Tulisan viral Rizal Mallarangeng di Qureta membuat saya ingin membela yang benar, bukan membela Rocky maupun Rizal. Keduanya, menurut saya, merupakan orang-orang cerdas dan hebat. Sayangnya kritik Rizal Mallarangeng atas Rocky berbau tendesius.

Di awal tulisannya, Rizal menganalogikan Rocky sebagai sosok kembangan. Memiliki daya tarik luar biasa dan panggung yang luas pula, itulah Rocky Gerung menurut Rizal Mallarangeng. 

Rizal dalam hal ini sangat benar. Semua pembaca artikelnya pasti setuju dengan pernyataan tersebut. Namun perlahan Rizal mulai menampakkan kegelisahan sekaligus serangan verbal pada Rocky Gerung.

Rizal mempersoalkan Rocky yang belum mengkritisi Prabowo dan sebaliknya selalu melakukan kritik pedas pada Jokowi. Menurut Rizal, hal itu tak baik untuk akal sehat.

Begitulah poin utama tulisan Rizal Mallarangeng, selain satirenya terhadap pandangan Prabowo.

Atas dasar itu, saya ingin mengajak kita semua menggunakan akal sehat pula. Sebenarnya Rizal mengkritik Rocky atau mengkritik dirinya sendiri? Logika Rizal juga dibekali gelisah atas kegagalan tim Jokowi menghadapi retorika Rocky.

Dalam beberapa kesempatan, Rocky selalu bilang ngapain kritik yang belum menjabat. Jokowi dalam kapasitasnya sebagai capres, begitu pula Prabowo sebenarnya pernah dikritik Rocky.

Jadi salah bila dikatakan Rocky tidak pernah kritik Prabowo. Ia pernah kritik Prabowo sekaligus Jokowi selepas debat pertama capres. Klaim Rizal sampai ini sudah salah.

Soal pernyataan Rocky yang kritisi Prabowo dilantik merupakan bukti bahwa ia bukan sebagaimana yang dituduhkan Rizal. Penggiringan gaya Rizal rasional, mudah dibenarkan oleh mereka yang kurang mengasah akal sehatnya. 

Bahkan jika Rocky dianggap aneh karena hanya mengkritisi Jokowi, tentu Rizal lebih aneh lagi karena mengkritisi Prabowo dan Rocky yang bukan pejabat publik. Sementara terhadap Jokowi, ia pun tak pernah mengkritisi sedahsyat ia kritisi Rocky.

Tampak sekali Rizal gelisah dengan retorika Rocky yang belum mampu ditandingi Rizal dan kawan-kawan. Bahkan di media, Rizal lebih memilih Rocky merespons dengan tulisan. Mengapa? Rizal tak sebagus tulisan-tulisannya.

Melalui tulisan, Rizal cukup mendapat perhatian. Minimal netizen yang nongkrong di Qureta dan media sosial. Serangan Rizal atas Rocky harusnya merupakan tradisi intelektual, sayangnya Rizal tak membantah ucapan-ucapan kritis Rocky.

Rizal malah menyerang pilihan Rocky, bukan beradu argumen atas ucapan-ucapan Gerung. Rizal mencoba menghakimi Rocky atas sikapnya. Di sini saya melihat emosional Rizal sampai pada puncaknya sekaligus putus asa.

Begitu banyak kritik Rocky yang bisa dibantah Rizal. Sayang, Rizal tak mampu melakukannya. Kegelisahannya dilampiaskan dengan mencomot sebuah pernyataan soal mengapa Rocky tidak mengkritisi Prabowo.

Bagi saya, kegelisahan Rizal wajar. Rocky bukan kader parpol, bukan tim pemenangan, namun ucapan-ucapan membahayakan elektabilitas jagoan Rizal. Jalan tendesius pun ditempuh Rizal. 

Sejauh ini banyak pembaca yang setuju dengannya. Rizal sukses menanamkan pohon keharusan Rocky kritisi Prabowo. 

Jika Rocky tidak melakukan dalam dua bulan ini, maka pernyataan Rizal akan dibenarkan. Rizal harusnya sabar menanti pergantian Presiden. Kalaupun tidak terjadi, buat apa Gerung kritisi Prabowo?

Rizal barangkali pura-pura lupa bahwa Prabowo dikritik apa berpengaruh bagi kebijakan negara? Sedangkan Presiden dikritik tidak memengaruhi kebijakan. Barangkali Rizal gelisah soal elektabilitas.

Padahal tugas intelektual berakal sehat adalah mengkritisi pemerintah. Dalam hal ini ,jangan memahami kritik sebagai protes. Kritik dalam hal ini adalah nasihat yang tidak senang kita terima. 

Rocky tidak pernah mengkritisi Jokowi sebagai individu, akan tetapi sebagai kepala negara. Saya ingin jungkir balik ketika Rizal mengkritisi visi Prabowo. Sebagai penganut liberalisme, Rizal telah gagal.

Rizal gagal memahami konsep-konsep berdemokrasi yang dilakukan Rocky. Ia gagal pula memahami substansi visi yang disampaikan Prabowo. Namun Rizal sukses membentuk fiksi oposisi menurut pandangannya. 

Rizal mencoba menawarkan bagaimana seorang berakal sehat berargumen. Tidak pilih lawan maupun kawan politik, tapi faktanya Rizal tidak pernah melakukan hal itu pada pemerintahan SBY maupun Jokowi. 

Teori yang ditawarkan Rizal paradoks dengan sikapnya selama ini. Ia mencoba mengajari Rocky, namun ia sendiri tidak pernah melakukan itu. Setidaknya Rocky lebih berani menyodorkan akal sehat beserta praktiknya.

Sementara, Rizal lebih berperan sebagai juru bicara kegelisahan tim Jokowi. Rizal harusnya mengatakan hal yang sama pada intelektual lain yang hanya menyerang Prabowo. Dalil ini semakin menambah keyakinan kita bahwa Rizal benar-benar gelisah.

Rizal begitu berharap Rocky setuju dengan dirinya. Mengkritisi Prabowo soal ide dan gagasannya yang dianggap Rizal sudah usang. Jika telah lama ditinggalkan, mengapa Indonesia tidak maju pula? Pertanyaan ini harusnya dijawab pula oleh Rizal.

Rizal harusnya membaca kembali apa yang dikatakan Chomsky soal diksi globalisasi, pasar bebas, dan hal-hal yang diagungkan Rizal ketika ia menolak ide Prabowo. Ketika harapan bertentangan dengan kenyataan, saat itulah muncul beragam rasa termasuk gelisah. Rizal mengalami itu. Ia berharap Rocky mengkritisi siapa pun, termasuk ide dan gagasan Prabowo yang nasionalis. 

Ke depan, kita berharap Rizal berani mengkritisi Jokowi bukan hanya Prabowo. Dan Rizal bisa kembali tenang dan tidak cemas dengan buah pikir Rocky yang lebih bisa diterima semua kalangan terdidik.