Di tahun 2021 ini, tentu kita tidak asing dengan digitalisasi. Sebelumnya, kita harus tahu terlebih dahulu apa itu digitalisasi.

Digitalisasi secara umum merupakan suatu kondisi kehidupan yang mana teknologi digital hadir untuk mempermudah kegiatan manusia, atau dengan kata lain menggantikan teknologi terdahulu dengan sistem yang lebih modern dan canggih.

Peralihan ke era ekonomi digital membuat beberapa bentuk maupun unsur dalam sistem perekonomian mengalami perubahan.

Contohnya saja; sebelum memasuki era digitalisasi, para pelaku ekonomi khususnya penjual akan memasarkan produknya melalui media cetak. Namun semenjak adanya digitalisasi ini, bentuk pemasaran serta pelayanan bisa dilakukan secara lebih praktis.

Bidang jasa dan pariwisata menjadi salah satu bidang ekonomi yang mengalami perubahan semenjak adanya digitalisasi, dalam pembahasan kali ini terkhusus pada transportasi umum berupa ojek online.

Transportasi menjadi salah satu kebutuhan penting bagi manusia dalam melakukan kegiatan sehari-harinya, apalagi jika memiliki mobilitas yang tinggi.

Seiring berjalannya waktu, transportasi terus mengalami perkembangan ke arah yang lebih modern di mana setiap komponennya menjadi lebih canggih dari sebelumnya.

Sebelum maraknya digitalisasi, layanan transportasi umum dapat dikatakan cukup memakan waktu dan usaha.

Kita harus mendatangi atau bahkan menunggu pada lokasi tertentu untuk bisa menggunakan transportasi umum, namun sekarang kita bisa memanggil layanan transportasi umum tersebut pada lokasi yang kita inginkan.

Ojek online tentu berbeda dari ojek pangkalan biasanya, ojek pangkalan hanya bisa melayani ketika kita berada dekat dengan lokasi pangkalan sedangkan ojek online kita bisa memanggilnya kapan saja dan di mana saja.

Lebih lanjut, ada beberapa keuntungan dari adanya ojek online yakni; membuka lapangan pekerjaan yang cukup besar bagi banyak orang, akses yang cukup praktis sehingga mempermudah penumpang untuk sampai tujuan, dan turut membantu pengusaha UMKM dalam mendistribusikan produknya kepada konsumen.

Selain itu juga, kemudahan juga dirasakan bagi para driver ojek online; pendaftaran kerja yang cukup mudah, jam kerja yang fleksibel memberikan keleluasaan bagi mereka untuk bekerja, dan siapapun bisa menjadi driver ojek online.

Namun kemudahan yang telah ditawarkan tidak menutup kemungkinan adanya dampak negatif yang dirasakan.

Terbukanya lapangan kerja yang cukup besar serta tidak membatasi siapapun untuk bekerja sebagai driver ojek online, membuat pekerjaan ini menjadi pekerjaan yang diminati siapapun sehingga persaingan kerja menjadi sangat ketat.

Tidak hanya itu, bonus yang ditawarkan dari setiap penumpang yang diambil membuat para driver bekerja sangat keras untuk mengejar bonus tersebut.

Dari semangat mengejar bonus tersebut memaksa mereka untuk mengambil jam kerja yang lebih tinggi dari seharusnya, meski sebenarnya jam kerja mereka cukup fleksibel.

Berdasarkan data yang diambil oleh CNN Indonesia pada tahun 2018, 39 persen driver ojek online bekerja satu minggu penuh tanpa libur.

Sedangkan menurut ketentuan UU Ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003, bekerja lebih dari 40 jam per pekan dianggap sebagai jam kerja yang lama apalagi jika 48 jam per pekan maka dianggap kerja berlebihan.

Kemudian lemahnya perlindungan kerja membuat pekerjaan ini cukup beresiko. Berdasarkan UU nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, sepeda motor bukanlah angkutan umum.

Hal tersebut membuat pekerjaan driver ojek online mendapatkan tekanan di mana-mana salah satunya perselisihan antara ojek online dan ojek pangkalan.

Tidak jarang kita temui berita tentang pertikaian antara ojek online dan ojek pangkalan, bahkan sekarang ojek online mulai membatasi diri bila memasuki kawasan ojek pangkalan.

Masalah terakhir dan tak kalah penting adalah mengenai jaminan ketenagakerjaan dan sosial yang harus ditanggung oleh driver sendiri.

Data dari CNN Indonesia menunjukkan kurang lebih separuh dari driver ojek online tak memiliki asuransi apapun dan hanya 23 persen yang memilikinya.

Mereka hanya mendapat asuransi kecelakaan hanya ketika mereka mengangkut penumpang atau pesanan, sedangkan ketika berkendara sendirian tidak akan memiliki jaminan apapun.

Perlu dipahami juga bahwa bentuk pekerjaan ojek online ini hanya sebatas kemitraan, jadi beberapa hak pekerja tidak mereka rasakan karena mereka tidak dianggap sebagai pegawai.

Hubungan kemitraan ini jadi membebaskan perusahaan dari tanggung jawab atas pemberian upah/gaji tetap serta jaminan sosial dan tunjangan lainnya.

Maka dari itu para driver ojek online akan bekerja tanpa kepastian upah dan tanpa uang lembur demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Inilah yang menjadi keluhan para driver ojek online yang sampai saat ini belum dituntaskan.

Dalam gagasan keadilan menurut salah seorang filsuf, John Rawls, kompetisi antar individu merupakan bagian dari hidup manusia. 

Sama halnya dengan sistem kapitalisme, yang menjadikan kompetisi sebagai alasan untuk terus maju dan berkembang.

Masalahnya adalah ketika dalam kompetisi ini muncul seolah-olah memaksa diri terlalu berlebihan.

Sistem kerja ojek online sangat kapitalistik, karena para driver akan berlomba-lomba mendapatkan untung yang besar. Mereka akan menjadi individualistik dan bekerja lebih keras dari yang lain dengan semakin banyak menerima pesanan

Dalam sistem kapitalisme, apa yang dikejar adalah keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil mungkin.

Di sini para driver ojek online seolah dipaksa bekerja sangat keras dengan persaingan yang sangat berat untuk mendapatkan untung yang besar tanpa mendapatkan upah lembur maupun jaminan sosial lainnya, dengan kata lain tereksploitasi.

Jika berdasarkan pemikiran Rawls, kesetaraan sudah dimunculkan di sini dengan semua boleh ambil bagian dalam pekerjaan ini namun timbul masalah baru di mana persaingan akan jauh lebih ketat karena semuanya merasakan hak dan kewajiban yang sama.

Masalah-masalah tadi tidak bisa dibiarkan begitu saja karena hal ini menyangkut juga kesejahteraan para driver ojek online. 

Pengurangan jam kerja serta pembatasan jumlah driver pada wilayah tertentu menjadi langkah awal yang bisa ditawarkan.

Pembatasan jumlah pada wilayah tertentu maksudnya adalah ketika dalam satu wilayah tertentu jumlah dari ojek online yang bekerja sudah memenuhi kuota maka akan dialihkan ke wilayah lain yang masih tersedia sehingga persaingan kerja pada wilayah tersebut tidak akan terlalu ketat.

Juga bersamaan dengan pembatasan jumlah, pembatasan jam kerja bisa dilaksanakan karena dengan berkurangnya persaingan maka beban kerja yang harus ditanggung menjadi lebih ringan sehingga akan mengurangi kemungkinan kerja lembur.

Meski relasi kerja mereka dengan perusahaan hanya berupa kemitraan, namun perlu adanya pertimbangan akan perlindungan hukum yang jelas apabila terjadi sesuatu saat bekerja karena akan sangat berisiko.

Alternatif lain yang bisa ditawarkan yakni pembentukan serikat kerja bagi para driver ojek online sehingga mereka bisa saling menopang satu sama lain agar tidak ada satupun dari mereka yang merasa paling diuntungkan maupun paling dirugikan.