2 tahun lalu · 277 view · 4 menit baca · Budaya 1989-muhammad-al-saqqa.jpg
kfip.org

Keikhlasan Syekh Muhammad al-Ghazali

Syekh Muhammad al-Ghazali—salah seorang da'i dan pemikir besar al-Azhar—merupakan salah satu penulis prolifik yang pernah terlahir dari perut bumi Mesir. Nama lengkapnya ialah Muhammad al-Ghazali al-Saqa, lahir pada tahun 1917 dan wafat tahun 1996.

Ia diberi nama "al-Ghazali", karena orangtuanya berharap agar kelak anaknya tumbuh besar seperti "pendekar" Sunni ternama, Abu Hamid al-Ghazali, atau yang dikenal dengan Imam al-Ghazali, yang telah mewarnai khazanal intelektual Islam dengan karya-karya yang melimpah dan sangat berarti.

Orang ini sangat unik. Ceramahnya mampu meledakan keimanan, tulisannya pun sangat mendalam dan sarat akan keindahan. Dua hal yang sangat jarang sekali terhimpun dalam satu kepribadian.

Biasanya, kalau orang jago menulis, kemampuan ceramahnya pun kadang tipis. Tapi ini berlaku bagi al-Ghazali. Di samping dikenal sebagai penulis produktif dan handal, al-Ghazali juga dikenang sebagai salah satu singa podium al-Azhar yang sangar dan menggelegarkan.

Jika anda membaca buku-bukunya, anda akan dibawa ke dalam hamparan lautan sastra Bahasa Arab yang indah dan menawan. Bahasanya indah dan tertata dengan rapi. Isinya sarat akan pemikiran-pemikiran yang terang-cemerlang.

Saya yakin, jika anda termasuk penikmat sastra, buku Muhammad al-Ghazali akan menjadi salah satu santapan lezat anda. Tulisannya bisa menusuk nalar, tapi dalam saat yang sama juga mampu menerangi keimanan. Luar biasa orang ini.

Ceramahnya pun tak kalah menggetarkan. Jika anda menyimak ceramahnya, burung tidur pun mungkin bisa terbang. Memang tidak sampai teriak-teriak dengan mulut berbusa, tapi spirit dan aura keikhlasan yang ada di balik ke-dai-annya sangat terasa. Dan keikhlasannya itulah yang kadang bisa menusuk jantung keimanan kita.

Salah satu ucapannya yang paling menggetarkan, bagi saya, ialah ketika ia bersama Syekh Ramdhan al-Bouthy—seorang ulama besar asal Suriah—dalam sebuah muktamar di Al-Jazair.

Dalam ceramahanya itu, kira-kira, ia berkata… "sauadara-saudara, kita berasal dari negeri yang berbeda, dan hanya Islam Islam mampu mempersatukan kita semua ; ini lihat ada Muhammad al-Ghazali, dari Mesir, ada Muhammad Sa'id Ramdhan al-Bouty dari kurdi, ada yang dari Turkistan, dan lain-lain… saudara-saudara! Sekarang kita semua berkumpul di sini untuk menjadi tentara bagi Muhammad 'alaihsshalatu wassalam!".

Jadi, kira-kira, ketika sedang berceramah itu dia sedang membayangkan dirinya "berperang" bersama Nabi Muhammad Saw untuk melawan kebodohan. Wajar saja kalau ceramah-ceramahnya menggetarkan keimanan orang-orang beriman.

Keikhlasan orang ini sangat tampak sekali, baik melalui ceramah maupun tulisan-tulisannya. Dedikasinya kepada Islam sangat tinggi. Hidupnya hanya dihabiskan untuk mengabdikan diri kepada ajaran Islam yang suci dengan membela al-Quran dan Sunnah Nabi.

Kemampuan ceramah dan menulisnya sulit terbayangkan sama sekali. Saya sendiri kadang bertanya-tanya: dari mana orang itu punya kemampuan hebat seperti ini? Bagaimana dia mengatur waktunya setiap hari? Sulit dimengerti.

Tapi inilah yang menarik. Dalam salah satu bukunya, ia berterus-terang bahwa—katanya—kadang ia sendiri tak sadar akan kemampuannya dalam menulis buku yang melimpah dengan kualitas bahasa yang tinggi, mendalam dan indah. Mungkin inilah yang disebut berkah. Sebagai buah dari keberkahan ini al-Ghazali telah menelurkan sejumlah karya tulis yang melimpah-ruah.

Dalam diskursus ilmu hadits ia menulis buku al-Sunnah al-Nabawiyyah baina Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadîts, dalam bidang sirah Nabi, ia menulis Fiqh al-Sîrah al-Nabawiyyah, dalam bidang ilmu Akidah ia menulis buku 'Aqîdat al-Muslim, dalam bidang Ilmu Etika ia menulis buku Khuluq al-Muslim.

Dalam perbincangan Politik Islam ia menulis al-Islâm wa al-Istibdâd al-Siyâsi, dalam soal memotivasi orang-orang galau dia juga ahlinya. Salah satu buku motivasinya yang sampai sekarang masih laris-manis ialah buku "Jaddid Hayâtak", dalam bidang Tafsir ia menulis buku Nahwa Tafsîr Maudhuiy li al-Qurân al-Karîm.

Dalam diskursus ekonomi Islam ia menulis buku al-Islâm wa al-Audhâ' al-Iqtishâdiyyah, al-Islâm al-Muftarâ 'alaih baina al-Syuyu'iyyîn wa al-Ra'simaliyyîn, dan buku-buku lain yang jumlah keseluruhannya mencapai 55 buah.

Tapi apa sebetulnya hal yang paling menarik dari sosok dai dan pemikir yang sedang kita bicarakan ini?

Bagi saya, yang paling menarik dan yang paling penting dijadikan pelajaran dari sosok yang satu ini ialah keikhlasannya dalam mengabdikan diri pada Islam.

Saya selalu yakin bahwa orang yang ikhlas—yang keikhlasannya terang benderang seterang rembulan—kadang mampu melakukan sesuatu yang sulit diterima oleh nalar biasa dan kebiasaan.

Coba anda bayangkan, bagaimana mungkin orang yang setiap harinya ceramah kemana-mana tapi mampu menelurkan buku-buku yang berkualitas dan melimpah penuh makna? Ini pasti ada campur tangan Yang MahaKuasa.

Akal kita sulit menerima, tapi Allah Swt. mampu melakukan sesuatu yang kadang tak bisa diterima oleh nalar biasa.

Jangankan kita yang hanya sekedar pembaca, dia sendiri—seperti yang dia tuturkan—kadang tak sadar akan kemampuannya itu datang dari mana. Subhanallah. Itulah balasan bagi orang-orang yang ikhlas mengabdikan diri pada Tuhannya.

Orang yang menjalani hidup dengan ikhlas, yang terbatas pun kadang menjadi tak terbatas ketika keterbatasannya di-tak-terbataskan oleh Dzat Yang Tak Terbatas.

Ketika hidup di dunia ia dihormati dan dimuliakan, ketika wafat pun ia diagungkan dan namanya tetap diabadikan, agar dijadikan pelajaran.

Al-Ghazali wafat di Istana raja Faishal pada hari jum'at, 9 Maret 1996. Yang menarik, ia wafat sambil memegang pena. Tuhan mencabut nyawanya ketika ia sedang menuliskan sejumlah catatan untuk membela kehormatan ajaran Islam. Subhanallah. Ini adalah sebuah pemuliaan yang nyata.

Jasadnya kemudian tak dibawa ke tempat kelahirannya, Mesir, tapi langsung dikebumikan bersama para sahabat-sahabat Nabi yang dicintainya selama di dunia. Dan itu merupakan salah satu reward tertinggi bagi orang yang telah memeras tenaga, waktu dan seluruh kehidupannya demi meraih rida Yang MahaKuasa dengan mengabdikan diri pada agama-Nya.

Rahimallâhu al-Syaikh al-Ghazali rahmatan wâsi'ah.

(Kairo, Zahra, Medinat Nasr 25 September 2016)