Bias gender bukanlah fenomena baru didengar oleh telinga masyarakat. Bias gender telah menjadi anggota tubuh bagi tatanan kehidupan di masyarakat. Malah sudah menjadi benalu kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Sedikit info yang perlu diketahui para pembaca sebelum jauh membahas bias gender adalah perlunya pemahaman kita mengenai definisi gender dan definisi seks itu sendiri. Sebab, kedua aspek tersebut sering disalah-kaprahi oleh publik dan sering dicampuradukkan layaknya adonan.

Seks atau jenis kelamin merupakan aspek dalam diri manusia yang bersifat kodrati. Sedangkan gender merupakan aspek dalam diri manusia yang bersifat konstruktif. Melalui kedua pembeda ini, kita dapat mengetahui mana yang bersifat permanen dan mana yang bersifat relatif.

Seks yang bersifat permanen ini tentu saja jika dipertukarkan merupakan sebuah kemustahilan. Meskipun dengan upaya oprasi sekalipun, tampaknya tidak mungkin mengubah 100% seks seseorang. Sebab, seks bersifat kodrati sejak manusia dilahirkan oleh ibunya.

Sedangkan gender yang bersifat konstruktif tentu saja sangat mungkin untuk dipertukarkan. Seorang laki-laki sangat mungkin berprilaku feminin dan begitupun sebaliknya seorang perempuan sangat mungkin berprilaku maskulin. Sebab, gender tidak terikat oleh jenis kelamin apa pun yang mengurungnya.

Nah, yang membuat gereget di masyarakat adalah seringnya gender yang dianggap bersifat kodrati. Padahal yang bersifat kodrati adalah jenis kelamin atau seks dan gender sangat bersifat konstruktif. Inilah yang saya maksud dicampuraduk layaknya adonan.

Masyarakat menganggap bahwa laki-laki harus maskulin atau perempuan harus feminin dan lain sebagainya. Di titik inilah bias gender muncul. Masyarakat percaya bahwa pada aspek sosial tertentu hanya mampu dikuasai oleh jenis kelamin tertentu saja. Padahal stigma tersebut tidak 100% tepat.

Bagi mereka yang sadar dengan bias gender ini, tentu saja menjadi fenomena yang cukup merugikan. Sebab, bias gender secara tidak langsung telah merugikan pihak tertentu untuk suatu akses tertentu.

Bias gender yang paling sederhana dan sering ditemui adalah kehidupan suami istri. Seorang suami selalu dikontruksi di sektor eksternal seperti bekerja. Sedangkan istri selalui dikonstruksi di sektor internal seperti mengurus rumah.

Perlu diketahui bahwa prilaku sosial suami istri tersebut sangat mungkin dipertukarkan peranannya. Sebab hal tersebut merupakan gender dalam kehidupan keluarga. Sehingga suami sangat mungkin untuk mengurus rumah, sedangkan istri pun sangat mungkin untuk bekerja.

Bias gender tidak hanya hadir dalam kehidupan manusia dewasa saja. Bahkan tanpa disadari di masa kanak-kanak pun kita telah mengalami fenomena bias gender. Amat banyak kehidupan di masa kanak-kanak kita yang selama ini sangat bias gender. Salah satunya yakni dalam permainan anak-anak.

Permainan anak sering ditemui memuat nilai bias gender didalamnnya. Salah satunya yakni alat bermain yang didominasi oleh gender tertentu seperti mainan mobil dan boneka. Mainan mobil sering dimainkan oleh anak laki-laki saja. Sedangkan mainan boneka hanya dimainkan oleh anak perempuan saja.

Jika dua mainan tersebut dipertukarkan, seperti mainan mobil dimainkan anak perempuan dan mainan boneka dimainkan anak laki-laki maka menjadi hal yang tabu bagi masyarakat. Bahkan masyarakat melarang hal tersebut. Terutama pihak keluarga selaku elemen masyarakat yang paling dekat dengan anak akan melarang tindakan tersebut.

Lantas sejak kapan mainan mobil harus dimainkan oleh laki-laki dan mainan boneka dimainkan oleh perempuan? Pertimbangan apa atas prilaku tersebut dilakukan? Kenapa harus ada sekat untuk sebuah mainan?

Malah menurut saya yang ada hanyalah dominasi pihak tertentu pada akses tertentu. Secara tidak langsung anak akan terdidik untuk menguasai akses tertentu dan melarang pihak lain untuk mencoba akses tersebut. Sangat merugikan nampaknya jika prilaku tersebut terjadi.

Selain permainan mobil dan boneka, ada juga permainan lain yang bias gender di masa anak-anak. Permainan tersebut yakni permainan sepak bola dan masak-memasak.  Permainan sepak bola sering ditemui dimainkan oleh anak laki-laki dan permainan masak-memasak dimainkan oleh anak perempuan.

Lagi-lagi bias gender dalam permainan anak-anak. Sering ditemui anak laki-laki sedikit gengsi ketika bermain masak-memasak dan begitu juga sebaliknya anak perempuan sedikit gengsi ketika bermain sepak bola.

Kenyataan ini tidak lain karena anak-anak telah terkontruksi, tertanam dalam benak pikirannya bahwa permainan tertentu hanya boleh dimainkan oleh jenis kelamin tertentu. Pola pikir anak tersebut tidak lain bersumber dari lingkungan mereka yang penuh bias gender.

Contoh sederhananya yakni anak-anak sering melihat tayangan pemain sepak bola yang didominasi oleh laki-laki dan tindakan memasak dilakukan oleh para ibu. Melalui lingkungan sekitar yang seperti ini secara tidak langsung telah menanamkan bias gender dalam pola pikir anak. Lebih membahayakan ketika pola pikir tersebut dibawanya hingga dewasa kelak.

Diluar konteks permainan anak, tentu masih ada lagi aspek dalam kehidupan masa kanak-kanak yang memuat nilai bias gender lainnya. Bias gender di masa kanak-kanak dapat ditemui dalam pemilihan warna dalam atribut anak.

Atribut anak seperti pakaian, alat tulis, alat bermain, dan lain sebagainya memiliki warna tertentu yang telah diatur sedemikian rupa oleh masyarakat. Seorang anak laki-laki biasanya diberi warna-warna gelap dan berani seperti biru, hijau, hitam dan lain-lain. Sedangkan anak perempuan biasanya diberi warna yang lebih soft seperti merah muda, ungu, kuning dan lain-lain.

Prilaku pemberian warna tertentu pada anak ini biasanya ditemui di lingkungan keluarga. Orang tua biasanya memilih warna pada atribut anak yang sesuai dengan kontruksi masyarakat. Sehingga anak laki-laki akan diberi baju berwarna gelap atau anak perempuan diberi baju berwarna soft/terang.

Melalui prilaku orang tua ini juga secara tidak langsung mendidik anak agar menyukai warna-warna yang telah ditentukan orang tuanya. Menjadi suatu ketabuan ketika ada anak laki-laki suka dengan warna merah muda atau anak perempuan menyukai warna hitam. Sebab, prilaku tersebut tidak sesuai dengan kontruksi di masyarakat.

Prilaku memberi warna tertentu pada anak nampaknya menjadi hal yang lucu bagi saya. Bagaimana tidak lucu, seolah-olah warna memiliki jenis kelamin yang mana harus menyesuaikan pemakainya. Sejak kapan warna memiliki jenis kelamin wahai manusia yang budiman?

Setiap individu bebas untuk mengenakan warna apapun. Tidak terikat oleh warna yang telah  dikontruksi oleh masyarakat. Sebab, warna bukan perihal jenis kelamin. Melainkan warna mengenai seni dan kenyamanan pemakainnya.

Melalui beberapa contoh nyata kehidupan anak-anak yang bermuat bias gender tersebut, kita telah sadar bahwa nilai bias gender telah tertanam sejak masa kecil. Anak-anak telah terdidik secara tidak langsung oleh lingkungannya mengenai bias gender.

Sehingga tidak mengherankan ketika telah dewasa ditemui berbagai fenomena bias gender yang lebih kompleks. Sebab, sejak dalam usia muda telah ditanami oleh nilai-nilai yang merugikan seperti bias gender.