai. Semakin cepat ini dimulai, semakin cepat kejuaraan ini usai, dan semakin lekas juga anda bisa kembali ke tempat anda seharusnya berada. Syukur-syukur anda bisa membawa hadiah yang telah kami sediakan. HAHAHAHAHAHAHA!”

Gelak tawa puas dari sang MC seperti menghipnotis orang-orang di sana untuk tenang. Mereka mulai berjalan dan mencari kursi kosong untuk ditempati. Tidak ada aksi saling berebut kursi. Ketika kursi telah terisi maka tinggal isi kursi lain yang masih kosong. Meja nomor 1-25 telah lengkap masing-masingnya berisi empat orang. Mata dan raut muka yang sebelumnya mencirikan rasa heran, bingung hingga keraguan perlahan berubah. Badan orang-orang yang secara umum terlihat masih tegang dan kaku dihiasi juga oleh tatapan-tatapan penuh ambisi. Tak bisa dipungkiri hadiah yang dijanjikan sangat menggiurkan. Antusiasme terhadap hadiah tersebut sayangnya tidak seimbang dengan tujuan yang tidak jelas untuk dilakukan. Tidak ada parameter penilaian yang transparan. Para kontestan hanya disuruh saling berbicara.

Suara MC yang dibantu oleh pengeras suara kembali menggema di antara para kontestan.

“Tenang saudara-saudari sekalian. Biarkan diskusi di antara masing-masing meja mengalir. Untuk sejenak saya minta anda sekalian lupakan hadiah yang kami tawarkan. Cukup fokus saja dengan lawan-lawan bicara anda. Karena, lomba tidak melulu harus tentang hadiah bukan? Buktikan saja diri anda sekalian pada kami. HAHAHAHAHAHAHA.”, lagi, suara tawa dari MC yang pecah justru anehnya membuat kondisi orang-orang di sana lebih tenang. “Tanpa perlu banyak basa-basi lagi, kita mulai Kejuaraan Miarsa edisi ke-sepuluh ini. Kejuaraan... DIMULAI!”

Kejuaraan dimulai. Meja nomor 22 memulai pembicaraan mendahului meja lain yang masih malu-malu untuk menginisiasi pembicaraan.

“Baik, rekan-rekan, saya mulai saja”, seorang lelaki sepuh bertopi baret yang gagah menyapa tiga kontestan lain di mejanya. “Saya ingin berbagi metode mendidik anak yang telah saya lakukan. Dalam mendidik anak itu harus menggunakan sistem reward and punishment. Ketika ia melakukan apa yang kita perintahkan, kita beri hadiah pada mereka serupa mainan atau hal-hal yang mereka suka. Namun, ketika dia melanggar ketentuan yang telah kita tetapkan di rumah maka ada hukuman yang akan diberlakukan. Hukuman yang dulu pernah saya berikan adalah berupa direndam di bak kamar mandi, mengunci anak saya di gudang, atau memukulnya dengan...”

“Kejam sekali hukuman Bapak”, seorang wanita muda memotong perkataan dari lelaki itu.

Dengan geram, lelaki itu menunjuk hidung dari si wanita muda, “Kalau orang lagi bicara jangan dipotong! Tahu apa kamu dengan cara mendidik anak yang baik! Kamu dulu tidak punya orang tua yang mengurusmu ya!”.

Kedua kontestan lainnya di meja tersebut berusaha melerai dan menenangkan kedua orang yang bertikai. Keributan itu anehnya tidak menyedot perhatian dari kontestan di meja lainnya. Karena, di meja lainnya tampak sudah mulai terlibat kegiatan diskusi juga.

Pada meja nomor 5 terjadi obrolan satu arah saja. Obrolan itu dilakukan oleh seorang pria kurus berambut gondrong, mengenakan kemeja bermotif bunga dengan 4 kancing di bagian atasnya dibiarkan terbuka.

“Saya meyakini uang adalah sebuah tipu daya terbesar yang pernah dilakukan umat manusia. Saya pernah mendengar aktor terkenal Tom Hanks berkata, ‘untuk kuliah butuh uang, kuliah perlu untuk mencari kerja, lalu kerja untuk mencari uang. Luar biasa sekali orang yang menciptakan sistem seperti itu’. Kalian tahu asal-muasal terjadinya uang? Kalian merasa tidak? Apa sih nilainya sebuah kertas bertuliskan nominal-nominal sebagai alat tukar. Di mana pentingnya dia? Kalau sistem itu tidak ada sebetulnya hidup kita akan lebih bahagia.”

Tidak ada respon dari ketiga kontestan lainnya. Wajah mereka mengarah kepada pria tersebut, namun tatapan mereka kosong dan pandangan yang entah ditujukan ke arah mana. Ibu-ibu gemuk yang duduk tepat di hadapan pria tersebut menguap. Tampak tidak ada ketertarikan dari tema yang diangkat oleh pria gondrong tersebut bagi ketiga kontestan lainnya. Setelah jeda cukup lama dan terjadi udara mati di meja nomor 5, seorang remaja tanggung membuka topik baru.

“Saya percaya kalau sejahat-jahatnya orang, pasti dia memiliki kebaikan pada dirinya. Kenapa saya bisa bilang demikian? Karena saya pernah mengalami sendiri saya dibantu oleh seorang pembunuh yang terkenal di desa saya. Pada saat itu, hari telah malam saya mengalami kecelakaan ketika mengendarai motor. Jalan yang gelap tidak menampakan ada lubang yang menganga. Saya melaju tidak terlalu cepat, tapi karena hempasan itu saya tidak bisa mengendalikan motor saya dengan benar dan saya terjatuh sampai-sampai motor menimpa badan saya. Untungnya jalanan sepi, sehingga tidak ada yang akan melindas badan saya. Ketika saya kesulitan untuk bangkit, saya ditolong oleh seseorang berbadan tinggi besar. Pada awalnya saya tidak ngeh atau tidak sadar dengan siapa orang tersebut. Saya hanya ingin motor saya bisa lepas dari atas badan saya. Ketika saya sudah mampu berdiri dan sedikit membersihkan diri dari debu jalanan yang menempel di badan saya, saya baru sadar bahwa yang menolong saya adalah Bang Macan yang terkenal di kampung saya sebagai pembunuh bayaran. Tidak ada yang berani menatap matanya secara langsung. Rumahnya pun terasingkan dari warga lainnya. Ia jarang pula menampakkan diri dan berinteraksi dengan warga di kampung saya.”

Ibu gemuk tampak tertarik dengan cerita remaja tanggung tersebut. Remaja lainnya yang tampak dua tahun lebih muda mengubah posisi duduknya yang asalnya bersandar di punggung kursi menjadi condong badannya untuk mendengarkan lebih lanjut cerita kontestan di hadapannya itu. Sedangkan pria gondrong mengambil posisi menyilangkan tangan di dada, melempar pandangan pada meja, memangku kaki kanannya pada kaki kirinya. Interaksi terjadi di antara tiga orang itu saja. Lempar pendapat dan sudut pandang. Tidak ada perselisihan atau potongan pembicaraan. Semua berjalan lancar.

Meja nomor 18 seperti sekelompok orang kelaparan yang menanti pesanan makanan untuk datang di sebuah restoran. Tidak ada sepatah kata pun terlontar di meja nomor ini. Seorang gadis dengan dandanan tebal sibuk menatap layar telepon genggamnya. Seorang lelaki tua menatap genit pada gadis tersebut. Seorang pemuda berambut pendek entah lelaki atau perempuan asik mengunyah permen karet dan membuat balon dari mulutnya. Seorang lagi adalah pria bertato yang asik mengagumi lukisan yang menempel di sekujur badannya. Tertempel sebuah tulisan di lengannya: ‘Jai Guru Deva’.

Dua orang berseragam SMA beradu mulut di meja nomor 1. Diramaikan juga oleh dua pria paruh baya di meja yang sama. Perdebatan itu terjadi akibat satu tema : menjadi pengusaha atau pegawai. Anak yang satu berpendapat bahwa untuk mencari uang pilihlah jalan yang aman, yaitu kerja di perusahaan besar, mendapat gaji besar, hidup sejahtera. Sedangkan anak yang satu lagi berpendapat bahwa kerja di perusahaan besar tidak menjamin apa-apa. Bisa saja sewaktu-waktu dipecat dan ketika menjadi pengusaha, uang yang didapat bisa lebih besar daripada hanya kerja di perusahaan. Selain itu, menjadi pengusaha dapat membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Pria paruh baya yang meramaikan perdebatan di meja nomor 1 kebetulan berprofesi sebagai pengusaha dan satunya lagi bekerja di perusahaan besar. Dua pria paruh baya itu mendukung argumen anak SMA yang menyuarakan kebaikan profesi masing-masing.

“Betul kata anak muda ini. Untuk menggapai hidup yang stabil, lebih baik kita bekerja saja pada orang. Kita tidak perlu banyak ambil pusing terhadap keadaan perusahaan. Kita cukup mengerjakan apa yang menjadi tugas kita saja dan menerima gaji setiap bulannya. Hidup tenang dan keluarga pun bisa terpenuhi kebutuhannya.” Pria paruh baya bersetelan kemeja dan dasi sangat rapi berkata dengan lugas.

“Maaf, Bapak tidak perlu mengatakan mana yang lebih baik. Biarkan mereka ini mengalami sendiri jalan hidup yang tepat bagi mereka. Saya melihat potensi kedua anak ini untuk menjadi pengusaha sukses walau keduanya saat ini berbeda pendapat. Saya sarankan kalian mencoba keduanya dan katakan bagi diri kalian sendiri mana yang lebih baik. Masa depan kalian masih panjang. Masih banyak waktu untuk kalian mencoba berbagai hal. Jangan langsung menelan mentah-mentah apa yang orang ini katakan.” Si pria paruh baya satunya menimpali dengan tenang.

Seorang anak SMA menimpali lagi, “Saya sudah tahu betul mana yang terbaik untuk saya. Saya membayangkan masa depan saya bekerja dari pagi hari hingga sore hari di dalam sebuah gedung kantor tinggi menjulang. Saya akan menjadi eksekutif muda terbaik di sebuah bank. Itulah masa depan saya.”

“Hai, Nak. Coba kamu pikirkan lagi. Apa kamu cukup senang untuk menjadi sebatas itu saja? Coba bayangkan kalau kamulah yang memiliki perusahaan bank tersebut sekaligus dengan gedung tinggi menjulang yang kamu bayangkan. Kamu tentunya akan...”

“Akan lama sekali proses anak ini untuk menggapai khayalan yang kamu semai untuk anak muda polos ini.” Pria paruh baya berkemeja dan dasi memotong pembicaraan si pria paruh baya satunya.

Perdebatan terus berlanjut walau tidak dipenuhi dengan nada suara yang tinggi. Tapi pada meja ini selalu terjadi sanggahan ketika lawan bicara belum selesai berbicara. Obrolan berlanjut dengan pembicara utama adalah kedua pria paruh baya tersebut. Semua argumen dan pendapat dikeluarkan dengan pembawaan yang tenang diselingi tawa sinis dari keduanya. Sedangkan dua anak SMA yang semula terlibat pembicaraan panas itu kini keluar dari perbincangan dan memilih bermain tebak-tebakan kata.

Meja nomer 14 tidak kalah menarik. Empat penghuni meja di sini melangsungkan pembicaraan hingga berdiri, naik di atas meja, berjalan-jalan mengelilingi meja, menendang kursi hingga terjatuh. Topik yang mereka bicarakan adalah tentang ada atau tidak surga yang sesungguhnya.

 “Surga itu tak bisa dibayangkan keindahannya! Itu diterangkan dengan jelas dalam keyakinan yang saya anut.” Seorang pria mengenakan peci berbicara seperti sedang berpidato di  hadapan sejuta orang.

“Saya setuju dengan bapak ini! Saya merindukan tempat di mana sungai mengalir indah dan hidup terasa begitu tenang. Seperti yang sebelumnya saya sudah bilang. Hidup di dunia adalah untuk mengejar surga yang dijanjikan.” Pria bersarung berbicara sambil menepuk-nepuk pundak pria berpeci.

“Omong kosong! Saya tidak akan pernah seumur hidup saya lagi untuk percaya bualan seperti ini. Ketika saya masih SD kelas 3, saya sempat diusir oleh guru saya dari kelas hanya karena saya penasaran dengan tempat bernama surga itu. Dan walaupun keyakinan kita sama bapak-bapak sekalian, hanya topik ini saja yang tidak bisa masuk ke dalam nalar dan logika saya. Lagian bapak bilang merindukan tempat di mana sungai mengalir indah dan hidup terasa begitu tenang. Itu tempat saya tahu betul di mana. Itu di kampung halaman saya. Saya sudah pernah ke sana. Dan betul apa yang saya katakan dan saya rasakan. Bapak mungkin merindukan surga, tapi apa bapak sudah pernah ke sana? Jangan-jangan, bapak-bapak ini terhisap kesemuan dunia, hingga terjebak dalam fantasi yang disepakati.” Seorang berpakain necis berbicara panjang lebar kepada kedua orang bapak-bapak yang kini memunggunginya.

Terlihat bapak-bapak itu berbisik di balik punggungnya membicarakan orang berpakaian necis yang bersebrangan dalam pemikiran tersebut.

“Anak muda. Segeralah bertobat. Kamu tidak layak berkata seperti itu. Mumpung masih sempat. Segeralah ber...” Pria bersarung naik ke atas meja untuk langsung berhadapan muka dengan si orang necis. Hidung mereka berdua sedikit lagi akan bersentuhan akibat kejadian itu.

“Apa yang harus saya pertobatkan? Lagipula keyakinan kita kan sama. Saya juga tidak banyak melakukan dosa. Saya hanya mengkritisi khayalan tentang surga itu. Kenapa saya disuruh bertobat? Memang saya salah? Atau Bapak merasa paling benar dan semua orang harus satu pemikiran dengan Bapak? Surga bagi saya, tidak lebih dari kaki mendiang ibu saya yang berisi mata ikan. Selebihnya cerita surga itu tidak lebih menarik dari apa yang saya lalui dalam hidup. Semua gambaran surga terbayar tuntas ketika saya menjamah sudut-sudut dunia. Dengan ragam orang yang ditemui, aneka makanan, kebudayaan dan keindahan alamnya, saya sudah menemukan surga itu sendiri di dunia. Surga bagi saya, adalah demikian. Lalu apa gunanya lagi saya harus mengharap surga di waktu nanti? Ketika di dunia saya sudah bisa melihat itu semua.”

Pria berpeci berusaha memisahkan dua orang yang semakin memanas. Sambil menahan pria bersarung dengan tangannya, ia menunjuk kepada si orang necis, mengatakan bahwa si pria necis tidak layak menjadi penghuni surga seperti dirinya dan mengecapnya dengan sebuah kata ‘lancang’. Sontak kata tersebut memantik kembali emosi dari si orang necis. Ia menghampiri kedua bapak-bapak, menunjuk-nunjuk mereka tepat di depan batang hidungnya mengatakan bahwa yang lancang adalah sikap bapak-bapak tersebut yang memunggungi si pria necis ketika sedang berbicara.

“Bapak tidak perlu mengatakan siapa yang benar dan salah. Bukan tugas bapak menghakim-hakimi orang lain. Saya rasa di luar tempat ini pun pekerjaan kalian tidak lain hanya bermain-main di dunia yang ‘fana’ ini. Iya. Bermain hakim sendiri. Cih.” Pria necis berkata dengan sinis.

Mereka bertiga telah berada dalam nafas yang tidak teratur. Sementara itu, seorang wanita berbaju hitam baru masuk ke dalam arena perdebatan di meja ini. Dirinya benar-benar terlihat sebagai orang linglung yang tak mengerti apa yang sedang diributkan.

Sebagai orang baru dalam perbincangan itu, ia mencoba membahas topik yang sudah jauh tertinggal. “Maaf ya, Bapak-Bapak. Saya tidak terlalu mengikuti jalan pembicaraan ini, karena saya lebih terganggu dengan sikap kalian dibanding dengan isi pembicaraan kalian. Saya hanya ingin bertanya beberapa hal saja. Katanya mengejar surga yang dijanjikan, memangnya surga itu bakal pergi-pergi sampai harus dikejar-kejar begitu? Atau maksudnya sedang lomba lari untuk ke surga? Lomba bersama siapa? Tidak bisa ya kalau semua saja masuk surga? Harus ada yang kalah dan menang untuk menentukan siapa yang layak masuk surga? Dan siapa yang berhak menentukan siapa masuk surga dan tidak? Kita yang manusia ini?”

Tiga jam berlalu dan para kontestan sudah mulai tampak lelah untuk terus berdiskusi atau bahkan berdebat dan adu urat.

“Cukup! Silakan diakhiri diskusi yang terjadi. Kejuaraan ini telah usai.”

Suara MC di pengeras suara mengambil kembali seluruh perhatian orang-orang di ruangan. Ia berjalan santai menjelajah di antara susunan meja-meja peserta. Celananya berkibar-kibar seirama dengan langkahnya.

“Sebelumnya saya akan memberi tahu pada anda sekalian bahwa ketika anda meninggalkan ruangan ini, bagi kontestan yang kalah akan dihapuskan ingatannya. Jadi, segala yang terjadi di sini tidak akan teringat kembali ketika kami kembalikan anda semua ke tempat anda seharusnya sekarang berada. Bagi juara yang memenangkan kontes ini, dia berhak mendapat hadiah yang telah dijanjikan, juga ingatannya tentang kejuaraan ini tidak akan terhapuskan.”

Seorang kontestan mengacungkan tangan.

“Maaf, seperti yang sempat saya katakan di awal sebelum kejuaraan ini dimulai, saya tidak menerima pertanyaan atau sanggahan, karena semua akan saya jelaskan secara rinci. Untuk anda ketahui, Miarsa dalam bahasa Sanskerta artinya adalah dengar. Jadi, Kejuaraan Miarsa ini adalah kejuaraan yang menguji kemampuan mendengar dan menyimak dalam pembicaraan para kontestan. Karena seni dalam perbincangan adalah saat kita mampu menahan diri ketika ingin sekali bicara dan memilih untuk mendengar terlebih dahulu serta menunggu lawan bicara kita selesai mengutarakan pendapatnya. Berbeda pendapat bukan masalah di sini, karena sebetulnya dalam kejuaraan ini tidak perlu ada yang mencampuri urusan orang lain atau pun menembus batas pribadi orang lain yang mengganggu keberlangsungan hidupnya. Seni mendengar dalam Kejuaraan Miarsa ini juga secara tersirat menuntut para kontestan untuk bisa ‘setuju untuk tidak setuju’. Kamera dan rekaman di setiap meja berbicara pada kami tentang sikap anda selama kejuaraan. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya juga, satu kesalahan sikap kecil saja yang anda sekalian lakukan akan membuat anda tereliminasi secara tidak langsung. Terdapat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para kontestan sekalian berupa perhatian yang tidak diberikan secara utuh kepada lawan bicara atau sikap memotong orang lain yang sedang berbicara. Tim kami telah melakukan penilaian secara ketat. Dengan resmi saya umumkan, seperti kejuaraan edisi-edisi sebelumnya, kejuaraan edisi kali ini pun tidak ada yang menjadi juara. Terima kasih atas...”

“Ini tidak adil! Saya kira kejuaraan ini adalah tentang bagaimana kita mempertahankan pendapat kita dan memenangkan perdebatan yang terjadi di kelompok yang ada. Kejuaraan ini tidak masuk akal. Akan saya hajar kamu karena membuang-buang waktu saya!”, seorang kontestan berteriak dan bersiap menghampiri MC tersebut sambil menenteng kursi lipat yang ia gunakan untuk duduk.

MC tersebut dengan tenang tersenyum menatap kontestan yang marah tersebut sembari mengenakan masker menutupi saluran pernafasannya. Belum sempat konstestan marah itu menghampiri MC, ia jatuh tergeletak di lantai. Peserta lainnya satu per satu tidak sadarkan diri, terlelap dalam tidurnya. Gas berwarna biru memenuhi seluruh ruangan aula tersebut.