Sering kita mendengar jika rasa sakit itu harus dihindari, dijauhi. Begitu cara manusia meraih kemerdekaan dan kebahagiaan. Rasa sakit adalah biang keladi dari rasa sedih yang berlarut-larut.

Mereka datang dari eksistensi, dari kehidupan, dari penampakan. Maka jauhi saja, dekati esensi yang ada dibalik penampakan itu, lalu temukan kebahagiaan dalam kesunyian di sana.

Benarkah jika rasa sakit itu harus dihindari? Aku tidak begitu yakin bisa menghindarinya, sejauh aku masih hidup dalam pengaruh kehendak hingga sekarang. Mati, hanya mati satu-satunya jalan untuk menghindari penderitaan total atas hidup.

Tetapi siapa orang bodoh yang memilih untuk bunuh diri? Bunuh diri sama saja dengan tunduk, mengalah pada ketakberaturan dunia. Aku memilih menolak, bukan tunduk pada irasionalitas. 

Atas keputusan-keputusan jahatku, tidak ada yang mengenal realitas bernama masa depan itu. Kenyataan tidak se-rasional yang Hegel katakan, karena tidak jarang ia tampil dalam wujud penampakan yang buta dan irasional.

Merengkuh totalitas kenyataan dan berharap kebaikan darinya hanya merupakan harapan yang sia-sia. Yang bisa dilakukan adalah menidak terus-menerus, pada kenyataan yang memaksa totalitas itu. 

Memang, itu semua tak akan lepas dari jalan yang sakit, sepi, bercabang, dan tak berujung. Larut di dalamnya adalah keniscayaan. Memaksa untuk bangkit rasanya sulit, berpasrah di dalamnya juga sama dengan penyerahan diri pada perbudakan. 

Lalu diri harus berpijak pada apa? Satu-satunya kemungkinan adalah pada diri sendiri. Menemukan pijakan di luar diri adalah hal yang tidak mungkin. It is difficult to find happiness within oneself, but it is imposible to find it anywhere else, kata Arthur Schopenhauer.

Seburuk-buruknya diri dalam mengambil keputusan, sejauh ia masih sanggup bertanggung jawab, ia berarti masih memiliki sikap bela rasa dalam dirinya. Sebuah sikap menerima konsekuensi terburuk dari segala kemungkinan.

Bagiku, itu lebih baik daripada terus menjadi ekor dari mereka yang kita anggap berkuasa. Lebih baik daripada harus merasa terasingkan dari diri, tidak mengenal kedalaman naluri sama sekali.

Sikap bela rasa memang berharga, sebagai cara untuk merefleksikan diri melalui kesadaran-kesadaran yang lain, baik manusia, hewan, tumbuhan, dan alam. 

Semua adalah kesadaran yang harus dihargai dan dihormati. Tidak ada yang lebih berkehendak daripada yang lain. Kita semua sama, setara dalam penderitaan yang dilahirkan oleh irasionalitas dunia. Lalu, jika demikian, masihkah kita diam dalam melihat penderitaan dan perbudakan? 

Rasa sakit datang dari kehidupan. Semakin menjauh kita darinya, semakin sedikit penderitaan yang kita terima, begitu kata para Hedonis, maka dari itu kita harus mendekati rasa senang.

Meski demikian, hasrat membuat kita menderita. Kita harus tahu porsi yang tepat. Do not spoil what you have by desiring what you have not; remember that what you now have was once among the things you only hopes for, kata Epicurus. 

Aku setuju jika kita harus menghidupi diri dan sekitar terlebih dahulu, tidak perlu jauh-jauh. Namun, cara para kaum Epicurean menolak untuk terlibat lebih luas dan dalam pada kehidupan tentu aku tidak setuju.

Kita tidak bisa mengabaikan penderitaan-penderitaan di luar lingkungan kita, tidak bisa hanya duduk diam, makan, minum, bersenang-senang dan menunggu begitu saja waktu kematian datang menjemput. 

Pun juga tidak setuju sepenuhnya kepada para pengikut Schopenhaur, yang terlalu pesimis pada kehidupan. Seolah-olah tidak ada jalan keluar dari penderitaan itu. Seolah-olah hanya ada kehendak  tunggal, buta tak tahu arah, berisi penderitaan sepenuhnya, dan manusia adalah korban dari determinasi kehendak tunggal itu. 

Betul, hidup memang berisi penderitaan, namun bukan berarti manusia tidak bisa menangkap makna kebahagiaan dari ketiadaan (kehidupan). Sejauh manusia itu sadar akan kebebasan dan tanggung jawabnya, atas atensi dan relasinya, ia masih bisa melahirkan makna-makna baru.

Makna yang tidak selalu lahir dari kemenunggalan kehendak, yang dianggap tunggal dan metafisis itu.Meski tali penderitaan tidak akan pernah terputus dari manusia, bukan berarti manusia tidak boleh mencari makna akan eksistensinya.

Demi alasan untuk hidup, manusia sudah sampai sejauh ini. Kendati peradaban modern sangat jauh dari kata baik, manusia masih bisa hidup bahagia dengan tetap berdiri di atas otentisitasnya. 

Kebahagiaan tidak melulu didapat melalui jalan sunyi. Memang benar dalam perjalanan pasti ada kesendirian, sebuah keniscayaan yang dialami setiap orang. Tidak ada yang menginginkan penderitaan, tidak ada yang senang dengan perasaan kesepian.

Naluri purba mengajak kita untuk terus menghindar dari sakit. Dan manusia melalui sains berupaya untuk memudahkan segala-galanya bagi manusia.

Sains dan Gerak Peradaban

Sains melahirkan teknologi transportasi, informasi dan komunikasi untuk memangkas jarak dan waktu. Kita tidak perlu bersusah payah untuk mengunjungi keluarga dan teman yang berada jauh dari kita. Dengan Smartphone, kita sudah dapat terhubung dalam hitungan detik. 

Pun juga sama dengan transportasi. Jarak yang seharusnya ditempuh berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, kini dapat ditempuh dalam waktu yang singkat.

Semua itu adalah produk artifisial yang lahir dari rahim peradaban modern dan patut disyukuri. Secara fungsional, produk artifisial itu telah memberi dampak yang begitu besar.

Lihat saja bagaimana kita masih bisa terhubung dan berkomunikasi ketika pandemi ini berlangsung. Bagaimana isu terorisme baru-baru ini telah menjadi bahan perbincangan hampir di seluruh kepulauan Indonesia dalam waktu yang singkat.

Karena itu, sains telah membawa dampak yang luar biasa besar pada gerak peradaban. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya manusia untuk melangsungkan kegiatan belajar-mengajar di tengah Pandemi tanpa ditunjang kemajuan sains.

Atau, betapa sulitnya untuk sembuh dari sakit tanpa kemajuan ilmu kesehatan. Sekarang, bahkan untuk makan dan mendapat barang yang disukai saja sudah bisa dengan memanfaatkan aplikasi di smartphone.

Namun sekali lagi, manusia dan penderitaan adalah dua kesatuan yang tak terpisahkan. Sains tidak cukup hebat untuk mendikte apa itu bahagia pada manusia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana situasi dunia tanpa penderitaan, kurasa akan terasa begitu kosong. 

Setinggi apapun sains memanjakan manusia dengan kenikmatan, masih tidak akan cukup untuk menghilangkan penderitaan, rasa sakit dari dalam dirinya.

Penderitaan, meski berasal dari kehidupan, tidak berarti manusia harus menjauh darinya. Rasa sakit adalah untuk di lawan, untuk dinikmati dan dipetik pelajaran darinya.

Kita tidak akan mengenal  arti sehat tanpa tahu rasanya demam, kita tidak akan tahu rasanya bebas tanpa merasa terjebak dahulu. Kita tidak akan tahu bagaimana berempati pada banyaknya manusia yang kelaparan di luar sana tanpa pernah merasakan arti rasa lapar. Kita tidak akan tahu indahnya bersama tanpa ada pertengkaran, konflik, atau dialektika.