Banyak sekali upaya perdamaian di konflik Afghanistan salah satunya perundingan antara pemerintah Amerika Serikat dan Taliban . Perundingan enam hari antara Amerika Serikat dan kelompok Taliban disebut menghasilkan progres signifikan terhadap upaya perdamaian Afganistan yang telah dilanda konflik selama 17 tahun terakhir. Namun Taliban baru-baru ini menolak usulan penghentian sementara negosiasi dengan pemerintah Afganistan. Di sisi lain perundingan terkait 'persoalan yang tak kunjung selesai' masih berlanjut.

Di dalam negeri sendiri upaya mendamaikan 2 kelompok tersebut pernah dilakukan oleh NU tepatnya ditahun 2011. Usaha itu bermula dengan mengundang sejumlah tokoh penting Afghanistan untuk menghadiri Forum Silaturahmi Perdamaian Afghanistan. 

Forum tersebut merupakan bagian dari acara Harlah NU ke-85 di Jakarta yang berlangsung dari 18 Juni hingga 17 Juli 2011. Tujuan diadakannya forum tersebut adalah agar para tokoh dan ulama mendapat gambaran yang jelas tentang keberagaman Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. 

Walaupun memiliki kemajemukan yang sangat tinggi, namun Indonesia mampu mempertahankan kesatuan dan persatuan sehingga perdamaian dapat terjaga. Hal inilah yang menurut NU perlu dijadikan contoh dan diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi para tokoh dan ulama Afghanistan. Dari forum tersebut, salah satu peserta dari Afghanistan, Burhanuddin Rabbani menyampaikan kekagumannya terhadap prinsip-prinsip Islam moderat ahlussunnah wal jamaah yang dimiliki oleh NU.

Dengan harapan para tokoh dan ulama Afghanistan yang selama ini terlibat dalam gejolak konflik dapat mengamalkan prinsip-prinsip tersebut, sehingga konflik akan segera mereda. Langkah selanjutnya adalah dengan diundangnya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk datang ke Kabul, Ibukota Afghanistan pada awal Juni 2013. 

Kunjungan NU tersebut merupakan undangan untuk menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh High Peace Council, sebagai bentuk kepercayaan semua pihak di Afghanistan kepada NU untuk membantu mereka mengatasi konflik. Indonesia yang diwakili oleh NU merupakan satu-satunya peserta forum dari luar Afghanistan yang disetujui untuk hadir. 

Dalam pertemuan dengan High Peace Council tersebut, NU menegaskan beberapa hal agar pemahaman konteks keislaman tidak sempit. Hal tersebut adalah pengertian Jihad yang memiliki arti luas yakni qital (perang), membangun masyarakat dan mengendalikan hawa nafsu. Jihad juga ada batas wilayah dan waktu, jika berlebihan bisa menjadi aksi terorisme. 

Konsep Jihad ditegaskan karena konflik Afghanistan sendiri tumbuh karena jihad dibuat sebagai pembenaran untuk melakukan perang terhadap musuh yang kafir. Di samping itu ada sifat tasahul dan tasyaddud yang ditekankan karena konflik Afghanistan meluas dan semakin tidak terkendali. 

Tasyaddud karena sejumlah kelompok ekstremis bereaksi dengan mengadakan seruan Jihad Global atau perang suci terhadap AS. Tasahul karena adanya aktivitas sebagai produsen narkotika yang beresiko apabila tidak dibantu dukungan internasional dalam menciptakan lapangan kerja di Afghanistan.

Kunjungan tim PBNU ke Afghanistan sebagai perwakilan Indonesia tersebut dibalas oleh kunjungan beberapa ulama Afghanistan ke Indonesia pada 17 sampai 21 Oktober 2013. Mereka mengunjungi kantor PBNU, Universitas Gajah Mada, dan kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Kunjungan mereka bertujuan untuk belajar dari umat Islam di Indonesia yang menurut mereka telah berhasil mempresentasikan ajaran Islam rahmatan lil’alamiin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maupun dalam dunia Internasional. Dalam pencapaian itu, NU dianggap mempunyai peranan yang sangat penting dalam menciptakan suasana perdamaian sehingga mendorong para ulama Afghanistan tersebut belajar dari kesuksesan NU. Berselang kurang lebih setengah tahun dari kunjungan ulama Afghanistan ke Indonesia, yaitu pada pertengahan tahun 2014, terdengar kabar telah didirikannya NU Afghanistan (NUA).

Meski secara organisasi tidak ada keterikatan secara administratif, namun secara ideologis dan semangat keagamaan dan kebangsaan, mereka benar-benar terilhami dari NU di Indonesia. Kemajuan proses perdamaian di atas mendapat banyak apresiasi dari berbagai pihak di Afghanistan. 

Namun pergantian rezim pemerintahan di Indonesia dan kebetulan juga di Afghanistan membuat upaya yang telah diperjuangkan sejak 2011 mengalami ketersendatan. Walaupun begitu, NU dan NUA tanpa keterlibatan pemerintah masing-masing masih berupaya untuk berperan dalam proses perdamaian. Sebab keduanya melihat diplomasi yang dibangun oleh pemerintah sama sekali tidak mengalami kemajuan karena tidak melibatkan Taliban di dalamnya.

Menyikapi hal itu, NU dan NUA kemudian membangun kerjasama kembali secara intensif pada akhir tahun 2018 untuk menyelenggarakan forum percepatan perdamaian Afghanistan. Salah satu tujuannya adalah membangun komunikasi dengan Taliban.

Agar perjuangan mengupayakan perdamaian yang dibangun begitu lama tidak berhenti begitu saja hanya karena tidak dilibatkan oleh pemerintah. Hal ini karena NU tidak bergerak hanya berdasarkan kepentingan politis eksistensi, melainkan sebuah organisasi yang berusaha menebarkan kasih sayang dan perdamaian sesuai dengan ajaran Islam rahmatan lil’alamin 

Hal ini terwujud dengan diselenggarakannya Konferensi Nasional Pertama Ulama Wanita Indonesia bersama Afghan Woman. Konferensi tahunan Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA) dilaksanakan rutin setiap tahunnya di Kabul, Afghanistan. Konferensi ini dihadiri oleh ulama laki-laki dan perempuan yang berasal dari setiap provinsi di Afghanistan dan perwakilan Kedutaan Besar Indonesia. Tujuan dari konferensi ini adalah untuk memberikan dukungan penuh atas kerja sama peran Indonesia, NUA dan ulama dalam proses perdamaian, rekonsiliasi, dan pembangunan di Afghanistan. 

Selain itu, terdapat program pendidikan Islam melalui pertukaran pelajar perempuan dalam acara Short Course on Introduction to Islam in Indonesia. Kegiatan ini merupakan pendidikan dan pelatihan pendalaman agama Islam, kebudayaan,kerukunan, keberagaman, toleransi beragama diIndonesia yang diberikan kepada 80 pelajarAfghanistan di Sukabumi, Jawa Barat, yang berkerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia. Pada tanggal 31 Agustus 2018, pendidikan dan latihan secara resmi dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Presiden.

Nadhlatul Ulama juga memberikan beasiswa kepada anak-anak muda Afghanistan.