Problem terbesar abad ini selain HIV adalah  terorisme, kasus terdekat adalag bom thamrin yang beberapa saat lalu terjadi. Sejak persitiwa 9/11, semua negara siap siaga demi mengamankan negaranya dari serangan golongan radikal Islam. 

Langkah preventif yang kemudian digalakkan adalah dengan memberikan generalisasi guna mengantisipasi kebocoran. Dan yang menjadi korban adalah umat Islam secara keseluruhan. 

Dalam hal ini saya tak ingin memperdebatkan alasan apa yang dipergunakan oleh kaum ekstremis sebagai pijakan dalam pengambilan keputusan mereka bertindak, termasuk juga kemudian ISIS sampai menjadi kelompok yang sedemikian kuat—kita mencoba tidak mengkalkulasi variabel di mana ISIS adalah buatan Amerika, dsb.

Mencoba menilik dari dasar Islam dibangun, ayat yang pertama kali turun tentu menjadi kunci atas ayat-ayat selanjutnya. Berbekal kata “ iqra’ “ yang menjadi titik berangkat pemahaman akan apa itu Islam. Secara bahasa kata “ iqra’ “ berarti bacalah, iqra merupakan kata perintah kepada seluruh umat manusia untuk membaca. 

Yang menjadi menarik adalah penggunaan kata “ iqra’ “ yang tampaknya jauh dari akar perbincangan agama dewasa ini. Karena di setiap agama apapun, dalam pergumulan sehari hari selalu saja asosiasi yang kental adalah antara agama dengan ritual. Kristen dengan kebaktiannya, Hindu dengan nyepinya, dan berbagai ritus agama lainnya. 

Namun dalam awal mula Islam, justru yang menjadi penekanan adalah membaca. Agama Islam bukan agama yang hanya sekedar menyodorkan perintah untuk berbakti namun sekaligus belajar.

Jika anda membaca, maka anda akan menggunakan fakultas otak untuk mengolahnya. Maka Islam adalah agama yang sangat menekankan penggunaan rasionalitas dalam bekerja, bagaimana kemudian agama dihayati tidak dengan hanya sekedar pengikutan buta, namun berlandaskan pada argumen yang mampu dipertanggungjawabkan. 

Dan dalam kasus penggunaan rasio inilah ummat Islam justru banyak yang menganggapnya sebagai sebuah jalan menuju kesesatan. Mereka yang mencoba memahami agama  dengan memunculkan tafsir baru hasil dari oleh pikir nalarnya akan dimaki maki oleh masyarakat umum. 

Dan sebaliknya, penggunaan kitab kitab lama di mana beberapa fatwanya yang sudah amat susah diimplementasikan justru dijadikan pedoman, dan tidak pernah dikritisi, pun mereka dulunya juga adalah manusia yang juga berspekulasi lewat rasionya.

Pembacaan kedua pada kata “ iqra’ “ adalah menuntut adanya kemandirian individu. Sepanjang sejarah peradaban Islam nusantara, masyarakat kita meyakini bahwa membaca kitab harus bersama dengan kyai agar tidak sesat, dikhawatirkan jika membaca sendiri akan dibimbing oleh syaitan. 

Kuat dugaan hal ini dipengaruhi oleh sistem pesantren yang lebih menekankan pada kepatuhan demi mendapatkan ilmu. Dan hal ini terkait erat dengan kuantitas sumber informasi. Di mana sumber berupa kita kitab masih sangat terbatas, sehingga hanya para kyai yang memilikinya, maka para santri pun membaca dengan sambil mendapatkan bimbingan dari sang kyai. 

Lewat sistem sorogan—santri mengaji langsung di depan sang kyai, distribusi pengetahuan pun kemudian terjadi, dan dengan begitu sekaligus menasbihkan sang kyai sebagai agen pengetahuan agama. Hari ini kitab bisa kita dapati dengan mudah, dan buku-buku sekunder al quran (baca : pembantu memahami al quran) sudah tidak lagi sesusah dulu untuk memperolehnya. 

Alih-alih bersifat komunal, perintah “ iqra’” justru sangat lugas tak di embel embeli dengan kata lain yang megisyaratkan adanya pembimbing dalam membaca. Karena jika diharuskan adanya pembimbing kata “iqra’“ akan kontradiktif dengan dirinya sendiri, karena akan meremehkan fakultas rasio yang dimiliki manusia. 

Bimbingan menunjukkan sekaan-akan manusia tidak mampu mengampu kitab tersebut. Dalam kasus Rasulullah yang dibimbing oleh Jibril, karena itu sudah merupakan tugas Jibril untuk menyampaikan wahyu. Pun ini masih merupakan spekulasi beberapa pihak, tidak pernah ada kejelasan mengenai kehadiran Jibril murni sebagai hanya penyampai atau sekaligus pembimbing untuk memaknai firman.  

Beranjak pada materi yang harus dibaca, hal pertama tentunya adalah membaca pada buku. Hal ini mutlak, karena bahkan Rasulullah sudah memberikan isyarat berupa setiap wahyu yang turun akan segera dituliskan. Dan tujuan penulisan ini tentu agar al-quran dapat kembali dibaca. 

Membaca bisa dipahami hanya dengan mengeluarkan bunyi pada tanda baca, yang artinya seorang pembaca hanya mampu mengucapkan simbol tanpa mengetahui makna dari simbol tersebut, artinya pembacaan seperti ini masih berada pada level superficial

Membaca selanjutnya adalah dengan sekaligus mengerti terjemahan di setiap simbol yang muncul.  Pada level kedua ini umat Islam telah mampu mengerti arti teks, namun tidak semua yang mampu mengartikan memahami. 

Maka pembacaan selanjutnya adalah dengan memahami maksud dari teks tersebut. Dan pada level inilah mulai muncul spekulasi dalam memahami teks. Dan keragaman atas tafsir merupakan sebuah keniscayaan. Termasuk tetap menghargai Islam ekstremis atas tafsir yang mereka gunakan.

Setelah melakukan pembacaan pada teks, hal yang lebih rumit adalah membaca pada konteks. Dan pembacaan atas teks terkait erat dengan pembacaan atas konteks. Mengapa harus dipadupadankan dengan konteks? 

Ayat utama dalam Islam bisa dikategorikan dalam dua jenis yaitu qauliyah dan kauniyah. Dengan hanya memahami qauliyah besar kemungkinan terjadi kerancuan, terlebih kadangkala teks mengompres firman dalam bentuk yang lebih minimalis dan seringkali satu kata dalam ayat qauliyah justru mengandung nilai universal yang mungkin membutuhkan ribuan tahun untuk didedah.

Teks agama Islam yang menggunakan bahasa—yang juga dalam pemilihannya itu sendiri sudah parsial—arab yang juga diterapkan tidak sempurna. Tidak pernah ada bahasa yang mampu merengkuh realitas secara menyeluruh. 

Dengan hanya menggunakan patokan teks, umat islam akan hanya terjebak pada realitas yang mengatasi sekaligus tidak menjejak ke bumi, sehingga seringkali gagal membaca lokalitas faktual. Sinkronisasi teks pada konteks penting untuk menjernihkan makna yang bisa jadi telah kawin dengan konsep dalam kosmologi bahasa itu sendiri, dan sekaligus untuk mengembalikan teks yang bisa jadi semakin menjauhi realitas padahal teks sendiri terbit dari dunia material.

Inilah mengapa dengan hanya memahami teks, sangat mungkin terjadi kerancuan, apalagi secara faktual teks tercipta dan bergumul dengan kebudayaan lokal. Maka dengan membaca pada konteks, memberikan gambaran menyeluruh mengenai kehadiran suatu perintah. 

Permasalahan yang muncul adalah Islam sebagai agama universal muncul dalam lokalitas suatu daerah, dan untuk mampu dipahami Islam yang awalnya bersifat immaterial, harus dikonversi menjadi yang material agar tercium oleh masyarakat generasi lanjut penganut Islam. 

Seperti halnya perintah berjihad menghunus pedang—yang dalam hal ini saya tidak setuju dengan tafsir vulgar ala teman-teman ekstremis, namun saya tetap menghargai upaya tafsir mereka sebagai sebuah pluralitas—yang tampaknya adalah merupakan sebuah pilihan yang bersifat kontekstual. Di mana saat itu Islam sedang membutuhkan perjuangan berdarah demi tegaknya sebuah agama pembaharu—berbeda dengan saat ini, di mana Islam sudah berdiri. 

Maka dalam hal ini, kaum ekstremis tampak masih belum mampu mengimplementasikan pembacaan yang universal, yaitu pembacaan yang mengandaikan adanya fusi antara teks dan konteks. Sehingga telah gagal mengamalkan fondasi dari Islam itu sendiri, “ iqra’”.

Islam akan terbata-bata jika tidak segera digalakkan upaya membaca yang tidak hanya berkutat pada teks, namun juga konteks. Selain karena ini merupakan perintah pertama, sekaligus ini adalah opsi jalan keluar dari permasalahan terorisme yang mencoba di/terstigmakan pada Islam.