Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022 menempatkan sektor Pariwisata sebagai sektor utama atau leading sektor dalam pembangunan di Lembata. Tidak hanya itu dalam periode pembangunan 5 tahun sebelumnya yakni dari tahun 2011-2016, pariwisata juga telah menjadi leading sektor pembangunan di Lembata.

Pariwisata sebagai leading sektor memiliki arah kebijakan pembangunan yang terbagi menjadi 3 wilayah pengembangan (TRIANGLE LINE) atau disebut juga dengan kawasan strategis pariwisata (KSP). KSP ini terdiri dari KSP 1 dengan titik rencana strategis “Volcano Batutara”, KSP 2 dengan titik rencana strategis “Whale Catching” serta KSP 3 dengan titik rencana strategis “Travel Fishing”

Dengan menjadikan pariwisata sebagai leading sektor maka anggaran daerah banyak yang dipusatkan untuk pembangunan di sektor pariwisata. Hal ini dapat dilihat dari alokasi anggaran dari Pemerintah Daerah Lembata yang mengalokasikan dana untuk pembangunan dan promosi wisata sebesar Rp 15 miliar dimana sumber dana tersebut salah satunya bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) yakni sebesar Rp 1,5 miliar (Kontan.co.id, 2018).

Dengan jumlah dana tersebut, serangkaian program berbasis pariwisata dilaksanakan untuk mendukung pariwisata dalam rangka sebagai leading sektor pembangunan di Lembata. Dalam kurun waktu antara 2011-2021 setidaknya ada beberapa program strategis dilaksanakan pemerintah Kabupaten Lembata dalam bidang pariwisata. Salah satu program yang terkenal untuk mendukung pariwisata Lembata yaitu festival tiga gunung. Dimana dengan festival ini diharapkan  mampu meningkatkan kualitas pariwisata dan menghadirkan lebih banyak wisatawan ke Lembata.

Selain itu pembangunan di bidang pariwisata juga dilakukan dalam rangka untuk menunjang pembangunan di sektor pariwisata. Salah satunya adalah Pembangunan Jembatan Titian (Jeti) Apung dan Kolam Renang beserta fasilitas lain di pulau siput Awololong. Berdasarkan Balle News (2019), besar dana untuk pembangunan ini adalah Rp 9.832.720.000,00 dimana dana ini bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU).

Pertanyaannya apakah dengan alokasi dana yang sangat besar itu telah mendorong pariwisata membawa kemajuan di Lembata?

Sebagai leading sektor pembangunan, pariwisata seharusnya mampu memacu dan mengangkat sektor pembagunan lain seperti perdagangan, pertanian dan sektor jasa (Arsyad, 1999). Tetapi sebaliknya dalam hal ini sektor pariwisata di Lembata gagal mewujudkan misi tersebut dimana pariwisata Lembata belum memberikan kontribusi positif baik dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lembata maupun pendapatan masyarakat secara umum. Padahal berbagai program telah dilaksanakan untuk meningkatkan jumlah wisatawan dalam kurun waktu 10 tahun.

Hal senada juga disampaikan oleh Komisi III DPRD Lembata dalam Laporan Terhadap Pembahasan KUA-PPAS APBD 2020 dimana Sektor Pariwisata belum memberikan kontribusi positif terhadap PAD. Selain itu sebagai leading sektor pariwisata belum menunjukan dampak positif terhadap penurunan angka penduduk miskin di Lembata. Berdasarkan Data BPS 2021, jumlah penduduk miskin di Lembata justru meningkat dalam kurun waktu dari tahun 2016 sampai 2020 yaitu meningkat dari 35,18 ribu jiwa menjadi 37,92 ribu jiwa.

Dalam hal ini pariwisata gagal sebagai laeading sektor pembangunan di Lembata. Pariwisata bukan jawaban untuk meningkatkan kemajuan atau kesejahtraan di Lembata. Mayoritas penduduk di Lembata adalah Petani dan Nelayan. Keberhasilan di sektor pariwisata belum tentu meningkatkan kesejahtraan masyarakat yang secara umum bekerja sebagai petani dan nelayan. Kalau pun pembangunan dari sektor pariwisata meningkatkan pendapatan asli daerah, itu bukan berarti memberikan dampak peningkatan pendapatan masyarakat. Hal ini karena pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata hanya semata-mata menjadi pendapatan daerah dan tidak terserap secara langsung sebagai pendapatan masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani dan nelayan.

Langkah yang harus diambil adalah menjadikan pertanian sebagai sektor terdepan atau leading sektor dalam pembangunan di Lembata. Selain karena Mayoritas penduduk Lembata adalah Petani, kontribusi sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Lembata (BPS, 2019). Dengan menjadikan Pertanian sebagai leading sektor maka keterlibatan petani dalam sektor pembangunan sangat besar dan akan berdampak positif terhadap pendapatan masyarakat dimana pendapatan dari sektor pertanian dirasakan (terserap) secara langsung oleh masyarakat (petani).

Peningkatan pendapatan masyarakat melalui sektor pertanian adalah langkah yang tidak sulit dilakukan. Yang menjadi permasalahan pertanian di Lembata saat ini adalah bukan pada kuantitas penduduk yang menjadi petani juga bukan pada kurangnya hasil pertanian tetapi bagaimana meningkatkan nilai jual hasil pertanian dengan menyiapkan pasar yang tepat untuk menjual hasil pertanian. Artinya hasil pertanian harus diimbangi dengan nilai jual hasil pertanian yang sesuai sehingga memberikan dampak yang positif terhadap pendapatan masyarakat.

Sampai dengan saat ini harga atau nilai jual hasil pertanian belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah . Sampai dengan saat ini pemerintah belum menyiapkan pasar yang tepat. Pasar yang tepat artinya pasar yang diciptakan dengan tujuan untuk mencapai daya dukung antara nilai jual dengan hasil pertanian.

Contoh konkret belum adanya pasar yang tepat adalah harga jual jagung saat ini yang masih pada kisaran 3 ribu sampai 5 ribu per kilogram. Harga jual ini sejatinya memberikan gambaran tentang ketidakkeseriusan dan keberpihakan pemerintah daerah Lembata di bidang pertanian. Harga jual ini akan berdampak pada pendapatan masyarakat yang tidak naik tetapi stagnan sehingga kesejahtraan masyarakat sulit tercapai.

Oleh karena itu, ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk meningkatan nilai jual hasil pertanian yaitu dapat dilakukan dengan meneken peraturan daerah tentang nilai jual hasil pertanian. Selanjutnya dapat dilakukan dengan mendorong pengunaan hasil pertanian di beberapa sektor lain seperti peternakan dan kuliner. Dalam bidang peternakan, pakan ternak dapat diproduksi sendiri dengan bahan utama dari hasil pertanian masyarakat Lembata. Sedangkan dalam bidang kuliner penggunaan secara intens hasil pertanian masyarakat lokal Lembata sebagai bahan utama.

Selain itu untuk meningkatkan nilai jual hasil pertanian maka dibuat suatu mekanisme saling ketergantungan antara satu sektor dengan sektor yang lain. Misalnya jika pemerintah menjadikan pertanian dengan komoditas jagung sebagai leading sektor maka pemerintah juga menyiapkan sektor lain sebagai pendukung. Pemerintah dapat menciptakan produksi di sektor pakan ternak dengan bahan utama jagung agar hasil pertanian berupa jagung ini dapat dipasarkan pada sektor produksi pakan ternak.

Agar kelangsungan pakan ternak tetap berjalan maka pemerintah juga harus menyiapkan sektor lain yaitu sektor peternakan. Sektor peternakan dalam hal ini akan bertidak sebagai pasar dari sektor produksi pakan ternak. Selanjutnya sektor peternakan akan berafiliasi dengan sektor lain seperti bidang kuliner sehingga membentuk suatu mata rantai produksi.

Dengan menciptakan mekanisme seperti ini maka tidak hanya hasil pertanian mendapat pasar dan nilai jual yang sesuai tetapi juga pada sektor lain sehingga berdampak positif terhadap pendapatan dan kesejahtraan masyarakat secara umum.