Sebagai informasi, buku ini terdiri dari beberapa bab. Di masing-masing bab, sajak dikelompokkan sesuai dengan tema masing-masing. Yang bila diurutkan, maka akan sama dengan proses yang sering kita lalui dalam cinta.

Bab yang pertama diberi judul Jatuh Cintalah. Tentu bisa ditebak seperti apa sajak-sajak yang ada di bab pembuka ini. Salah satunya ini;

• Tentang Doa •

Kalau kamu tiba-tiba merasa mencintai seseorang
meski dulu sebelumnya tidak,
mungkin artinya Tuhan telah mengabulkan doa seseorang itu untuk melumpuhkan hatimu.

~~

Sajak ini seperti mempertegas sebuah kalimat yang sering kita dengar bahwa Tuhan memberikan sesuatu yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Tuhan tahu mana makhluknya yang bisa saling bersimbiosis mutualisme bersama kita.

Di bab kedua, kegetiran mulai terasa. Judulnya Pada Kepergian.

Berbeda dengan bab pertama yang dipenuhi rasa cinta, bab berikutnya ini terasa berat. Bukankah kepergian sangat erat hubungannya dengan keikhlasan?

Bab ini dibuka dengan satu sajak mini tiga baris yang sangat relate dengan kehidupan kita,

• Cara Pergi •

Diam;
adalah cara pergi
paling kejam

~~

Mengajarkan pada kita, sepahit apa pun, seberat apa pun, berpamitan akan jauh lebih men(y)enangkan bagi kedua belah pihak. Tak ada satu orang pun yang mau ditinggal begitu saja tanpa kejelasan.

Bab ketiga, Pada Diri Sendiri, mengajak kita untuk belajar lebih memahami apa yang terjadi dalam pikiran dan hati. Bahwasanya pergolakan dan pertentangan hati dengan pikiran itu wajar terjadi. Bahwa kita harus mencoba memaafkan diri sendiri terlebih dulu dan berdamai dengan rasa sakit tanpa jadi membenci.

Susah? Ya, tapi layak dicoba.

• Kenangan •

Kau tetap kumiliki,
sebagai yang bisa aku kunjungi
kapan saja saat rindu,
hanya saja aku mengunjungi
perihal yang sama berulang-ulang;

Sebab,
untuk sesuatu yang disebut kenangan;
di sana kita memang masih bisa pulang,
tetapi tak lagi bisa untuk tinggal.

~~

Bab keempat lebih sadis lagi. Lepaskanlah judulnya.

Salah satu sajak di bab ini yang bagi saya cukup menarik adalah:

• Alasan •

Kukatakan "aku baik-baik saja"
bukan agar kau tenang,
melainkan untuk meyakinkan diriku sendiri,
bahwa aku sanggup
untuk tetap baik-baik saja
tanpamu

~~

Perih, ya?

Tapi sangat membangun.

Di bab terakhir akhirnya kita akan bertemu dengan beberapa sajak Pada Akhirnya.

• Layak •

Aku, kau; kita.
ialah seseorang yang layak berbahagia.
dengan atau tanpa imbuhan kata "bersama"

~~

***

Saat tahu Mbak Susy akan menerbitkan buku solonya, saya tahu akan seperti apa baiknya kualitas buku tersebut. Mengenalnya dalam hitungan lebih dari empat tahun, saya juga tahu akan seperti apa manisnya isi buku tersebut.

Di awal saya sempat mengernyitkan dahi saat mengetahui apa judul bukunya. 'Mana ada kehilangan yang baik?' begitu pikir saya. Di mana-mana yang namanya kehilangan (kecil maupun besar) pastilah membawa duka dan luka. Kehilangan pasti mendatangkan penyesalan, juga menghadirkan sebuah lubang di hati.

Yang saya tidak pernah tahu adalah bahwa buku ini menjadi semacam gerbang bagi seluruh kenangan untuk masuk dan mengobrak-abrik batin saya.

Sehiperbolis itu? Ya.

Di beberapa halaman awal, dada saya sesak. Setengah mati saya menahan air mata dan berpikir bahwa 'Ini cuma kebetulan, baca yang santai saja'. Tapi di halaman empat puluh satu, saya ambyar. Pertahanan saya ambrol total.

~ Menjadi Jauh ~

Tak ada lagi percakapan-percakapan,
meski hanya sebuah sapa "Apa kabar?",
juga cangkir kopi yang bersisian
dengan gelas lemon tea di meja
juga tawa kita di antaranya.

Mungkin kami masih baik-baik saja
dengan secangkir kopi yang tanpaku.
tetapi aku, tak lagi cukup menyiapkan lemon tea
untuk membuatku merasa baik-baik saja
meski kau tak lagi ada.

Kamu, apa tak rindu?
Aku; sungguh-sedang; dan sangat.

~~

Ya, itu isi halaman empat puluh satu.

Ingatan tentang sebuah meja dengan satu cangkir kopi dan satu gelas teh itu terlalu kuat untuk saya bendung. Maka jatuhlah semua yang sepatutnya jatuh.

Punya pengalaman pribadi? Jelas.

Sesuatu yang secara spontan mendatangkan airmata pastilah berhubungan dengan hal-hal yang menyentil hati.

Pertanyaannya adalah: apakah isi buku ini semuanya adalah pengalaman pribadi penulis? Entahlah.

Yang tersirat dengan jelas adalah bahwa penulisnya menulis dengan hati. Saya percaya tulisan yang ditulis dengan sepenuh hati mampu menjadi sebuah jembatan penghubung ke hati para pembacanya. Dan Mbak Susy sudah menemukan pembacanya sejak bertahun-tahun yang lalu.

Di sebuah percakapan antara saya dan Mbak Susy, kami mengambil kesimpulan bahwa kenangan atau ingatan apapun yang datang, biarkan saja datang. Yang terpenting kita bisa menikmatinya hanya sebatas kenangan dan tidak berharap akan hadirnya pengulangan. Bersyukur bahwa semuanya masih baik-baik saja ~bahkan jauh lebih baik~ sampai sekarang.

Mungkin itu yang dimaksud Mbak Susy di judul bukunya. Sepahit, sebesar, sesakit apapun kehilangan, memang tak ada yang baik-baik saja saat itu terjadi. Tapi sesudahnya akan banyak hal lebih baik yang bermunculan.

Riwayat Buku

  • Kehilangan-kehilangan yang Baik
  • Susyillona
  • Cantrik Pustaka, 2019