"Jika ada pembelajaran di lapangan, seperti penelitian, saya kurang setuju. Saya juga tidak setuju karena dosen tamu lebih banyak mengajar dibandingkan dosen tetap kampus. Dan saya melihat bahkan dosen kami sendiri seperti mahasiswa yang belajar pada dosennya (dosen tamu). Jadi, saya berharap kuliah di kampus yang aktif. Saya juga lebih senang belajar di kampus."

Aku terhenyak, terhempas, speechless membaca selembar kritikan di atas, kritikan dari mahasiswaku, sebut saja dia Suci. Kritikan yang membunuh karakter dosen, diriku. 

Kritikan itu ada setelah ujian akhir lalu. Aku memang meminta salah seorang staf di kampus membagikan selembar angket kepada setiap mahasiswa. Angket itu dimaksudkan sebagai evaluasi belajar-mengajarku selama ini.

Angket itu meminta mahasiswa untuk memberikan: anjuran, saran, usul, unek-unek, kritik, pesan, dan kesan. Semuanya itu diajukan kepada (untuk): 

I. Dosen: 

1). Aku pribadi (ibu dosen), dan seorang 2). Dosen tamu (bapak dosen) yang kuminta membantuku mengajar. 

Kemudian, angket itu juga meminta pendapat mahasiswa untuk merespons: 

II. Materi. 

Bagaimana selama ini materi yang kami ajarkan. Apakah menurut mahasiswa sesuai, atau bagaimanakah materi itu bisa ditangkap oleh mahasiswa, dan lain sebagainya. 

III. Atmosfer Perkuliahan.

Selama ini, aku mengajar di kampus. Sedangkan sang dosen tamu lebih suka mengajar di kafe. Semuanya untuk memberikan penyegaran kepada mahasiswa agar tidak menoton belajar di kelas, atau di kampus. 

Lalu, ada bagian,

IV. Keterangan atau tambahan.

Ini dimaksudkan agar mahasiswa bisa mengisinya jika ada hal-hal lain yang belum ter-cover dari: Dosen, Materi, dan Atmosfer Perkuliahan.

Lalu di bawahnya ada tulisan, NB (notabene). Evaluasi atau feedback ini tidak termasuk dalam penilaian (nilai) setiap mahasiswa, namun hanya menjadi perbaikan mengajar (pengajaran) dosen ke depannya. 

Sehingga, aku berharap, mahasiswa akan tetap menjadi dirinya, be your self. Mereka tidak takut untuk menulis apa pun. Mereka benar-benar akan menulis apa adanya, apa yang mereka ingin tulis karena ini bukan penilaian. Sehingga tidak akan mengubah apa pun ketika dia menulis sesuatu yang jelek-jelek misalnya, nilainya akan tetap bagus. 

Aku mengajarkan mata kuliah Sosiologi Pendidikan. Ketika mengajar Sosiologi, menurutku, harusnya kita lebih banyak ke lapangan, karena Sosiologi adalah ilmu, science yang bersifat empiris. Empiris yang berarti pengamatan, observasi secara langsung, penelitian lapangan, sehingga kita bisa mengamalkan ilmu yang teoritis ini.

Aku meminta kepada teman-teman mahasiswa secara berkelompok mencari satu tempat penelitian untuk diteliti. Apalagi yang berhubungan dengan Sosiologi Pendidikan dengan mengaplikasikan ilmu, yaitu mengajar.

Di kelas, kami menonton film dokumenter sekolah orang-orang biasa yang bersekolah di laut dan gunung oleh Roem Topatimasang, penulis buku Sekolah itu Candu. Kami juga berdiskusi mengenai tempat penelitian mereka. 

Sebagian dari mereka sudah mempresentasikan hasil bersosiologinya dengan masyarakat, yaitu mengaplikasikan ilmu yang mereka punyai dengan mengajar. Apalagi mereka adalah mahasiswa jurusan Tarbiyah.

Mereka pun memilih sendiri tempat penelitiannya sendiri secara berkelompok. Ada kelompok mahasiswa yang meneliti anak jalanan yang sering kumpul di pusat keramaian, sebuah mall di dekat pantai. Teman mahasiswa ini mengajar mereka huruf-huruf hijaiyyah, mengaji. 

Ada kelompok mahasiswa yang masuk gunung yang akses jalanannya cuma bisa dilewati oleh satu motor untuk mengajar di sana. Ada kelompok mahasiswa yang mengajar anak-anak kampung yang bekerja di kebun. 

Ada kelompok mahasiswa yang meneliti kehidupan suami-istri yang mempunyai lima anak dengan keterbatasan ekonomi mereka. Mahasiswa datang ke sana mengunjungi mereka untuk mengajar anak-anak mereka yang baru duduk dibangku sekolah dasar. Dan ada juga kelompok mahasiswa yang semua anggota kelompoknya bisa membuat kerajinan tangan dari barang bekas seperti kemasan air (teh gelas) untuk dijadikan tas, tempat lampu, dan lain sebagainya.

Di ruang lain, kafe, sang dosen tamu sebagai partner-ku mengajar membagikan ilmunya dengan memberikan pelajaran Sosiologi masa lalu dan masa kini dengan tema: Tahap-tahap pendidikan, pendidikan dan kebudayaan, juga digitalisasi pendidikan. Semuanya berhubungan dengan perilaku manusia pada umumnya, dan sebagai calon pendidik pada khususnya. 

Metode materi kehidupan sosial ini dimulai dari pemaparan dosen tamu lalu dilanjutkan dengan diskusi tanpa adanya tugas-tugas untuk minggu depan. Benar-benar belajar yang tidak buat pusing, kan?

Dan sang dosen tamu tidak selalu masuk. Kami berbagi, berganti-gantian di setiap minggunya untuk mengajar, memberikan perspektif baru dan variasi dalam belajar - mengajar agar tidak membosankan.

Semua Orang Adalah Guru, Semua Tempat Adalah Sekolah

Aku telah membaca semua hasil angket yang diisi oleh mahasiswaku. Tapi, cuma yang satu ini, si Suci ini yang menurutku agak menohok hati. 

Kata-kata " ... bahkan dosen sendiri seperti mahasiswa yang belajar pada dosennya..." terus teringat di pikiranku. Dan aku jadinya terus bertanya-tanya, mengapa jika dosen belajar pada dosen? Adakah hierarki jika dosen tua belajar pada dosen muda? 

Angket yang lain tidak begitu kuhiraukan. Mungkin karena teman-teman mahasiswa yang lain memang belum memberikan komentar yang begitu berarti. 

Masih banyak yang berkomentar di wilayah fisik. Misalnya, mereka memuji kecantikan ataupun ketampanan dosennya. Walaupun, mungkin dosennya tidak secantik aktris ataupun setampan aktor pemain film, namun mereka sangat suka dengan cover dosennya.

Mereka menyukai semangat jiwa muda dan kemudaan dosennya. Mereka juga memuji kebaikan-kebaikan ibu dan bapak dosennya yang telah memberikan banyak ilmu. Walau ada juga mengkritisi keburukan-keburukan dosen yang menurut mereka tidak datang tepat waktu, terlambat atau penjelasan dosen yang terlalu cepat dalam menjelaskan materi.

Mereka juga memuji kepintaran bapak-ibu dosennya yang katanya sangat keren. Ibu dan bapak dosen yang mereka lihat dan harapkan adalah memang dosen yang super-duper pintar (andalan). 

Makanya, (mungkin) salah atau aneh bagi Suci, seorang mahasiswa, melihat dosennya ikut belajar. Aku juga belajar dan menyimak materi dari dosen tamuku, sang bapak dosen. Dosen yang ikut menjadi mahasiswa yang berguru pada dosen lainnya, berguru pada guru. 

Aku tidak tahu, apakah karena aku ikut asyik, dan larut mendengarkan penjelasan dosen tamu sambil mencatat poin-poin pentingnya. Mereka melihat dosen rasa mahasiswa ketika dosen belajar atau mahasiswa rasa dosen ketika mahasiswa banyak bertanya. 

Ataukah karena aku duduk sejajar dengan mereka, bergabung selayaknya mahasiswa sehingga mana dosen dan mahasiswanya tidak jelas? Dosennya yang tidak bisa dibedakan dengan mahasiswanya.

Sehingga, walaupun bapak dosen tamu telah memberikan materi pendidikan dan kebudayan, di mana ia mengutip falfasah dari Ki Hajar Dewantara, "Semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah." Namun, ternyata pesan ini belum sampai ke pola pikir mereka, yang selama ini (kita) masih suka belajar di kelas, sekolah atau kampus. 

Padahal, kita bisa belajar di mana pun. (Kita) masih suka belajar pada guru dan dosen dengan menafikan keberadaan orang lain yang juga mungkin memiliki ilmu. Ilmu apa pun yang membuat kita bisa belajar dan berguru. Padahal, menurutku, setiap orang memiliki 'berkah' masing-masing untuk memberkahi orang lain dengan ilmu. 

Maka, hal itu belum berlaku bagi mahasiswa si kritikus keren ini, mahasiswa yang satu ini, Suci. Padahal, mahasiswa ini adalah salah satu mahasiswa favoritku. Dia pintar dan kritis, nilainya bagus, rajin kuliah, dan selalu bertanya jika di ruanganku. 

Menurutku, kami juga akrab, baik di kampus maupun di luar kampus. Kami juga pernah seru-seruan saling bercerita tentang pengalaman melihat setan ketika salah seorang temannya membuat acara 'Ubi Goreng' pada malam hari di kos. Aku datang karena diundang mahasiswa, dan dia ada di sana membantu menggoreng ubi.

"Aku dan dia tidak ada masalah."

Seperti kata pepatah, tidak melihat orangnya, tetapi ucapannya. Aku juga mungkin belajar dari kritikan ini, sejauh mana (mungkin) dosen 'bersikap' di depan mahasiswanya. Mungkin harus ada jaim-jaimnya, biar terlihat berwibawa. Walaupun, aku sendiri berusaha menjadi pribadi yang ingin dikenal sebagai pribadi yang apa adanya.

Strategi dan Senjata Sebelum Mengajar

Mahasiswa pasti tahu, baik dosen maupun guru, sebelum memberikan materi harus belajar dulu. Makanya, ada silabus dan Rencana Pembelajaran Pengajaran (RPP). Walaupun kami (dosen) tidak menggunakan strategi ini karena kami lebih berimprovisasi dalam mengajar agar mahasiswa punya dasar belajar yang kuat dan sesuai dengan konsep kekinian.

Aku pribadi juga lebih menyuruh mahasiswa untuk membawa senjatanya sendiri. Mereka belajar sendiri, mencari ilmu dan pengetahuan dari hasil penelitiannya. Bagaimana cara mencari tahu mereka akan studi kasus dan bagaimana mereka mempresentasikan hasil penelitianya. Aku tidak memberikan 'senjata' yang sudah disiapkan karena mereka sudah besar, mahasiswa tidak perlu banyak disuap lagi.

Di Atas Langit Ada Langit

Dosen juga harus meng-upgrade ilmunya, meng-install ulang otaknya, dan mengaktualisasikan dirinya dengan mengajar dan belajar (lagi).

Mahasiswa pasti tahu. Sebelum dosen jadi dosen, mereka juga dulu seorang mahasiswa, mahasiswa S1. Seandainya mahasiswa tahu, dosen juga masih mahasiswa, mahasiswa S2, bahkan S3. Mereka para dosen setelah S2 harus S3. Jika ada S4, mungkin mereka harus S4 juga karena tuntutan profesi, tanggung jawab, dan yang terpenting karena mencari ilmu adalah bagian dari jihad.

Ini bukan karena ingin melakukan pembenaran bahwa dosen juga mahasiswa. Namun, karena kami dosen memang bukan harus pintar, tapi harus sangat pintar. Biar tidak dikritik begini lagi.

Terakhir, semoga kita punya prinsip seperti padi yang makin berisi makin merunduk. Dosen yang mau mengisi dirinya namun bisa tetap down to earth pada mahasiswanya.

LA, 190619