Apakah yang dimaksud dengan bahasa? Menurut Harimurti Kridalaksana dalam buku Pesona Bahasa, Langkah Awal Memahami Lingusitik (2005), bahasa ialah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerjasama, berkomumikasi dan mengidentifikasi diri.

Bahasa memiliki peranan sangat penting dalam kebudayaan manusia. Bahasa merupakan suatu hal yang sangat penting dalam proses interaksi antar manusia, karena dengan menggunakan bahasa manusia dapat menyampaikan ide hasil pemikiran, argumen, opini dan saling berkomunikasi antar manusia lainnya.

Setiap negara bahkan setiap daerah memiliki ciri khas bahasanya sendiri-sendiri yang menjadi dialek dan logat yang berbeda-beda. Di mana ada masyarakat di situ ada bahasa. Setiap masyarakat pasti memiliki bahasa. Suku bangsa adalah salah satu contoh masyarakat.

Menurut Koentjaraningrat (1999), jumlah suku bangsa Indonesia menurut Zulyani Hidayah ada sebanyak 656, sedangkan menurut J.M. Melalatoa ada sebanyak 500.

Bila kita asumsikan setiap satu suku bangsa Indonesia memiliki satu bahasa, maka jumlah bahasa yang ada di Indonesia berkisar antara 500 sampai dengan 656 bahasa. Perkiraan itu membawa kita pada satu kesimpulan bahwa keadaan bahasa di Indonesia sangat beragam.

Persebaran bahasa-bahasa kesukuan di Indonesia tidaklah sama. Ada bahasa suku yang memiliki persebaran cukup luas karena penyebaran penuturnya yang sangat luas dan terus berkembang.

Kebanyakan orang Indonesia dapat menuturkan dua bahasa. Sering menukar penggunaan bahasa Indonesia, bahasa nasional, dengan (sedikitnya) satu bahasa daerah atau bahasa suku bangsa.

Bahasa Nasional dianggap sebagai bahasa resmi, untuk digunakan di sekolah atau di pertemuan resmi. Ada banyak kecualian, tentu saja termasuk upacara dan pertunjukan bahasa daerah harus digunakan.

Penggunaan bahasa daerah di pihak lain, lebih sering merupakan norma pada situasi tidak resmi, seperti di rumah dan di dalam urusan antaranggota sesama kelompok suku bangsa.

Bahasa Indonesia bukanlah bahasa pertama dari setiap masyarakat suku bangsa Indonesia. Setiap orang dalam masyarakat bahasa di Indonesia dapat menunjukkan sedikitnya tiga tingkat interaksi linguistik, Yaitu:

1. Tingkat suku bangsa, yaitu penggunaan bahasa dalam kelompok bahasa suku bangsa tertentu, misalnya antara sesama orang Melayu, Riau, Ambon, Sunda, Batak, Bugis, Jawa, dan sebagainya.

2. Tingkat antarsuku bangsa, yaitu penggunaan bahasa di antara masyarakat kelompok sukubangsa yang berbeda. Misalnya percakapan antara orang Batak dengan orang Sunda, orang Ambon dengan orang Jawa, orang Minangkabau dengan orang Bugis, dan sebagainya.

Tidak selalu mereka menggunakan bahasa Indonesia, mungkin mereka menggunakan bahasa tertentu yang dapat mereka mengerti.

3. Tingkat nasional, yaitu penggunaan bahasa pada tingkat nasional, tentu dengan menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini sangat nampak pada acara-acara resmi dan keagamaan pada tingkat nasional serta di dunia pendidikan.

F.X. Rahyono dalam buku Pesona Bahasa, Langkah Awal Memahami Linguistik (2005), menggambarkan sentuh bahasa sebagai berikut;

“Di dunia ini banyak terdapat masyarakat bahasa yang berbeda bertemu, hidup bersama-sama, dan berpengaruh terhadap masyarakat bahasa lain. Keadaan semacam ini menimbulkan apa yang disebut sentuh bahasa atau kontak bahasa. Ciri yang menonjol dari sentuh bahasa ini adalah terdapatnya kedwibahasaan (bilingualism).”

Pada masyarakat Indonesia sangat sering terjadi sentuh bahasa. Setiap waktu terjadi pertemuan dari manusia yang berasal dari masyarakat bahasa yang berbeda.

Orang Indonesia dari berbagai suku bangsa hidup berdampingan secara damai di berbagai daerah Indonesia.

 Tidak terelakkan terjadinya sentuh bahasa dari masyarakat bahasa yang berlainan. Hal ini sudah berlangsung sejak zaman dahulu kala. Hasilnya banyak orang Indonesia yang menguasai bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya.

Bahasa Indonesia digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang berasal dari masyarakat bahasa lain dan bahasa daerah digunakan dengan sesama orang yang berasal dari masyarakat bahasa yang bersangkutan.

Bahkan banyak juga orang Indonesia yang menguasai tiga atau lebih bahasa.

a. Ekabahasawan (monolingual, unilingual, atau monoglot) adalah orang yang menguasai satu bahasa.

b. Dwibahasawan (bilingual) adalah orang yang menguasai dua bahasa.

c. Anekabahasawan (multilingual, plurilingual atau polyglot) adalah orang yang menguasai lebih dari dua bahasa.

Sifat lokal (unik) bahasa dapat ditemui pada setiap daerah dan waktu serta individu.

Lingua franca Indonesia adalah bahasa Indonesia, tetapi cara setiap orang Indonesia menggunakan bahasa Indonesia dapat kita tentukan asal-usul daerah.

Cara orang Ambon berbeda dengan orang Betawi dalam mengungkapkan sesuatu dalam Bahasa Indonesia. Begitu juga halnya dengan orang Minahasa, Madura, Batak, Jawa, dan sebagainya.

Keunikan itu pada akhirnya membentuk aksen, logat atau dialek yang disebut juga dengan idiolek-idiolek.

Bahasa Indonesia dengan dialek Betawi dapat kita temui pada Mandra yang terkenal dengan sinetronnya Si Doel Anak Sekolahan. Bahasa Indonesia dengan dialek Madura diwakili oleh Kadir dalam sinetron Kanan Kiri Oke.

Bahasa Indonesia dengan dialek Batak diwakili oleh Si Raja Minyak yang diperankan oleh Ruhut Sitompul dalam sinetron Gerhana, dan sebagainya.

Pada hierarki ini, bahasa Melayu salah satu bahasa daerah berkedudukan unggul, karena penjelmaannya di tingkat nasional sebagai bahasa Indonesia, bahasa nasional. (Indonesiam Heritage, Jilid 10, 2002).

Bahasa Melayu adalah salah satu bahasa daerah yang memiliki wilayah persebaran yang cukup luas. Ada bahasa Melayu Riau, bahasa Melayu Jambi, dan bahasa Melayu Langkat.

Demikian juga halnya dengan bahasa Jawa, ada bahasa Jawa Surakarta, bahasa Jawa Banyumas, dan bahasa Jawa Surabaya. Kondisi yang sama kemungkinan besar akan ditemukan pada bahasa daerah lainnya.

Apakah yang membedakan bahasa Melayu Langkat dengan Melayu Riau? Apakah yang membedakan bahasa Jawa Surakarta dengan bahasa Jawa Banyumas?

Yang membedakan adalah variasi mereka dalam mengucapkannya yang pada akhirnya melahirkan logat, dialek atau aksen bahasa.

Satu bahasa daerah (bahasa suku bangsa) sangat mungkin memiliki beberapa dialek. Dengan demikian, jumlah dialek sudah pasti lebih banyak daripada jumlah bahasa yang ada di Indonesia.

Keberadaan dialek memperjelas teori yang menyatakan bahwa bahasa amat erat hubungannya dengan keadaan alam, suku bangsa, dan keadaan politik di daerah-daerah yang bersangkutan.

Variasi berbahasa, dialek, logat atau aksen dimiliki setiap orang, bahkan tanpa disadari melekat dalam diri setiap orang dan nampak ketika mengucapkan kata-kata dalam bahasa daerah ataupun bahasa nasional.

Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia, tetapi cara-cara setiap suku bangsa Indonesia dibedakan oleh aksen, logat atau dialek.

Dialek orang Ambon menggunakan bahasa Indonesia sangat berbeda dengan orang Jawa, Madura, Mingkabau, Batak, Melayu, dan sebagainya.

Bahkan bagi orang-orang yang sudah mengenal berbagai suku bangsa Indonesia, dari dialeknya mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia, dapat mengetahui asal – usul daerah dan suku bangsanya.

Setiap orang sangat dipengaruhi oleh letak geografis, politik, ekonomi dan adat istiadat dalam berbahasa, sehingga muncullah dialek dalam berbahasa. Salah satu sarana untuk mengetahui dan mendengar dialek bahasa adalah tradisi lisan.

Secara sederhana dapat disimpulkan, bahasa melahirkan dialek yang dipelihara, dikembangkan dan diwariskan melalui tradisi lisan. Perkembangan suatu bahasa, dialek, dan tradisi lisan dapat menuju kepada dua arah, yaitu menjadi lebih luas daerah pakainya.

Bahkan mungkin dapat menjadi bahasa baku, ataupun sebaliknya, yakni malah dapat lenyap sama sekali. Baik perkembangannya yang membaik maupun yang memburuk, semuanya itu selalu kembali kepada faktor-faktor penunjangnya, yaitu apakah itu faktor kebahasaan ataukah faktor luar bahasa.

Contoh perkembangan membaik, misalnya saja adalah diangkat dan diakuinya bahasa dan dialek Sunda kota Bandung sebagai bahasa Sunda baku dan bahasa sekolah di Jawa Barat, serta bahasa Jawa kota Surakarta sebagai bahasa baku Jawa dan bahasa sekolah di Jawa Tengah.

Contoh perkembangan memburuk, misalnya adalah lenyapnya bahasa dan dialek Sunda di kampung Legok Indramayu, yang sekarang hanya dapat menggunakan bahasa Jawa Cirebonan.

Kelenyapan bahasa dan dialek ini sebenarnya merupakan keadaan yang paling buruk yang pernah dialami oleh sesuatu bahasa ataupun dialek.

Perkembangan membaik mungkin terjadi pada bahasa, dialek dan tradisi lisan dengan jumlah penutur di atas 1.000.000 (satu juta orang).

Kekhawatiran perkembangan memburuk sangat mungkin terjadi pada bahasa, dialek, dan tradisi lisan dengan jumlah penutur yang sedikit (di bawah satu juta orang) dan diancam bahaya kepunahan.

Di dalam masyarakat Indonesia terdapat berbagai macam dan ragam bahasa, dialek, dan tradisi lisan. Perbedaan-perbedaan tersebut jika tidak dikelola secara baik dapat menimbulkan perpecahan dan konflik.

Bagaimanakah kita menyikapi keadaan dan situasi yang kurang menguntungkan bagi pelestarian bahasa, dialek dan tradisi lisan yang ada di Indonesia?

Kita bersama harus meningkatkan kepedulian terhadap bahasa, dialek dan tradisi lisan yang ada di Indonesia.

Kepedulian itu dapat kita wujudkan dengan mengembangkan sikap positif terhadap keadaan dan situasi yang kurang menguntungkan, mengevaluasi dan berusaha mencari hikmah untuk menemukan cara terbaik melestarikan bahasa, dialek dan tradisi lisan yang ada di Indonesia.

Bagaimana pun buruknya situasi dan keadaan yang kita hadapi kita harus mewujudkan kepedulian terhadap bahasa, dialek dan tradisi lisan, dengan cara sebagai berikut.

1. Ikut menjaga dan melestarikannya dalam kehidupan nyata. Banyak hal yang dapat dilakukan, diantaranya menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan berkeluarga, menghimpun dan mengoleksi berbagai tradisi lisan daerah sendiri, dan sebagainya.

2. Menghormati bahasa, dialek, dan tradisi lisan masyarakat lain. Dalam hal ini kita harus mengembangkan sikap toleransi, membiarkan dan menghormati orang-orang yang berbicara dalam bahasa sukunya. Tidak perlu tersinggung dan berburuk sangka.

3. Mengembangkan potensi bahasa, dialek, dan tradisi lisan yang ada di lingkungan masyarakat sekitar. Banyak hal yang dapat kita lakukan, mungkin kita sudah harus memasukkan bahasa daerah kita pada teknologi komunikasi, seperti pada telepon genggam

Dapat juga dilakukan dengan membuat tayangan bahasa daerah di televisi saluran daerah dan nasional, serta mengajarkan bahasa daerah serta mementaskan tradisi lisan di sekolah-sekolah, dan sebagainya.

Jadi keragaman dialek dan logat dalam berbahasa Indonesia merupakan keistimewaan bangsa Indonesia dalam variasi bahasanya.

Semoga semua itu bisa tetap lestari dan menjadi budaya di Indonesia serta dapat menjadi ciri khas Bangsa Indonesia. Selain kaya akan kekayaan alam juga kaya akan variasi bahasa daerahnya.