Cinta selalu menarik untuk dibahas dan dipelajari, karena kata ini memberi dampak yang sangat besar untuk kehidupan. Cinta tidak hanya memberi kebahagiaan, pemahaman yang dangkal terhadap cinta dapat mengantarkan seseorang kepada derita yang tak bertepi.

Cinta juga dapat memberikan kehidupan bahkan menghancurkan kehidupan seseorang. Kata “cinta” satu kata yang didambakan sekaligus ditakuti oleh orang yang pernah terbahagiakan karenanya atau orang yang mengalami trauma karena lukanya. Cinta menjadi kata yang paling ampuh untuk memperdaya seseorang, tidak sedikit orang yang bersedia mempersembahkan barang miliknya atau bahkan kehidupannya hanya untuk cinta.

Cinta bisa membuat orang mengeluarkan sisi terbucin dalam diri mereka. Entah itu dipublish ataupun di tutup tutupi ketika bersama yang dicintainya. Mulai dari teman hingga pacar, orang yang sedang dalam mode cinta biasanya akan merasakan apa itu kenyamanan dan rasa senang ketika bersama mereka.

Tetapi cinta juga bisa berakibat fatal, ketika orang dalam mode cinta mengetahui sisi buruk yang dilakukan oleh orang tercintanya. Rasa kecewa tersebut akan tumbuh dalam diri seseorang tersebut hingga membatu di hati. Dan biasa disebut sakit hati.

Dari sini kita ketahui bahwa cinta mempunyai dua sisi mata pisau yang berbeda. Dimana disatu sisi dia memberikan rasa bahagia,tapi disisi lain cinta jugalah yang mengakibatkan patah hatinya seseorang.

Dan sampai disini mungkin beberapa dari kita akan bertanya, apakah cinta itu penting bagi umat manusia?. 

Oke sebelum overthingking kalian semakin menjadi jadi, kita akan mengupasnya sedikit demi sedikit.

Jadi menurut pandangan saya, rasa empati yang keluar dari tubuh manusia pada seseorang akan terbagi menjadi 3 fase. Fase tersebut adalah kagum, suka dan cinta.

Kagum, Empati diri yang pertama

Kagum merupakan rasa yang timbul yang berasal dari dalam diri manusia dikarenakn objek yang ia kagumi berhasil membuatnya terkesan.

Rasa kagum pun secara tidak langsung menghipnotis seseorang bahwa diantara banyakya manusia hanya objek yang dikagumi itulah sosok yang berhasil membuatnya mengidolakan dan memotivasi diri sendiri.

Bagi sebagian orang rasa kagum hanya akan datang sementara dan bukan untuk waktu yang lama. Rasa kagun akan otomatis hilang ketika kita berhasil menemukan sosok yang lebih dari idola kita sebelumnya.

Dan bagi sebagian orang lainya, rasa kagum pun bisa diartikan mengidolakan teman, sahabat bahkan para tetangganya dengan berbagai prestasi yang berhasil di buat. Dan menganggapnya hal yang luar biasa.

Rasa yang terbatas, orang yang memgagumimu belum tentu dia mencintai. Stak sebatas kagum tidak lebih menjadi rasa ingin memiliki.

Suka, Rasa Empati yang ke dua

Suka merupakan level kedua setelah kagum. Suka bisa diartikan bahwa suatu rasa yang dimiliki karena merasa bahwa objek yang disukai mempunyai sesuatu yang indah dan kita akan ada rasa ketertarikan padanya.

Suka kepada lawan jenis misalnya, kita akan merasakan sesuatu dan secara tidak langsung selalu memperhatikanya. Sehingga aura suka yang dia keluarkan akan menarik untuk di tembus.

Hampir sama dengan rasa kagum, bahwa perasaan suka bisa terpenggal waktu dan juga bisa bertahan di waktu yang tidak sebentar dan akhirnya akan menciptkan suatu rasa yang dinamakan cinta.

Orang yang sedang berada pada tingkatan suka, lebih condong untuk berusaha mendekati dan nyaman didekat objek yang ia sukai.

Dan ketika agak lama tidak ada kontak ataupun komunikasi satu sama lain akan merasakan perasaan yang aneh. Dan ingin segera berkomunikasi bahkan kontak langsung dengan objek yang disukai yang hal ini sering di sebut rindu.

Dan menurut saya pribadi bahwa kita boleh suka dengan lawan jenis lebih dari satu. Agar kita paham setiap karakter masing masing dan bukan untuk mempermainkan perasaan mereka. 

Agar ketika kita sudah ada di tingkatan mencintai, kita akan paham dan meminimalisir pemilihan orang yang keliru untuk kita cintai.

Cinta, Tingkatan Rasa Empati Terakhir pada Manusia

Cinta merupakan rasa empati yang terbilang unik dan dalam pengartianya. Sehingga banyak orang yang berpikirn bahwa cinta tak bisa diuraikan dengan kata kata karena dalamnya makna yang terkandung.

Menurut saya cinta merupakan rasa empati yang dimiliki seseorang pada suatu objek dan rela memberikan apapun yang dimiliki kemudia diapun benar benar siap akan resiko yang akan terjadi ketika dia mencintai objek tersebut.

Rumit bukan? Yaa memang cinta itu rumit. Tapi mau bagaimana lagi kalau logika sudah kalah dengan perasaan.


Benarkah cinta itu buta dan dapat melumpuhkan logika manusia?. Dikutip dari Merdeka.com disebutkan bahwa penelitian yang dilakukan di University College London menemukan bukti bahwa rasa cinta bisa menumpulkan aktivitas saraf yang terkait dengan penilaian sosial kritis terhadap orang lain.

Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan di dalam NeuroImage itu cinta juga menghalangi munculnya emosi negatif, sehingga hanya rasa suka yang ada. Area hipotalamus otak menghasilkan senyawa euforia yang menurunkan penilaian negatif terhadap orang yang dicintai, sehingga objektivitas dalam melakukan penilaian pun menurun drastis.

Bisa disimpulkan, cinta memang buta, karena mampu mengaburkan penilaian rasional dan objektif terhadap orang yang dicintai.