Aku masih menunggumu di antara jeda titik hujan. Aku masih membenci keadaan dirimu. Persis seperti saat kau ucapkan bahwa kau sudah tidak menganggap Tuhan sebagai bagian dari hidupmu.

Aku masih ingat, kau memang laki-laki yang tidak punya harga diri. Kau ludahi kebengisanmu, menciptakan kebodohan atas dasar nafsu. Dan, aku terperosok bersamamu.

Apakah kau tahu? Sejak kejadian itu, aku merasakan kegetiran yang tak terlupakan. Kematian atas kebenaran yang selama ini menghujam dalam hatiku.

Aku tahu, aku memang perempuan yang tidak mengerti apa-apa soal dunia ketuhanan. Tetapi, setidaknya, aku masih meyakini keberadaan-Nya.

Jujur saja, aku tak habis pikir. Bagaimana mungkin kau paksa aku untuk menghilangkan Tuhan dalam hatiku sedangkan aku saja tidak tahu persis keberadaan Tuhan. Aku hanya meyakini saja, bukan urusanku letak Tuhan berada di mana.

Aku tak habis pikir. Kenapa kau lebih memilih untuk menikmati pengembaraanmu sendirian. Apakah kau sudah tidak membutuhkanku lagi? Sebagai ruang diskusi di kala hatimu bersedih. Atau mungkin, kau sudah menemukan pengganti? Seorang perempuan lain barangkali yang mampu mereda setiap kali kau bertanya soal absurditas semesta dan Tuhan. Dan dia berada di dekatmu setiap saat dan memantau aktivitasmu setiap detik.

Suatu waktu, aku mendengar kabar dari lalu lalang orang-orang pejalan kaki di perempatan lampu kehidupan. Aku mendapat kabar bahwa kau sedang menikmati pengembaraanmu bersama gadis lugu yang tak pernah menanyakan soal konsep ketuhanan. Yang dia tahu, dia punya seberkas cinta untukmu kata seorang penjual lampu minyak di sudut gubuk keramaian pasar.

Mendengar kabar itu, hatiku berantakan. Tangisku membuncah, mengingat setiap kali potongan-potongan kenangan mengendap dalam ingatan yang tak bisa aku lupakan. Kenangan indah, bahagia dan pahit getir bersamamu masih tersimpan rapi di dalam lemari pikiranku.

Sungguh aku tak berani untuk membakar setiap berkas kenangan bersamamu. Aku tak bisa menghancurkan seluruh kenangan saat kau benar-benar masih peduli akan suara hati nurani.

Apakah kau masih mendengar suara hati nurani? Suara yang pernah kau anggap sebagai bisikan Ilahi, suara yang datang dari gelombang kesadaran akan Tuhan. Apakah kau ingat? Kau pernah bilang begitu padaku. Setiap rentetan teori atau refleksi kehidupan yang sering kali kau ceritakan padaku masih kuikat dengan tali temali kesungguhanku mencintaimu.

Di ujung ketidaktahuanku soal dirimu. Kau, laki-laki yang tidak pernah mengerti perasaan perempuan. Apa yang kau cari dalam hidup ini? Jika kabar yang kudengar itu benar. Apa yang membuatmu berubah? Mengapa masalah ketuhanan sampai merembet sampai ke masalah percintaan?

Aku curiga, jangan-jangan soal pengembaraanmu mencari kebijaksanaan Tuhan hanya pelarian dirimu atas ketidaktanggungjawaban dirimu menghadapi realitas kehidupan ini. Jika benar demikian, kau memang laki-laki brengsek! Membunuh Tuhan atas dalih untuk lari dari ketidaktenangan dirimu bersama perempuan bodoh seperti diriku.

Bagaimanapun, seburuk apa pun dirimu, aku masih menunggumu di sini, di bangunan suci yang dibuat oleh manusia untuk mengadakan ritual untuk Tuhan. Aku masih merasakan kesejukan nilai-nilai ketuhanan dalam ruangan ini. Aku pikir dengan menunggumu di sini, kau akan bisa merasakan kehadiran Tuhan sebagaimana yang dirasakan oleh orang-orang suci. 

Aku tahu kau laki-laki yang tengah mengembara. Mencari tahu soal hakikat kerumitan semesta. Tetapi sadarkah kau? Bagaimana mungkin kau cari Tuhan, sedangkan kau sendiri aku perhatikan telah kehilangan Tuhan. Kau kehilangan Tuhan!

Aku masih mencintaimu, itulah mengapa aku masih setia menunggumu. Aku masih menunggu kedatangan seorang laki-laki yang pernah menuangkan noktah hitam dalam hidupku.

Aku mengerti, kau dahulu memang pernah berbuat kesalahan, kau pernah menganggap rendah kaum perempuan. Tetapi keyakinanku mencintaimu, memaksaku untuk menunggu kehadiran dirimu sama seperti saat kau menunggu kehadiran Tuhan yang selama ini kau cari.

Aku percaya kau akan datang ke sini, meninggalkan soal ketidakseriusan dirimu di masa lalu dan membawa Tuhan dalam setiap gerak hadir dirimu.