Penulis
5 bulan lalu · 1737 view · 3 menit baca · Politik 45365_74092.jpg
Pixabay

Kegaduhan Politik dan Kegersangan Karakter Bangsa Ini

Dinamika politik praktis kian hari semakin gaduh nan bengis. Kini perseteruan politik itu tidak hanya dimainkan oleh elite politik yang berada di koridor atau pimpinan partai. Hasrat politik itu benar-benar sudah menjalar hingga sendi-sendi masyarakat bawah.

Ramainya perbincangan politik di televisi dan media sosial hanya dua dari banyaknya kegaduhan politik negeri ini yang terekspose. Selebihnya, kegaduhan yang banyak itu tampak sunyi. Kita tidak pernah tahu bahwa dapur-dapur rumah, warung-warung kopi, dan tempat-tempat ibadah sudah dipenuhi para politikus.

Bertolt Brecht, seorang penyair dari German pernah berucap, buta politik merupakan buta yang paling buruk. Sangat bodoh seseorang ketika ia mengatakan antipolitik dengan membusungkan dadanya.

Padahal, biaya hidup, harga ikan, layanan kesehatan, ekonomi, dan mutu pendidikan itu tergantung keputusan politik. Dengan kata lain, berpolitik merupakan keniscayaan. Bahkan untuk menaklukan hati calon mertua pun, politik sangat diperlukan.

Problem Kegaduhan Politik

Berpolitik itu baik, dengan catatan, jika ilmu dan sikap adil menyertainya. Tanpa ilmu politik, mereka yang mengaku politikus tak ubahnya benda mati yang diperalat. Tanpa sikap adil, mereka yang terlibat politik hanya akan menjadi orang-orang yang fanatik.

Menurut pengamatan penulis, problem utama kegaduhan politik bukan pada elite politik, tetapi fanatisme buta masyarakat di kalangan bawah. Kini sudah banyak warung kopi yang seharusnya tempat cangkrukan sosial, berubah menjadi tempat berdebat kusir perihal politik para pendukungnya.

Seseorang yang sedang antre di SPBU untuk mengisi bensin, melalui media sosial bisa dengan mudah mencaci maki pemerintah yang menaikan harga BBM. Di satu sisi, si pengendara motor itu enggan berhemat meski hanya sekedar mematikan kendaraan saat antre di SPBU.

Fenomena sosial seperti itu bukan barang baru. Tanpa ilmu dan sikap adil, seseorang bisa dengan mudahnya saling menghujat lawan politik di media sosial. Merasa paling tahu tentang apa yang sedang diperdebatkan tanpa pernah belajar secara mendalam.

Jika dianalogikan, mereka yang berdebat tanpa ilmu dan sikap adil bagaikan orang-orang buta yang memegang gajah. Orang buta yang memegang telingah gajah, akan mengatakan gajah itu lebar. Sedangkan orang buta yang memegang gading gajah, akan mengatakan gajah itu keras dan tajam.

Mereka berdua sejatinya tidak salah ketika mengatakan wujud gajah. Hanya saja mereka berdua kurang bijak jika berhenti sampai di situ. Kebijaksanaan akan tercapai ketika keduanya memutuskan untuk saling tukar posisi dan bergantian memegang tanpa saling membenarkan pendapat pribadi.

Kemudian dilanjutkan dengan merabah tubuh gajah secara menyeluruh. Terselarasnya ilmu dan sikap adil akan mengantarkan si buta itu tahu secara utuh bagaimana bentuk gajah sebenarnya. Gajah itu besar, bertelinga lebar, dan bergading keras lagi tajam. Itulah definisi akhir dari kebijaksanaan.

Nirliterasi dan Kegersangan Karakter

Baik, penulis ingin memulai pembahasan ini dengan mengupas salah satu media sosial yang paling populer; Facebook. Di mana di media sosial tersebut, kegersangan karakter sangat mewabah.

Pertama, arti nama. Secara harfiah, Facebook memiliki arti buku berwajah. Pengguna media sosial ini akan memiliki halaman profil yang akan menerangkan siapa dirinya dan apa saja aktivitasnya. Umumnya, akun yang telah menjalin pertemanan bisa melihat profil satu sama lain.

Kedua, tujuan Facebook. Menurut penulis, tujuan paling utama Facebook ialah menjalin pertemanan. Hal ini bisa dilihat dengan adanya fitur “add friend”, tambahkan sebagai teman. Tidak pernah ada di Facebook fitur untuk menambahkan musuh.

Berangkat dari tujuan tersebut, idealnya Facebook dijadikan sebagai media untuk menjalin relasi dalam bingkai kerukunan dengan banyak orang. Namun pada kenyataannya, Facebook justru menjadi ladang subur untuk mencipta permusuhan dan memecah-belah persatuan.

Perpustakaan dan toko buku kian hari semakin sepi pengunjung. Pondasi kelimuan yang semakin rapuh, turut menjadi penyebab kegersangan karakter. Kebanyakan orang lebih betah bersosial media dengan ponsel pintarnya ketimbang berlama-lama di perpustakaan.

Sumber rujukan tak lagi buku dan jurnal, tetapi Blogspot dan jejaring sosial yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dr. Pradana Boy menyebut fenomena ini dengan istilah ‘hilangnya kepakaran’. Banyak orang merasa dirinya ahli dengan berdebat di jejaring sosial, padahal isinya kosong.

Bayangkan saja, Fans Page, terutama Fans Page politik yang memposting satu opini atau argumentasi, bisa mendapatkan ribuan komentar. Jikalau komentar itu positif, rasanya tidak ada masalah. Tetapi yang tumbuh subur justru komentar yang berisikan hinaan, celaan, dan cacian.

Miris, melihat kondisi karakter bangsa ini yang semakin gersang. Teman jadi lawan dan sahabat jadi musuh seolah dianggap wajar. Perpecahan muncul hanya karena berbeda pilihan.

Benar kata Bung Karno dulu. Perjuangan para pahlawan terdahulu lebih mudah karena melawan penjajah. Kini, perjuangan itu lebih berat karena melawan kawan sendiri. Ketika karakter mulai melemah dan persatuan mulai pecah, maka negeri ini diambang kehancuran.

Tahan. Menahan diri merupakan solusi paling konkret. Tahan mulut! Ucapkanlah yang baik dan benar, jika tidak bisa lebih baik diam. Tahan jari! Tidak perlu berdebat di kolom komentar media sosial. Tahan lelah! Luangkanlah waktu untuk membaca banyak buku. Tahan arogansi! Hormati perbedaan dan tetap junjung persatuan.