Penyuka Sastra
1 bulan lalu · 42 view · 4 menit baca · Cerpen 19595_27113.jpg

Kegelisahan Rustam

Rustam bersandar di palanta kedai pinggir sawah. Rokok yang ia beli tadi dua batang baru setengah ia hisap. Matanya masih memandang mesin pemotong padi yang sudah selesai bekerja, tak jauh di sebelah kedai.

Sedangkan pekerjaannya sebagai tukang angkut karung yang berisi padi sudah pula selesai. Ia tak lelah, tapi pikirannya terkuras memikirkan mesin pemotong padi itu.

Karena kehadiran mesin pemotong padi itulah, uang yang didapat Rustam jadi tak seberapa. Biasanya bila musim panen, mulai dari menyabit, mengangkut karung berisi padi, sampai mengipas, Rustam bersama kawan-kawan yang mengerjakan--penghasilannya lumayan untuk biaya hidup tiga hari.

Namun, karena mesin pemotong padi itu, otomatis hanya tenaga mengangkut karung berisi padi saja yang dibutuhkan. Itu pun hanya sawah Pak Majid.

Mesin pemotong padi itu baru diperkenalkan kemarin. Bahkan, Rustam sendiri baru hari ini melihatnya untuk pertama kali. “Untuk panen besok, sawah pakai mesin pemotong padi,” demikian kata kepala kampung.  

Rustam mengetahui kemudian, mesin pemotong padi itu milik Pak Adi, orang kaya yang terkenal pelit.

Segera berkelabat di pikiran Rustam janji kepada kedua adiknya, Alif dan Hanif. Alif kelas III SD, sedangkan Hanif kelas II. Habis musim panen, Rustam berjanji membelikan kakak-beradik itu baju koko untuk pergi mengaji. Tersebab, kata kedua kakak-beradik, hanya mereka yang tidak memakai baju koko pergi mengaji. Kawan-kawan mereka yang lain minimal punya satu baju koko. Sedangkan mereka, dari hari ke hari, memakai baju kaos saja. Itu pun bajunya tak bagus. Kemarin janji itu masih diingatkan mereka kepada Rustam.

Namun, kini janji itu terasa berat. Bahkan, boleh dikatakan tinggal janji.

Rustam termenung, rokok ia hisap asal-asalan. Ada dua orang ngobrol di palanta lain, tapi ia tak berminat ikut.

Bila tak sedang musim panen, Rustam biasanya bekerja di ladang bersama ayah angkatnya--ayah dari Alif dan Hanif.

***

Jauh sebelum Rustam kerja di ladang, ia adalah laki-laki yang ayahnya bercerai. Masih pekat di ingatan Rustam, Ayah dan Ibu sore itu bertengkar hebat karena lebih dari sebulan Ayah tidak memberi uang belanja untuk Ibu. Alasan Ayah, bagan tidak dapat ikan. Nyatanya cuaca tidak sedang badai atau hujan, atau keduanya. Tidak pula sedang terang bulan.

Rustam mendengar pertengkaran itu dari dapur dengan gigi gemeretak. Ingin ia ikut campur dan mengatakan kepada Ayah, bahwa betapa susahnya Ibu selama ini hidup berhemat. Begitu bertubi-tubi makian Ayah kepada Ibu, membuat Rustam ingin menyumbat telinganya. Hati Rustam menjerit. Tapi akhirnya ia maklum juga. Ia sudah lama tahu jika ayahnya suka main judi di Muara.

Toh, sebelumnya pertengkaran sering juga terjadi di rumahnya.

Ayah menampar Ibu dan mengeluarkan kata talak. Sesudahnya Ayah masuk kamar, keluar membawa tas berisi pakaian, pergi meninggalkan rumah.

Ibu hanyalah penjual sayur-mayur di pasar.

Rustam membantu Ibu dalam membeli sayur-mayur ke rumah-rumah penduduk yang ia lakukan sebelum berangkat sekolah. Mengantarkan Ibu ke pasar dengan sebuah sepeda motor Supra-X butut.

Kadang tulang-belulang Rustam menjadi ngilu melihat Ibu pulang dari pasar dengan karung sayur yang masih berisi. Habis saja sayur-mayur itu dapat uang tak seberapa, apalagi berlebih. Tentu akan membusuk.

Selain membantu Ibu, Rustam juga bekerja sebagai tukang amplas di sebuah usaha perabotan sepulang sekolah. Penghasilannya tak besar. Dan tak rutin pula setiap hari. Tersebab pemilik perabotnya yang pemberang dan banyak mengatur. Tapi pekerjaan mengaplas sudah bisa membuat Ibu menabung. Karena biaya beras dan lauk-pauk sering Rustam yang beli.

Sampai pada akhirnya Ibu Rustam menikah dengan Isap ketika Rustam sudah lulus SMA.

Dengan Isap, Ibu Rustam kemudian beranak, Alif dan Hanif. Dulu, awal nikah dengan Ibu, Isap bekerja sebagai pengumpul barang bekas. Setelah beranak, ayah angkat Rustam itu memilih kerja sebagai peladang. Dan mengajak Rustam bersamanya bekerja di ladang.

***

Azan ashar sudah lama berlalu. Sore membungkus dusun di kaki bukit itu dengan kelengangan. Sore mulai pula membungkus pikiran Rustam dengan kegelisahan. Ia buang puntung rokoknya. Tak berminat ia menyambungnya.

Di kedai tinggal Anan, pemilik kedai, dan dirinya. Rustam ingin segera pulang. Semakin lengang rasa dirinya, di antara burung-burung yang terbang dan berkicau. Ia tahan emosinya melihat mesin pemotong padi itu. Ingin rasanya ia melempari mesin pemotong padi itu dengan batu besar. Biar rusak. Biar tidak bisa jalan lagi.

Ia bayar rokoknya. Lalu pergi keluar kedai. Langkahnya gontai di jalan menuju rumah. Pikirannya kembali kepada janjinya kepada kedua adiknya. Membayangkan kedua adiknya tertawa dan melompat menerima baju koko darinya yang ia janjikan beli di Pasar Minggu, Air Haji, keceriaan wajah Rustam seketika timbul. Tapi keceriaan itu seketika pula hilang karena tak sampai Rp 40 ribu uang di kantongnya. Itu pun sudah dipakai buat bayar kopi tadi siang, dan rokok.

Tiba di rumah, Rustam duduk di kursi teras. Ia bakar sebatang rokok sisa di kedai tadi. Sesekali wajahnya mengiba. Tak terlihat Ibu keluar. Biasanya kalau ia baru pulang ke rumah, Ibu selalu keluar rumah. Mungkin masih di pasar, batin Rustam. Demikian juga Ayah, mungkin masih di ladang.

Kedua adik Rustam terlihat berlari-lari kecil di pekarangan, setelah membuka pagar bambu, menuju teras rumah. Baru pulang dari mengaji.

“Uda Rustam... Uda Rustam, sudah pulang,” kata Alif begitu riang. Sementara Hanif tertawa kecil dan melonjak-lonjak. Di punggung masing-masing mereka tersandang tas yang sudah pudar. Baju mereka baju kaos biasa. Berpeci.

Rustam tersenyum memandang kedua adiknya itu. Ketika Rustam mau berdiri, hendak ke sumur membasuh muka, seketika Alif dan Hanif berkata serentak: “Besok Uda Rustam membelikan kita baju koko. Mulai besok kita pergi mengaji pakai baju koko!”