Pemikiran Derrida juga sangat dipengaruhi oleh gaya berpikir Friedrich Nietzsche. Derrida bahkan mengatakan bahwa Nietzsche adalah referensi penting dalam pemikirannya. 

Pengaruh Nietzsche lebih dihubungkan dengan teori kehendak. Nietzsche memulai pemahamannya tentang kehendak dengan analisisnya tentang kebutuhan untuk percaya. Pertanyaan mendasar yang diajukan berkaitan dengan Genealogi bagi Nietzsche adalah “Apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh kehendak?”

Dari sini, Nietzsche berusaha mengkritik segala bentuk pemikiran yang berpretensi mampu menyentuh yang akhir atau bentuk pemikiran yang seolah-olah mencengkeram realitas dalam sebuah konsep yang pasti. Terhadap apa pun yang di-fixed-kan, Nietzsche mendiagnosis simptom ini sebagai sebuah mekanisme penghendakan si pemikir – ada sesuatu yang dikejar oleh si pemikir.

Mekanisme penghendakan mempertontonkan mengapa akhirnya yang satu lebih dikehendaki dan dipercaya daripada yang lain. Dengan demikian, Nietzsche sampai pada suatu penemuan bahwa kepercayaan ternyata membutuhkan sesuatu, yakni kebutuhan untuk percaya.

Kebutuhan untuk percaya lahir dari sebuah upaya penyatuan elemen-elemen yang ada dalam diri manusia. Seorang yang membutuhkan sebuah pegangan dalam hidup adalah orang tidak bisa menyatukan diri. Dengan kata lain, kualitas kehendak dalam diri seseorang memengaruhinya untuk mencari sesuatu di luarnya sebagai pegangan.

Kualitas kehendak yang cacat memperlebar kebutuhan untuk percaya. Contoh adanya kehendak yang cacat seperti ini dilihat Nietzsche dalam simptom maraknya Kristianisme di Eropa. 

Menurut Nietzsche, Kristianisme adalah agama budak, oleh karenanya kaum budaklah yang menjadi lahan subur bertumbuhnya agama itu. Orang percaya pada agama Kristen justru karena agama Kristen mengajarkan suatu pegangan. Suatu pegangan menjadi semakin kuat ketika diajarkan sebagai satu-satunya yang valid.

Kebutuhan untuk percaya, sejatinya ada pada manusia budak dan tuan. Akan tetapi, letak persoalannya hanya pada tingkat kebutuhannya. Kebutuhan untuk percaya juga bisa lahir dalam seorang pribadi yang memiliki ciri demikian, yakni lemah, tidak mampu memerintah diri sendiri, dan bingung. Ketika semua hal demikian menggumuli dirinya, dengan sendirinya ia membutuhkan sandaran, pegangan atau instruksi yang datang dari luar dirinya.

Kehendak, menurut Nietzsche adalah sebuah affek-memerintah, affek-menyatukan diri. Sejauh ia tersatukan, kehendak semacam itu akan memunculkan individu yang berdaulat, yang bisa memimpin dirinya sendiri. Ia tidak membutuhkan perintah dari luar, tidak memerlukan pegangan, topangan, sandaran atau hal lainnya untuk memijakkan kakinya.

Maka, manusia ideal yang dibayangkan Nietzsche adalah roh bebas. Manusia jenis ini berani melepaskan keinginannya akan kepastian. Ia lepas dari semua bentuk kepercayaan apa pun bernama, metafisika, Tuhan, ideologi politik, sains yang dengan angkuh mengklaim tentang adanya kebenaran akhir.

Kebutuhan untuk percaya mendorong seseorang untuk mencari suatu pegangan di luar dirinya. Pegangan ini pelan-pelan dipahami sebagai sesuatu yang valid yang mampu menjelaskan kedalaman dan keluasan dari apa yang dinamakan dengan realitas. Akan tetapi, menurut Nietzsche, kita tidak dapat memberikan finalitas apa pun pada realitas.

Realitas apa adanya adalah sekaligus baik dan jelek, sekaligus tidak baik dan tidak jelek. Kebenaran ultim pada dasarnya dikemukan oleh kaum sains-positivistik. Bagi Nietzsche, sains terlalu gegabah untuk memperlihatkan kebenaran ultim yang tersembunyi di dalam realitas. Sains yang senangnya mengangkangi realitas, memilah dan membelah realitas secara tajam demi sebuah kebenaran akhir dilihat Nietzsche sangat tidak sopan dan tidak tahu diri di depan realitas.

Kritik Nietzsche atas konsep metafisis atau Tuhan hanya memperlihatkan bahwa sejatinya di sana ada idéé fixe. Kebutuhan manusia akan topangan menunjukkan dirinya dalam fiksasi atas sebuah ide. Kebutuhan akan sesuatu yang datang dari luar lahir dari ketidakmampuan seseorang untuk mengutuhkan dirinya.

Nietzsche juga mengkritik para filsuf yang seolah-olah dapat menjelaskan realitas secara sempurna – menempatkan realitas dalam sebuah konsep yang kokoh dipegang. Pluralitas makna realitas, bagi Nietzsche, harus dihormati. Untuk itu kita tidak bisa menglaim bahwa kita dapat menjelaskan semuanya secara sempurna. Penangguhan penetapan idéé fixe adalah bentuk kesalehan seorang Nietzsche.

Usulan Nietzsche tentang cara-cara baru yang tahu batas dan sopan diringkas dengan kata kehendak kuasa. Kehendak kuasa adalah identitas yang bergerak, yang mengandung di dalam dirinya sendiri pluralitas, di mana kesatuan identitas yang muncul selalu bersifat sementara karena ia tunduk pada dinamika-tegangan antarunsur tanpa henti. Ia adalah sesuatu yang belum jadi, yang senantiasa bergelut untuk memunculkan sebuah kehidupan.

Derrida melihat hal yang sama yang melingkupi corak berpikir filsafat Barat. Realitas yang sesungguhnya justru direduksi ke dalam sebuah idéé fixe yang seolah-olah memberi penjelasan yang pasti. Ketika suatu ide atau konsep dianggap sebagai kebenaran valid atau dianggap pasti menjawab berbagai pertanyaan seputar kedalaman realitas, di sana justru terjadi dominasi.

Segala sesuatu akhirnya diasalkan atau diturunkan dari yang satu, yakni Tuhan, causa sui, Roh absolut, dan being,. Dominasi dan kekerasan justru hadir dari klaim kebenaran absolut. Dominasi atas pluralitas yang terfiksasi pada satu titik akan menghentikan proses percabangan, sehingga realitas dan hidup termiskinkan. Dekonstruksi Derrida lahir dari sebuah pemahaman bahwa makna itu selalu tersebar (dissemination).

Kehendak kuasa (the will to power) adalah sebuah proses pembacaan dilakukan berulang-ulang (incessant deciphering). Seperti yang dikatakan Derrida bahwa Nietzsche sejatinya tengah mempersiapkan sebuah kegiatan interpretasi yang aktif yang menggantikan suatu model penafsiran yang tidak terputus atas upaya penyingkapan kebenaran sebagaimana yang tampak dalam sebuah realitas.