Pole Dancing atau tari tiang adalah tarian yang sering ditampilkan dalam film Barat yang diperkenalkan sejak 1986. Pole Dance merupakan gerakan tarian yang meliukkan tubuh di antara tiang dengan mengangkat tubuh dan menempuhkan tangan pada tiang. Tarian ini biasanya dilakukan oleh para wanita dan memakai pakaian terbuka dan seksi. 

Arab Saudi merupakan tanah suci bagi pemeluk agama Islam. Arab Saudi merupakan negara teokrasi Islam, sehingga segala peraturan maupun adat harus sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini dapat diartikan bahwa segala sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Allah akan dianggap sebagai hal tabu dan membuahkan dosa.

Dalam CNNIndonesia.com, masyarakat Arab Saudi menentang Pole Dancing, karena dianggap sebagai tarian yang tidak pantas dan merupakan sebuah kesalahan. Mereka menilai bahwa tarian ini berhubungan dengan klub yang menampilkan tarian erotis seperti yang ditayangkan pada film Hollywood. Tapi hal ini tidak menutup kemungkinan untuk membuat kaum hawa menjadi tertarik dengan tarian ini.

Nada merupakan salah seorang wanita Arab Saudi berusia 28 tahun yang tertarik mempelajari tarian ini. Dia seorang instruktur yoga yang mengambil kelas kursus Pole Dancing. Awalnya dia tidak mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman – temannya dan kerap mendapatkan ejekan. 

Akan tetapi hal tersebut tidak membuatnya putus asa dan berhenti, melainkan semakin bersemangat mempelajari tarian ini dan menghilangkan stigma tersebut. Lambat laun Nada membuat kemajuan dalam lingkaran pertemanannya, teman – temannya yang dulu pernah mengejeknya sekarang merasa tertarik dan ingin mencobanya.

Selain Nada, ada juga seorang peserta kursus Pole Dancing di Riyadh yang mengakui bahwa dirinya “tidak malu sama sekali” untuk mencoba tarian ini. Menurutnya ini adalah kepribadiannya dan tidak malu untuk merangkul sensualitas dan feminitasnya selama tidak menyakiti orang lain. 

Kegemaran tari ini diakui oleh pengelola gym di Arab Saudi yang membuka kursus Pole Dancing di tiga tempat gym, salah satunya yaitu gym milik May al-Youssef.

Martin Heidegger dengan Authenticity

Setiap manusia memiliki kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Martin Heidegger dalam teorinya. Martin Heidegger merupakah salah satu tokoh eksistensialisme yang lahir pada 26 September 1889 di Messkirch, Jerman. Anak tunggal dari pasangan Friedrich dan Johanna. Heidegger meninggal pada 26 Mei 1976.

Eksistensialisme Heidegger tentang eksistensi manusia. Dia menemukan bahwa makna “Ada” (Sein) merupakah sesuatu yang mengada “di situ” (Da) yang disebut Dasein. Filsafat Heidegger disebut Ontologi Fundamental yang berarti ilmu dasar tentang makna “Ada”. 

Dalam menemukan setiap makna dari gejala tersebut dalam manusia, Heidegger membuat metode Fenomenologi Hermeneutik yang berarti suatu metode yang digunakan untuk mengungkap makna tersembunyi dari mengadanya manusia.

Heidegger memiliki beberapa tema mengenai eksistensi manusia. Eksistensi sebagai Milik Pribadi dan Berada dalam Waktu yang berarti apa pun yang Dasein dinyatakan dalam pengalaman sendiri. Ada-Dalam-Dunia adalah mengadanya manusia tidak dapat lepas dari dunia. 

Das Man menggambarkan manusia yang awalnya terperangkap dalam eksistensi anonim dan tidak otentik, sehingga menghilangkan keunikannya. Suasana Hati yang memberikan karakter serta melupakan makna “Adanya” dan Faktisitas yang menggambarkan manusia sudah terlempar dengan tanpa bisa memilih. 

Kecemasan dan Ketiadaan merupakan ancaman ketiadaan dari objek yang “tidak-ada” (nichten). Kematian adalah cara membuat manusia  menjadi sadar untuk menuju eksistensi otentik. 

Keprihatinan yang menjadi struktur fundamental manusia (Dasein) dan Temporalitas berupa waktu di masa depan yang menggerakkan eksistensi manusia, masa lalu, dan rutinitas keseharian. Historisitas berarti manusia berusaha keluar dari kejatuhannya untuk memilih sendiri langkah kedepannya. 

Authenticity yaitu keotentikannya sendiri. Menurut Heidegger, Authenticity merupakan cara kita untuk bisa lebih menjadi diri kita yang sebenarnya. Menjadi sosok yang otentik akan menjadikan kita unik dan segala yang kita lakukan merupakan pergerakan dari hati nurani kita. 

Manusia akan lebih bersedia untuk mendengarkan panggilan hati nuraninya sendiri tanpa peduli omongan orang lain. Hati nurani bukan dalam diri mengenai perilaku moral yang benar atau salah, melainkan panggilan sejati suara kepribadian yang ada di dalam diri manusia tentang apa yang sungguh – sungguh kita inginkan. Segala tindakan yang akan dilakukan ini harus konsisten dengan hati nurani dari waktu ke waktu.

Pole Dancing Diantara Mayoritas Sebagai Keotentikan

Sesuai dengan teori Faktisitas, setiap manusia memang tidak bisa memilih sendiri ingin dilahirkan di mana, dalam keluarga yang bagaimana, dan memiliki agama apa. Tetapi kita memiliki kebebasan dalam menentukan hidup kita sendiri. 

Dalam hidup ini setiap manusia bebas dalam melakukan apa saja dan dalam mengambil keputusan apa saja. Akan lebih berarti lagi jika apa yang akan kita putuskan itu sesuai dengan kata hati kita, menggunakan hati nurani untuk menemukan sesuatu yang disukai bukanlah sebuah kesalah, melainkan kita menjadi Authentic diantara yang lainnya.

Seperti yang dikatakan oleh seorang wanita Arab tersebut bahwa dia tidak malu untuk mempelajari Pole Dancing asalkan itu tidak melukai orang lain, dalam teori Authencity milik Heidegger ini dapat dikaitkan dengan dirinya yang sudah sadar akan panggilan hati nuraninya untuk melakukan hobi yang dia sukai. 

Dia berlatih tarian ini tanpa memikirkan apakah ini akan bertentangan dengan moral yang ada dalam lingkungan sekitarnya atau tidak. Sama halnya dengan Nada yang menerapkan teori Authenticity dengan sungguh – sungguh menggeluti tarian ini meskipun pada awalnya dia mendapatkan banyak pertentangan, tetapi dia sudah siap dengan semua risikonya dan tanpa menyerah terus berkonsistensi untuk berlatih tarian ini.

Kesimpulan

Pole Dancing atau tarian tiang mayoritas mengalami kontra pada masyarakat Arab Saudi. Tarian ini dianggap sebagai hal yang tidak pantas karena bertentangan dengan ajaran Islam. 

Stigma ini muncul karena pada film Barat sering terdapat para penari Pole Dance yang menari di dalam bar dengan pakaian yang terbuka dan seksi. Meskipun begitu, ini tidak menutup kemungkinan untuk menumbuhkan minat seseorang terhadap tarian ini.

Terdapat dua wanita Arab yang mau mempelajari tarian ini dan mereka merasa senang bisa mempelajarinya. Peristiwa ini dapat dikaitkan dengan Authenticity dari Martin Heidegger. 

Suara hati nurani bukan berbicara mengenai moral yang benar atau salah, melainkan apa yang sungguh – sungguh ingin dilakukan. Kedua wanita ini mengikuti apa kata hati nuraninya. Dari situlah akan menjadi keotentikan diri dari seseorang.

Mengikuti hati nurani bukan berarti kesalahan, melainkan cara untuk menjadi otentik, karena keotentikan harus dimiliki setiap orang. Ini akan membedakan kita dengan yang lainnya. Berbeda juga bukan berarti hal yang buruk, melainkan cara untuk mencari tahu hal – hal yang benar – benar diinginkan secara perlahan dari waktu ke waktu.