Freelancer
2 bulan lalu · 778 view · 4 min baca menit baca · Politik 73566_35580.jpg
The Week

Kedudukan Politik Lebih Tinggi dari Agama

Andre Taulany, mantan vokalis grup band Stinky yang kini tenar jadi komedian, harus merasakan caci maki, terutama di jagat maya. Penyebabnya, ia dituding menghina Nabi Muhammad SAW. Tentu itu bukan tudingan sembarangan.

Menghina Nabi Muhammad adalah "bahan bakar" yang dapat dengan cepat menyulut amarah. Orang yang dituduh menghina pun harus siap-siap menjadi sasaran cercaan. Atau bisa saja ancaman pembunuhan. 

Tentu masih ingat dengan sosok Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama yang harus mendekam di Rutan Mako Brimob 2 tahun lamanya. BTP, sapaan akrab Ahok, dijebloskan ke penjara karena dianggap menghina agama. Ucapannya soal surat Al-Maidah ayat 51 melahirkan aksi 212.

Atau Meiliana yang juga harus jadi narapidana. Ibu muda ini mesti berhadapan dengan hukum karena protes terhadap volume suara azan. Mau tidak mau, ia harus menjalani hukuman selama 18 bulan. 

Nasib Andre tak setragis BTP dan Meiliana. Meski begitu, di jagat maya, Andre pun dihujam karena lawakannya dianggap menyakiti hati umat Islam. 

Ia pun tak bisa hanya diam. Gara-gara persoalan itu, di acara televisi, Andre diistirahatkan. Andre pun angkat tangan. Sowan ke sana-kemari mencari permaafan.

Candaan Andre yang dianggap menghina Nabi itu sebenarnya sudah lama terjadi. Awalnya tak ada masalah apalagi dituduh menghina Nabi. Hingga suatu hari, Rien Wartia Trigina, istri Andre, menulis travesti yang menyindir salah satu calon presiden di negeri ini.

Di akun instagram pribadinya, Erin, sapaan akrab istri Andre, menuliskan ejekan atas adanya klaim kemenangan. Tentu, sosok yang Erin sindir adalah Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto. Karena Erin dan Andre adalah pendukung Paslon 01.

Kita semua pun tahu, Prabowo mengeklaim dirinya menang di angka 62 persen. Sindirian Erin dianggap menghina. Ramai-ramai Erin didera dengan berbagai cerca.

Sebagai suami, Andre pun turut dicaci. Sialnya, pada saat tensi masih tinggi, Andre dianggap membuat kesalahan lagi. Andre, dalam candaannya, memplesetkan merek sepatu dengan menggabungkan dua nama. 

Entah kebetulan atau tidak, dua nama yang digabungkan Andre itu adalah dua nama ustaz ternama yang telah menyatakan sikap mendukung Paslon 02.


Maka serangan makin menjadi. Andre pun dikuliti. Kesalahannya pun dicari-cari. Ditemukanlah candaan Andre yang dianggap menghina Nabi. Padahal, itu sudah terjadi jauh-jauh hari. 

Andre menyerah. Ia mengaku khilaf. Dia mendatangi beberapa ulama dan ustaz untuk meminta maaf. Padahal apa yang dilakukan atau dikatakan Andre adalah lawakan, candaan yang lahir dengan spontan. Orang tertawa lalu melupakannya. 

Menghina Nabi Muhammad pastinya akan dianggap sama dengan menista agama. Bila sudah dianggap menista agama, paling tidak di Indonesia, siapa pun rasanya sulit dapat bernapas lega. Kecuali, bila memiliki pandangan dan pilihan politik yang sama. 

Ya. Bila mau adil plus konsisten membela agama, mestinya memang menggempur siapa pun yang menista agama dan/atau menghina Nabi Muhammad tercinta. Siapa pun dia, Islam atau bukan, warga biasa atau pejabat terkemuka, artis, ustaz, pastur, pendeta, atau siapa saja, bila menista agama, harusnya didemo besar-besaran dan tentu dilaporkan ke kepolisian. 

Tidak ada tebang pilih. Tak ada pilih kasih. Membela agama harus adil. Ia pendukung Paslon 01 atau Paslon 02, mau Cina atau Arab, pribumi atau keturunan, hantam dan laporkan bila menista agama Islam. Idealnya demikian. 

Tapi coba buat perbandingan antara kasus BTP, Meiliana, Andre dengan Ustaz Evie Effendi dan Ustaz Abdul Somad. Saat sedang ceramah, Ustaz Evie menyebut Nabi Muhammad sesat. Sedangkan Ustaz Abdul Somad menyebut Nabi Muhammad yang tak mampu mewujudkan Islam yang rahmat.

Dua pernyataan, baik dari Ustaz Evie ataupun Ustaz Abdul Somad, disampaikan saat mereka berdakwah. Apa yang mereka sampaikan tentu memiliki tujuan agar tertanam di benak jemaah. 

Apakah bukan penghinaan menyebut Nabi Muhammad sesat dan menuding Nabi Muhammad tidak mampu mewujudkan Islam yang rahmat bagi semesta alam?

Ucapan Ustaz Evie dan Ustaz Abdul Somad dengan candaan Andre memiliki dimensi yang jauh berbeda. Andre sedang bercanda, tidak ada tendensi apa-apa. Terjadi begitu saja, orang pun kemudian mengabaikannya. Sedangkan Ustaz Evie dan Ustaz Abdul Somad mengucapkannya di mimbar ceramah dengan titel ustaz yang mafhum ilmu agama.

Namun apakah ada dari pendukung Paslon 02 yang mempermasalahkan ucapan mereka berdua? Tidak ada! Karena Ustaz Evie dan Ustaz Abdul Somad berada pada barisan politik pendukung Paslon 02. Inilah contoh nyata bahwa kedudukan politik lebih tinggi daripada agama.

Saat afiliasi politik sama, maka tidak akan menjadi masalah meski menghina agama, merendahkan Nabi tercinta, atau merayakan Natal sambil berjoged ria. 

Bahkan pekik takbir dari Lieus Sungkharisma disambut dengan gegap-gempita. Berpakaian gamis dan mengenakan serban di kepala menyambut seruan takbir dari orang yang beragama Budha.

Rocky Gerung yang tidak percaya Tuhan pun diperlakukan istimewa layaknya ajengan. Tidak juga dipersoalkan meski sang kafir menafsirkan ayat Alquran. Padahal Rocky bukan beragama Islam, tapi malah diundang ceramah di pondok pesantren untuk memberi wejangan.

Joko Widodo yang terlahir Islam dihujat habis-habisan. Sedangkan Prabowo yang lahir dari rahim Nasrani malah dibela mati-matian. Rela korban nyawa demi Prabowo dan Sandiaga, namun menghina martabat Ma'ruf Amin yang nyata seorang ulama.

Sah-sah saja bila barisan pendukung Paslon 02 membawa identitas Islam. Akan tetapi, saat Islam hanya dijadikan dagangan, itu sungguh memalukan. 

Mendukung Prabowo disamakan dengan jihad tentu itu menyedihkan. Apa memang Prabowo adalah nabi akhir zaman hingga harus dibela sampai titik darah penghabisan?


Argumen lain yang mendukung tesis kedudukan politik lebih tinggi daripada agama adalah: pembelaan akan selalu datang meski anda berbuat kesalahan. Dengan catatan, dalam politik, anda memiliki kesamaan. Lieus Sungkharisma dan Rocky Gerung dapat dijadikan teladan.

Lieus Sungkharisma yang seorang Buddha bahkan dapat melenggang di forum Ijtimak Ulama. Padahal, yang ulama pun tak akan diundang bila arah politiknya berbeda pandangan. 

Atau Rocky Gerung yang didaulat sebagai presiden akal sehat. Rocky yang Katolik bahkan ada yang menyebutnya ateis justru digelari ustaz. Mungkin inilah implementasi akal sehat. 

Namun lihatlah kembali Andre Taulany, atau orang Islam lain yang menjadi pendukung Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. Meski muslim, namun pendukung Paslon 02 tanpa ampun terus merundung. 

Ma'ruf Amin yang seorang ulama dihina habis-habisan. Namun Prabowo yang keluarga besarnya pengikut setia Yesus malah dipuja mati-matian.

Kesimpulannya, bila kesamaan agama namun politik berbeda, maka akan dianggap musuhnya. Namun bila politik sama meski agama berbeda, maka akan dianggap saudaranya.

Artikel Terkait