Tak berlebihan kiranya, jika ada yang menyebut tahun 2016 ini merupakan tahun pesta sepakbola. Bagaimana tidak, tahun ini dihelat dua event akbar sepakbola dunia: Copa America dan Piala Eropa 2016. Tak perlu diragukan lagi, event-event sepakbola selalu menyedot perhatian besar, lantaran begitu banyaknya yang menggemari olahraga yang satu ini.

Terlebih bagi para penikmat sepakbola di Indonesia, yang agaknya tak perlu diragukan lagi fanatismenya terhadap olahraga yang satu ini. Hal ini dapat terlihat dari antusiasme yang tak surut untuk menyaksikan pertandingan sepakbola lokal, walau berbagai problema sepakbola, beberapa tahun terakhir tengah mewabah di negeri ini.

Jika kita bertanya kepada para fanatis sepakbola mengenai alasan mengapa olahraga ini begitu disukai, tentu kita akan memperoleh jawaban yang berbeda dari satu orang dan yang lainnya. Dari mulai yang menjawab karena sekedar terhibur dengan aksi pemain-pemain yang begitu lihai mengolah bola di lapangan, sampai jawaban yang sentimentil, seperti, karena merasa ada kebanggaan tersendiri kala melihat kesebelasan yang mewakili kota atau negaranya sedang bertanding.

Semua alasan tersebut tentu sah-sah saja  dan berhak dilontarkan siapapun yang menggemari olahraga ini. Tetapi ada satu hal lain yang saat ini dapat dijadikan alasan hebat, mengapa menggemari olahraga ini: Karena sepakbola mampu menjadi medium perdamaian. 

Sepakbola agaknya terlalu naif jika hanya dipandang sebagai olahraga yang dimainkan oleh 2 tim yang bertanding, masing-masing tim diwakili 11 pemain, berdurasi 2x45 menit, dengan riuh-rendah supporter kedua kesebelasan sepanjang pertandingan berlangsung.

Sepakbola dewasa ini nyatanya lebih dari sekedar hal-hal tersebut, sepakbola mampu menjadi medium perdamaian yang menggemakan pesan toleransi, ditengah konflik-konflik yang marak terjadi dewasa ini, yang mana banyak disebabkan karena sikap intoleransi. Terutama intoleransi antar agama.

Jangan salah kira, di Palestina sana terdapat tim nasional sepakbola wanita. Sebagai daerah konflik, ditengah deru peluru dan puing-puing reruntuhan bangunan, mereka berlatih di ruang-ruang lapang seadanya. Momentum terbaik mereka adalah, saat mengikuti turnamen di Abu Dhabi pada 2008. Timnas perempuan Palestina mulai dicatat FIFA memainkan pertandingan pada 2005, berlanjut ke 2006, dan terhenti karena kecamuk konflik dengan Israel sepanjang 2007.

Hal yang menarik dari tim nasional ini adalah, sikap respect diantara para pemainnya. Saat timnas perempuan Palestina terbentuk pertama kali pada 2003, sebagian pemain beragama Islam, sebagian beragama Kristen. Pelatihnya, Samar Moussa, seorang muslim.

Kaptennya, Honey Thaljieh, seorang Kristen. Fida, salah seorang pemain sepakbola Palestina berujar, tak ada ketegangan politik dan agama di antara para pemain perempuan yang berlatar belakang agama berbeda-beda itu.

Respek berjalan dengan sendirinya. Contohnya di bulan Ramadhan, pemain yang muslim tak keberatan melihat rekan Kristen-nya meminum air, dan pemain beragama Kristen dengan senang hati membantu menyiapkan makanan dan minuman agar rekan-rekannya bisa berbuka puasa. Padahal di negara mereka tak ada semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Implementasi semboyan itu seharusnya dapat terlihat secara gamblang dan nyata di Indonesia, negeri pemilik semboyan tersebut. Hal itu dapat dilihat salah satu contoh kecilnya di pelosok Halmahera sana, tepatnya di  dua buah desa yang bertetangga: Desa Fluk dan Desa Bobo. Desa Fluk adalah desa yang berpenduduk sepenuhnya beragama Islam, sebaliknya Desa Bobo merupakan desa yang seluruh penduduknya beragama Nasrani.

Sepakbola lagi-lagi menjadi medium yang dapat meredam, bahkan merayakan perbedaan antara kedua desa tersebut. Disana setiap tahunnya, saat hari raya keagamaan tiba, selalu diadakan pertandingan persahabatan. Jika saat hari raya Idul Fitri, desa Fluk akan mengadakan laga persahabatan dan mengundang desa Bobo.

Sebaliknya jika saat Natal atau Tahun Baru yang merupakan hari besar bagi umat Nasrani, desa Bobo akan menyelenggarakan pertandingan persahabatan dan tentu saja mengundang desa Fluk.

Dari contoh-contoh tersebut, kita menjadi insaf bahwa sepakbola tak hanya sekedar mengenai perseturuan antara kedua tim selama 90 menit. Lewat sepakbola, sekat-sekat perbedaan yang kerap menimbulkan perpecahan dan konflik nyatanya dapat diredam, bahkan dirayakan penuh suka cita. Disanalah keindahan lain dari sepakbola: Sebagai medium benih-benih kemanusiaan tumbuh subur.