Researcher
1 minggu lalu · 65 view · 3 min baca menit baca · Budaya 11661_59908.jpg
Foto: YouTube/Origami Dragon (Jo Nakashima)

Kegembiraan yang Termarjinalkan

Melipat-lipat kertas agar menjadi bentuk tiga dimensi mungkin mewarnai memori kita di bangku taman kanak-kanak. Kalau tidak, sebelum itu bahkan, telah diajarkan di level Paud. 

Ingatan saya di waktu itu, masa prasekolah, yang paling kuat adalah pelajaran origami. Entah kenapa jika mengingat masa-masa itu, waktu manakala ruang belajar tak dibebani daftar kurikulum sampai ketercapaian pembelajaran, begitu menyenangkan.

Menyenangkan karena bangku taman kanak-kanak, apalagi Paud, dipenuhi aktivitas ciamik, salah satunya seni melipat kertas. Saya dulu diajarkan bagaimana kertas berwarna yang sekilas biasa-biasa saja itu ternyata dapat dibentuk menjadi kapal, pesawat, topeng, kuku, dan bentuk tiga dimensi lain. Sekalipun kertas itu rapuh bila diremas alias lekas rusak, tapi kegiatan demikian justru paling terkenang.

Terasa samar-samar kata guru saya waktu itu. Dikatakan kalau seni melipat kertas itu merupakan tradisi orang Jepang. Negara yang dianggap sebagai tempat matahari terbit tersebut bak memberi inspirasi bagi anak kecil di dunia. Origami seakan-akan viral dan ditiru jamak masyarakat internasional sebagai bagian dari aktivitas (seni) melipat kertas.

Seni melipat kertas bahkan telah ditulis ke dalam buku saku yang dijual murah di depan sekolah-sekolah. Buku kecil tersebut tak mendefinisikan secara akademik apa itu origami, tapi cenderung bersifat prosedural. 

Sebagai anak praremaja waktu itu, saya pernah memilikinya karena direkomendasikan guru. Di sana, sejauh ingatan saya, terjelaskan bagaimana kita seharusnya melipat, dengan prosedur pertama sampai akhir. Kita dapat pula meniru cara membuat pesawat tempur dengan cepat.

Baca Juga: Lelaki Origami

Tak sampai sejam, bagaimana cara melipat kertas, khususnya dibantu dengan buku panduan itu, membuat saya girang. Sering kali saya tunjukkan kepada orang tua kalau kertas lipatan saya dapat berbentuk mainan. 

Orang tua tentunya girang bukan main. Selain tak perlu membelikan anaknya mainan plastik atau elektronik yang harganya lumayan, melihat anaknya bisa membuat mainan sendiri dari kertas ternyata dianggap memupuk kreativitas.

Saya selalu senang diapresiasi. Apalagi apresiasi itu diberikan orang terdekat saya. 

Sampai sekarang ini, pada usia yang dianggap masih bergelora ala kawula muda, saya sepakat: kertas, origami, dan kreativitas adalah komponen paling sederhana, tapi berefek luar biasa bagi proses katarsis. Maksud saya, jamak orang mengatakan, terutama para psikolog, kalau kita sedang merasa stres, agar lebih tenang, maka menulis, menggambar, atau melukis merupakan cara menenangkan diri.

Pendapat itu benar seratus persen. Tapi contoh yang dikemukakan orang lengkap. Aktivitas origami, khususnya, juga mampu membuat kita tenang, setidaknya tatkala kita menikmati proses seni melipat itu. 

Kenapa hal demikian bisa terjadi? Secara sederhana, menulis, menggambar, melukis, maupun melipat kertas merupakan bagian dari proses berkesenian. Seni bukan semata-mata menghasilkan sesuatu yang dianggap indah, melainkan juga menikmati proses keindahan itu sendiri. Maka tak mengherankan kalau aktivitas seni itu mampu bermanfaat secara psikis.

Seni melipat kertas juga tak berhenti saat terbentuk sesuai kehendak. Kita juga dapat meneruskannya sampai kertas yang telah dilipat itu memiliki motif visual. 

Mewarnai atau menggambar di kertas origami itu ternyata juga aktivitas menyenangkan lain. Kita bisa melanjutkan kreasi melipat kertas dengan menggambar atau mewarnai di salah satu sudut kertas berbentuk tersebut sesuai imajinasi.

Itu kenapa saya sebut keterampilan seni origami merupakan kombinasi kreativitas tanpa batas. Tak ada batas-batas kecakapan artistik yang pasti. Justru ia begitu cair, sedinamis kita mengkreasikan sesuatu. Apalagi bahan baku origami, yakni kertas itu sendiri, adalah format kreasi yang paling lentur untuk dibentuk maupun diwarnai sesuai selera.

Saya menyebut “selera” untuk menggantikan “kenikmatan” karena proses mengkreatifinya acap kali membebaskan. Kelompok liberal mengatakan kalau kebebasan itu mencair, menyelinap, sampai menyublim ke dalam sudut-sudut ketakterdugaan. Sementara kertas sebagai bagian fundamental dari origami menyediakan itu tanpa syarat.


Sayangnya, keterampilan origami itu dianggap memori kanak-kanak bagi sekolah di Indonesia. Sejauh pengamatan saya dalam kurikulum seni budaya di bangku pendidikan formal, seni melipat kertas itu dikesampingkan, bahkan sengaja disingkirkan oleh hegemoni mata pelajaran teori estetika. Dominasi teori seni ketimbang kreasi praksis begitu timpang. Di sini kita patut mengheningkan cipta sejenak.

Kertas khusus untuk keterampilan origami juga jarang sekali ditemukan. Tapi orang yang masih menggandrunginya tak kehilangan pikiran. Ia memanfaatkan kertas bekas untuk dibentuk manasuka. 

Adik saya yang sekarang sedang mengikuti zonasi sekolah menengah atas memberitahu kalau kertas-kertas tak terpakai—utamanya dari kertas ujian sekolah—telah dikumpulkan. Saya tanya, untuk apa?

Ia menjawab dengan sederhana, kalau kertas-kertas tak terpakai itu akan dibentuk menjadi bintang supaya kelak dapat digantungkan di kamar pribadinya. 

Saya kaget. Ternyata anak milenial masih gemar dan rajin membuat origami. Selain mengisi waktu sebelum masuk sekolah, sebagaimana adik saya, ia akan melakukan kerja kesenian menggunakan kertas-kertas bekas. Tentunya itu karena origami. Ya, origami, keterampilan melipat kertas yang pernah saya lakukan sejak taman kanak-kanak itu.

Artikel Terkait