Pegunungan indah, orang-orang yang ramah, toleransi yang masih melekat, dan budaya gotong-royong masih terjaga. Semua itu terdapat di beberapa tempat, salah satunya di sebuah kampung terpencil di sudut negeri. 

Di sana, hiduplah sekelompok masyarakat yang notabenenya adalah petani. Pengakuan warga yang saya temui, rata-rata mereka memiliki dua hektare sawah per orang. Sawah hijau, pepohonan yang rimbun, kesejukan udara adalah jamuan alam yang setiap hari memanjakan mata mereka dan membuat saya betah berlama-lama. 

Sebuah desa kecil di salah satu kecamatan di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan yang tak kalah indah dari pencitraan wisata kota. Tempat tersebut tak banyak diketahui orang. Selain kampungnya sangat terpencil, juga tak pernah tayang di televisi. 

Aktivitas sehari-hari masyarakat setempat adalah bertani, menanam, memelihara, hingga tampak pemandangan indah kala padinya sudah siap panen. Menguning jingga seirama warna senja menjadi penampakan unik yang menjadi salah satu keberhasilan petani di desa itu.

Selalu saya berkunjung, nyaris setiap akhir pekan. Menurut saya, itulah bagian kecil surga dunia. Suatu ketika, saya ke sana. Sekira tiga belas tahun usianya, Aldi disebutnya. Bocah cilik yang terlihat sangat kuat mengayungkan cangkulnya ke tanah. 

Bajunya penuh lumpur, rawut wajahnya nampak sangat bersemangat terbungkus keringat. “Aldi selalu ikut ke sawah walau saya larang” kata kakeknya, Rustam. Melihat Aldi, saya langsung membayangkan sebuah kota dengan segala perabotnya yang diklaim sangat indah dan layak dikunjungi. 

Kota yang bising penuh polusi udara, memelihara kriminal dan korupsi, kota yang mengerikan singkatnya. Selain kota, di benak saya juga terbayang-bayang suatu bangunan kokoh dikenal mendidik, orang-orang menyebutnya kampus. 

Tempat segala penat, derita, dan luka dibawa ke meja lalu dibicarakan baik-baik. Muda-mudi bertumpu harap mengenyam pendidikan yang disinyalir bisa mencerdaskan kehidupan bangsa, itulah kampus. 

Entah sebagai pelaku atau korban modernisasi, saya pun berada di salah satu bangunan yang dimaksud itu. Teman-teman sekampus dan bahkan saya sendiri jarang pulang kampung. 

Apakah hanya saya, atau juga teman-teman yang tak pernah ke sawah membantu orang tua? Atau mereka punya sawah tapi malas juga membantu orang tua? Atau sawahnya habis terugusur?.

Sekelumit tanya membumbui pikiranku saat melihat Aldi yang begitu gigih membajak sawa bersama kakeknya Rustam yang sudah tua termakan usia tapi masih beraktivitas di sawah.

Perjalanan panjang dari desa ke kota. Indahnya lampu jalan, tak kalah indah dengan lampu-lampu di Warung Kopi (Warkop). Apakah Aldi juga pernah nongkrong di Warkop? Mungkin iya, bisa jadi tidak, dialog hati dengan pikiranku membuyar.

Siang malam deretan Warkop di sepanjang jalan di kota-kota selalu ramai dan didominasi para pemuda. Bila mereka anak pejabat, wajar-wajar saja, bila mereka anak petani sama halnya dengan saya. 

Apakah mereka tahu bagaimana kerasnya gagang parang dan cangkul? Ahhh. Saya selalu berpikiran negatif soal kehidupan. Tetapi memang begitu! Kemajuan zaman merubah kehidupan, lingkungan mengintervensi pola pikir, dan mungkin kita telah terjerumus dalam satu kegilaan yang disebut gengsi

Memeras keringat orang tua hanya untuk tampil menawan. Gila bukan? Tapi faktanya demikian. Membohongi orang tua, supaya dikasi uang jajan tuk teraktir pacar misalnya. Adalah tindakan konyol yang juga pernah saya lakukan berulang kali. 

Jadi selain pengamatan, pengalaman pribadi, pun saya tuangkan dalam tulisan ini. Penampilan paling menarik ditunjukkan hanya karena ingin terlihat keren, bukan? Saya juga kadang begitu. 

Sampai akhirnya saya sadari kegilaan itu saat kuliah beberapa semester, tapi kesadaran muncul bukan karena saya kuliah, melainkan karena sering baca buku juga diskusi.

Kembali ke pembahasan tadi. Antara indahnya kehidupan desa yang menghidupi dengan ganasnya kota menciptakan gengsi juga mengelabui. Kenapa? Karena kota, hampir segalanya dibeli. 

Makan, minum, bercinta dan bahkan merindu. Kau tak bisa mencintai dengan tenang, merindu dengan nyaman bila tidak menjumpai, dan dia tidak akan tertarik bila kau tak memiliki apa-apa, terutama uang.

Suasana kota memang menggiurkan, segala sesuatunya didapatkan dengan mudah kalau kita memiliki uang. Tapi sebagai anak petani biasa, kita mau dapat uang di mana kalau tak bekerja. 

Belum lagi hegemoni kapitalisme yang semakin menjadi-jadi, dari pasar tradisional menjelma wujud jadi modern dan serba instan, dari Warkop yang dulunya sebagai tempat berdiskusi kini menjadi fashion. Membuat gengsi semakin menanjak.

Sebenarnya bukan itu yang jadi soal, tetapi pemuda seperti saya yang lebih memilih nampak menawan di Warkop, daripada ke sawah atau ke kebun membantu orang tua adalah suatu tindakan yang tak semestinya terjadi. 

Terkadang saya sedih, pertama pada diriku sendiri lantaran kebiasaan membiarkan orang tua bekerja sendirian, sementara saya kebanyakan bersantai minum kopi di Warkop lalu mengingat mantan.

Sebagai anak petani miskin dari desa yang menuntut ilmu di kota, harusnya kita sesekali pulang kampung. Bertani bersama keluarga, bersantai sembari menikmati suasana alam yang masih tersisa dan juga memikirkan kemajuan kampung, bukan bergaya di kota hanya untuk menarik perhatian mantan agar mau balikan.