Peneliti
1 tahun lalu · 2339 view · 3 menit baca · Budaya 72822.jpg
https://i1.wp.com/thebridedept.com/

Keistimewaan Perempuan Bugis

Identitas, Seksualitas, dan Teknonim

Jauh sebelum dunia Barat mempopulerkan istilah feminisme dan kesetaraan gender, perempuan dalam kultur patriarki Bugis mendapatkan tempat dan perlakuan istimewa. Keistimewaan ini mulai dari ranah domestik, pernikahan, hingga interaksi di lingkungan sosial. 

Dalam tradisi Bugis, tak ada pembenaran untuk perlakuan kekerasan terhadap perempuan. Sebuah kekeliruan dan tindakan yang melanggar nilai, jika seorang lelaki terlibat konfrontasi dengan perempuan. Kalaupun terjadi pertengkaran, umumnya si lelaki menahan diri atau memilih menghindar.

Seorang suami yang dalam keadaan marah, terkadang memilih keluar rumah untuk menenangkan diri. Lelaki yang mengasari dan melakukan tindakan kekerasan terhadap perempuan dianggap sebagai aib, dan si lelaki layak disebut banci.

Identitas: Ana’ Dara, Baine dan Indo’ Ana

Keistimewaan yang melekat dalam perempuan Bugis dapat dilihat dari penyebutan identitas berdasarkan status sosialnya. Gadis perawan, mereka yang telah menikah dan yang berstatus ibu memiliki penyebutan masing-masing.

Ana’ dara adalah sebutan untuk gadis perawan Bugis. Panggilan tersebut mengindikasikan paduan kata ‘anak’ dan ‘darah’. Darah adalah simbol kemanusiaan sekaligus menjadi penegas identitas. Mereka dianggap suci, jika darah yang mengalir di tubuhunya masih belum terkontaminasi atau tercampur.

Pengertian ini terkait dengan ketatnya tradisi keluarga dalam memilih calon pendamping bagi si gadis. Mereka ingin agar anak gadis mereka tetap menjaga kesucian mereka dengan menikahkannya bersama laki-laki dari kalangan yang baik-baik pula.

Dalam kosakata Bugis, istri memiliki pengertian baine dan indo' ana. Dua kata ini masing-masing memiliki makna yang berbeda. Selain bermakna istri, baine juga berarti benih. Baine sebagai julukan terhadap perempuan yang telah bersuami, menunjukkan perempuan tersebut adalah cikal generasi penerus. Sebagai benih, ia mutlak mendapatkan perlakuan khusus, perhatian yang lebih dengan menjaganya sepenuh jiwa.

Agar tumbuh dengan baik, benih harus ditanam di tanah yang subur, dipupuk dan disiram. Baine juga menunjukkan kualitas, sosok yang terpilih, bahwa dia layak menjadi wadah lahirnya manusia baru.

Indo’ ana adalah gabungan kata ‘indo’ dan ‘ana’ yang secara terpisah berarti ibu dan anak. Sang suami melihat dan memperlakukan istri sebagai seorang ibu yang penuh kasih sekaligus sebagai seorang anak yang harus dilindungi.

Penyebutan indo’ ana juga mengindikasikan tentang peran seorang perempuan dewasa. Sebagai seorang istri, ia sekaligus sebagai ibu dari anaknya. Peran seorang ibu sangat menentukan tumbuh-kembang seorang anak.

Kosmologi dan Seksualitas 

Dalam epik Bugis La Galigo, pernikahan kosmologis dapat dianalisis pada tiga tingkat: dunia atas atau langit (Botting Langi ') sebagai suami; dunia tengah atau bumi (Alé Lino / Kawa) sebagai anak / dunia bawah, dan bumi (Pérétiwi / Toddang Toja / Uri 'Liu) sebagai istri. (Idrus, 2013)

Ketiga tingkat dunia berdasarkan kosmologi Bugis ini mencerminkan posisi seksual saat bersenggama. Misalnya, ketika orang membicarakan hal ini, pria dan wanita menyatakan bahwa selama hubungan seksual suami selayaknya berada di atas istri; sementara calon bayi ada di tengah, karena saat istri hamil, posisi anak yang dihasilkan berada di tengah antara calon ibu dan ayah. (Idrus, 2003)

Posisi suami yang berada di atas seringkali (oleh kaum feminine) disebut sebagai pihak yang aktif dan istri sebagai pihak yang pasif dalam hubungan seksual. Pasif juga dimaknai sebagai bentuk kontrol diri dan pewujudan sikap sopan.

Namun, dalam tradisi Bugis, posisi tersebut justru dikaitkan dengan pemahaman terhadap reproduksi lokal. Hal ini diperkuat dengan anjuran indo botting (penasehat pernikahan) untuk meletakkan bantal di bawah bokong saat berhubungan dengan suami dengan harapan agar lebih mudah hamil. (Idrus, 2001)

Teknonim

Tumbuh dalam budaya patriarki, perempuan Bugis disebut memiliki peran dominan di dapur, sumur dan kasur. Namun, peran domestik tersebut tidak lantas membuat hubungan suami-istri menjadi tidak berimbang.

Bahkan, untuk urusan menggarap sawah, perempuan juga punya andil dalam setiap persiapa, proses tanam hingga panen padi. Mereka turut membantu suami saat menyemai benih padi, membawakan penganan saat sang suami menanam padi, serta terlibat dalam panen padi.

Dalam perkembangan modern saat ini, di meja makan, masih ditemukan perempuan mendahulukan laki-laki untuk bersantap. Namun untuk urusan ke pesta, perempuan adalah ratu. Baju baru, perhiasan, dan segala kelengkapan pesta mutlak dipersembahkan oleh sang suami.

Untuk urusan dapur, saat suami pulang kerja, ia disambut dengan senyuman paling manis dan makanan lengkap di atas meja makan, hasil olahan istri. Sebaliknya, untuk urusan naik haji, para istri selalu didahulukan. Bagi seorang suami, jika belum bisa berangkat bersama, setidaknya si istri didahulukan untuk menunaikan ibadah haji.

Kesetaraan hubungan juga dapat dilihat dari status pernikahan. Memiliki anak sebagai penerus keluarga adalah salah satu isu penting dalam pernikahan. Pentingnya aspek reproduksi diwujudkan dalam penyebutan teknonim.

Istri dan suami memiliki pengakuan yang sama atas nama anak pertama, dengan menyandingkannya dalam penyebutan ibu dan bapak. Jika anak pertama diberi nama Baco, maka suami dipanggil dengan Bapaknya Baco  dan istri disebut dengan ibunya Baco.

Sumber: 

Idrus, Nurul Ilmi. 2003. Marriage, Sexuality and Reproduction: The Myth and the Reality of La Galigo Epic. Paper. Department of Anthropology, Fisip – Unhas, Makassar, Indonesia

Idrus, Nurul Ilmi. 2001. “Marriage, Sex and Violence.” In Susan Blackburn (ed.), Love, Sex and Power: Women in Southeast Asia. Monash Asia Institute, Clayton, p. 43-56

Artikel Terkait