2 tahun lalu · 74 view · 4 min baca menit baca · Lingkungan gunung_sinabung.jpg
https://www.google.com

Kegelapan Dibalik Sinabung

Gunung sinabung mempunyai ketinggian 2.460 meter diatas permukaan air laut. Gunung ini berada di dataran tinggi Karo dan menjadi icon Tanah Karo. Di sekitar lereng gunung ini masyarakat karo banyak menggantungkan hidup dengan bertani dan menghasilkan hasil yang sangat baik sehingga Tanah karo dulu terkenal dengan hasil pertanian dan budaya masyarakatnya yang ramah.

Keadaan itu berubah total 1800 bermula ketika gunung ini meletus mengeluarkan asap dan abu vulkanis pada 27 agustus 2010. Sempat berhenti sejenak dan kembali meletus Tahun 2013-sekarang. Senyuman yang dulu berubah menjadi deruan tangisan, ketakutan, dan kegelisahan yang selalu menghantui pikiran masyarakat sekitar. Kebiasan mereka mulai berubah dan menghabiskan waktu di lokasi pengungsian yang seadanya. Tidak hanya pikiran yang semakin kacau karena memikirkan masa depan anak mereka, kesehatan mereka juga terancam akibat debu vulkanis, dan penyakit yang cepat menular di lokasi pengungsian.

Anak-anak pun mengalami perubahan mental dan kebiasaan. Mereka tidak mendapatkan keceriaan seperti anak-anak beruntung lainnya. Masa pendidikan mereka pun akhirnya terganggu dan harus beradaptasi lagi dengan lingkungan dan sekolah yang baru. Lokasi pengungsian juga mempengaruhi cara belajar mereka karena kesibukan yang sangat padat di lokasi pengungsian. Penderitaan mereka juga tidak kunjung berhenti dari tahun ke tahun, dan sudah banyak air mata yang mengalir dari wajah mereka.

Pada minggu terakhir Januari 2014 kondisi Gunung Sinabung mulai stabil dan direncanakan pengungsi yang berasal dari luar radius bahaya (5 km) dapat dipulangkan (https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Sinabung).  Berdasarkan pemberitaan di web resmi kabupaten karo, letusan disertai awan panas yang terjadi pada 1 Februari 2014 pukul 10:30 WIB telah mengakibatkan timbulnya 17 korban jiwa: 14 korban yang meninggal dunia ditemukan di lokasi berjarak 3 km dari puncak G. Sinabung (di wilayah Desa Sukameriah), sedangkan 3 orang yang sebelumnya mengalami luka bakar telah meninggal dunia di rumah sakit, saat itu sedang berada di dalam Desa Sukameriah yang berjarak 4 km dari puncak.

pada Sabtu 21 Mei 2016 pukul 16.48 WIB Terjadinya korban jiwa sebanyak 7 orang meninggal dunia (5 meninggal ditempat, 2 meninggal di RS Haji Adam Malik-Medan) dan 2 orang korban luka bakar akibat Awan Panas Guguran (APG) Gunung Sinabung. Kejadian ini menambah luka yang dalam bagi pengungsi Sinabung akibat dari informasi yang kurang akurat yang mereka peroleh. Bukan hendak melanggar aturan, namun karena kejelasan mereka di lokasi pengungsian yang tidak kunjung jelas dan tuntutan hidup yang semakin banyak memberanikan mereka kembali ke ladang mereka untuk mengambil apa yang bisa di ambil untuk meringankan kondisi mereka.

Di lokasi pengungsian juaga penderiataan itu terus menghantui dan membayangi mereka, Mereka sering sekali kekurangan bahan pangan, obat-obatan dan perlengkapan mandi. Hal ini membuat kesehatan mereka di lokasi pengungsian semakin terganggu. Terkhusus untuk anak balita dan lanjut usia kerap sekali terserang penyakit sehingga korban jiwa pun akhirnya berjatuhan di lokasi pengungsian. Kehikmatan akan acara Budaya untuk prosesi pemakaman untuk orang meninggal pun akhirnya tidak bisa mereka rasakan lagi dengan hikmat segabai akibat dari penderitaan yang sangat berat.

Kehidupan sosial dan budaya yang dulu mereka lakukan dengan hati dan perasaan yang gembira menunjukkan keramahan dan penghargaan akan leluhur pun akhirnya tergerus oleh penderitaan yang mereka alami berkepanjangan. Mereka sudah terbatas untuk mengunjungi sanak saudara mereka yang melakukan pesta budaya seperti: Kerja Tahun, Acara Pernikahan, Acara Duka Cita, dan Acara-acara Adat lainnya. Semua tentang masa lalu mereka yang tentram dan indah dirampas oleh kegelapan yang kunjung tidak berhenti.

Sudah banyak orang, kelompok, organisasi hingga partai politik yang memberikan bantuan ke pengungsi sinabung. Namun semua itu hanya bisa bertahan dan menghibur sesaat. Masih sedikit kelompok yang benar-benar mengabdikan diri mereka untuk waktu yang lama dalam memulihkan kehidupan para pengungsi. Bahkan penderitaan itu di perparah menjelang pemilu 2014 kemarin, pengungsi sinabung menjadi sasaran empuk politik kotor para elite politik.

Upaya pemerintah dalam mengatasi permasalahan sinabung belum menjawab akar permasalah pengungsi. Upaya tersebut juga sering sekali disusupi oleh kepentingan kelompok tertentu sehingga menimbulkan gejolak dan penderitaan yang baru bagi pengunsi. Hingga relokasi mandiri untuk pengungsi sinabung pun akhirnya berujung nyawa karena kepentingan kelompok tertentu yang mengambil keuntungan diatas penderitaan orang lain.

Kegelapan ini membuat pengungsi sinabung tidak dapat lagi merasakan arti kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan seperti masyarakat lainnya. Mereka selalu dibayangi oleh letusan gunung dan awan panas yang mengejar-ngejar mereka sampai ke mimpi mereka. Mereka mulai bangkit dengan kembali bertani, namun abu vulkanis kembali merusak dan mengagalkan panen mereka. Tuntutan kehidupan semakin keras namun mereka masih terlalu lemah untuk bangkit dari kegelapan.

Teriak minta pertolongan sudah lama bergema dari kegelapan. Mengharapkan setitik cahaya yang bisa memberi perubahan untuk hidup yang lebih layak. Mengetuk setiap hati yang bersungguh-sungguh mengabdikan diri untuk nembawa mereka keluar dari ketakutan dan keterpurukan yang sudah lama merengut jiwa mereka.

Keseriusan setiap elemen masyarakat dan pemerintah dipertaruhkan untuk mengembalikan senyuman mereka yang sudah lama hilang. Senyuman yang kurang lebih 3 Tahun tidak pernah lagi muncul di muka mereka. Perhatian, kasih dan Doa yang tulus menjadi dasar untuk bertindak guna mengembalikan jiwa mereka kembali.

Meletakkan setiap kepentingan pribadi dan melaksanakan kebijakan-kebijakan yang mempercepat Relokasi para pengungsi dengan mempertimbangkan keinginan dan pendapat para pengungsi. Agar terciptanya kembali kehidupan masyarakat Karo yang makmur dan sejahtera berbasis pembangunan pertanian dan pariwisata yang berwawasan lingkungan. #LombaEsaiKemanusiaan

Artikel Terkait