Saya kira, saya sudah harus mulai menuliskan refleksi serius tentang perjalanan spiritual saya yang masih pada tahap kebingungan yang belum juga bermuara bahkan sampai saat ini. Pemikiran spiritual yang tadinya telah saya anggap aman dan mapan serta tercukupi oleh muatan dan input keimanan yang saya dapatkan sedari kecil, baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial sekitar rumah (termasuk pengajian dari mulai Iqra, Juz ’ama dan Al-Qur’an yang sangat dasar waktu saya kecil), nyatanya belum samasekali memuaskan hausnya batin terhadap hakikat agama itu sendiri.

Kini saya mengambang dalam banyak pertanyaan yang saya cari jawaban demi jawabannya melalui segala hal, baik yang dzahir maupun yang bathin atau ghaib (bukan ghaib dalam arti konvensional masyarakat klenik tentunya, namun lebih kepada hikmah dan hakikat).

Sedari awal “pencarian”, saya sadar betul saya hanyalah seorang manusia yang sangat biasa dan sedikitpun tidak ada perasaan ingin mengalami semacam lompatan keimanan sebagaimana manusia-manusia terpilih seperti Al-Ghazali atau Muhammad Iqbal yang pernah sangat berpengaruh pada setiap eksistensi kehidupan mereka baik di masanya bahkan hingga saat ini. Sungguh saya tidak ingin terjebak pada perkiraan kepercayaan diri yang serampangan seperti itu.

Bahkan siapa saya sampai berani mengetik tulisan ini? Namun semua ini semata-mata didorong oleh pencarian yang benar-benar mengambang dalam banyak kerutan dahi dan kekecewaan tentang Islam hari ini.

Saya sekarang hanya sadar bahwa segala yang telah saya cari dan dapatkan, belum juga mengantarkan pada hakikat agama yang seharusnya bisa saya rasakan secara batin dengan arah vertikal menuju yang Maha Tahu. Semua usaha yang saya lakukan nayatanya tampak palsu dan hanya mengikuti ego atau nafsu saya semata.

Pencarian saya telah tersesat sejak dalam niat. Entah disebut apa fase pencarian yang sedang saya alami ini, atau jangan-jangan, saya belum melakukan pencarian samasekali, entahlah.

Hari ini, saya beranggapan bahwa saya sedang terjebak dalam cara pandang nihilistic yang kemudian membuat diri ini terkadang simplistis atau kelewat permisif dengan segala hal yang di mata saya adalah fitrah. Saya masih terjebak dalam dunia artificial itu.

Namun di sisi yang lain, para pemeluk agama khususnya Islam tidak atau semoga saja memang “belum” menawarkan dialektika pemikiran yang juga bisa menciptakan ruang dialog esensial sebagaimana pernah dilakukan oleh para pemikir Islam klasik yang tidak saling menyalahkan, namun mengoreksi baik dengan landasan filsafat, maupun terintegrasi langsung dengan nilai hakikat yang sangat kuat.

Bila renaissance Islam bisa digapai kembali hanya dengan membedah ulang narasi-narasi Islam klasik, lalu siapa dan bagaimana literatur-literatur agung itu bisa kembali diangkat ghirahnya secara implementatif hari ini?

Tentu di tengah masifnya gerakan Islam salafis-wahabis yang ingin menjalankan Islam secara sangat sederhana dengan semangat Al-ruju’ ila Al-qur’an wa al-sunnnah yang seringkali disalahartikan dan dalam praktiknya yang sangat menyederhanakan nilai hakikat dengan cara membuat short-cut yang menafikan literatur para ilmuwan muslim klasik yang telah dengan sangat baik menginterpretasi hakikat al-qur’an dan al-sunnah pada masanya dan besar kemungkinan masih sangat relevan dengan hari ini.

Rasanya sulit sekali mencari guru atau ulama yang telah mencapai maqam hakikat dan mampu dengan mudah mentransfer nilai-nilai ilahiah tanpa harus dengan cara-cara provokatif-destruktif. Saya melihat Indonesia memiliki beberapa ulama jenis ini namun mereka telah digiring oleh opini publik secara sporadis menjadi sosok heretic secara syariat bahkan aqidah. Ini yang kemudian membuat saya mual dan ingin muntah.

Mengapa seorang alim dilecehkan di media sosial namun seorang ulama pembuat sakit hati orang lain dipuja-puja bahkan manjadi hujjah atas semua landasan kehidupan sehari-hari “sementara umat” yang mungkin keblinger. Lagi-lagi, saya juga takut terjebak dalam nafsu egosentris yang menganggap ulama-ulama (gadungan) itu adalah orang-orang salah. Siapa tahu mereka yang benar, tapi apakah harus seperti itu bila memang benar?

Tujuan utama saya sekarang adalah berusaha mendapat “kebenaran” dengan penyaksian langsung tanpa perantara. Saya tahu hal semacam itu adalah keinginan yang keterlaluan dan sebagai bentuk ketidaktahuan diri saya yang bukan siapa-siapa ini.

Namun apalah daya bahwa itu adalah keinginan paripurna saya agar kebenaran itu bisa kemudian saya sebarkan tanpa ragu dan tanpa takut dengan apapun selain diri-Nya. Tulisan atau curahan hati ini saya buat untuk menjadi rekam jejak bahwa saya pernah ada dalam fase aneh ini. Karena kita hari ini adalah kita kemarin dan kita besok adalah kita hari ini. Salahkah saya yang menikmati kegamangan pencarian ini?