Researcher
3 tahun lalu · 296 view · 51 sec baca menit baca · Puisi images_11.jpg
Semesta itulah tanya dan hening

Keheningan Semesta

Aku jatuh dalam keheningan semesta

Menafsirkan diri sendiri

Menafsirkan segala realitas yang pertanyaannya tak terbendung untuk dicari jawabannya

Sebab bukan pertanyaan namanya jika tak mengundang iman dan akal untuk mencari jawabannya

Kecuali memang tak perlu tahu jawabannya

Aku terbaring dalam keheningan semesta

Mencoba membayangkan Tuhan

Meski kutahu apa pun yang kubayangkan bukanlah Dia

Meski juga, bayanganku adalah bagian dari ciptaan-Nya

Aku memejamkan mata dalam keheningan semesta

Benarkah Tuhan bahwa segalanya memang diciptakan untuk mengenal-Mu?

Lalu bagaimana caranya sampai kepada-Mu bila nalar dan iman pun adalah ciptaan-Mu?

Aku masih diam, berbaring, dan terpejam dalam keheningan semesta

Hanya memikirkan Kau saja

Bagaimana nanti perjumpaan kita? Apakah yang kuyakini ini benar atau salah?

Kau imanen sekaligus transenden dalam hati dan pikiranku

Kau jauh tetapi dekat

Kau kuimani tetapi juga tak kukenali

Mengapa Kau selalu hadir dalam paradoks-paradoks yang membingungkan?

Barangkali benar bahwa Kau hadir dalam sifat kebalikan

Aku masih memikirkan-Mu dalam keheningan semesta

Di bawah langit mendung

Di tengah rintik hujan

Aku terbuka

Berharap sukma-Mu berkenan untuk mengisi dalam bentuk yang tak kulihat namun mampu kurasakan

Artikel Terkait