Tulisan ini penting, karena masih banyak teman-teman penulis, yang mengaku taat beragama Islam, tetapi sering nge-share tentang berita hoaks, atau mereka nge-share tanpa tahu apakah berita itu hoaks atau tidak. Yang penting bagi mereka, mereka telah nge-share berita yang menurut mereka bermanfaat, walaupun mereka tidak tahu apakah berita itu hoaks atau tidak.

Sayangnya, orang yang nge-share, tanpa mau nge-cek validitas berita, hoaks atau tidak, biasanya sudah memegang sikap, misalnya dia memegang sikap x, bahwa apapun yang bertentangan dengan x adalah hoaks, meskipun berita itu tidak hoaks, dan apapun yang mendukung berita x adalah benar, meskipun hoaks. 

Sayangnya lagi, sedalam dan seilmiah apapun penjelasan anda bahwa itu hoaks, selama itu tidak bertentangan dengan x, mereka akan bersikukuh bahwa itu adalah kebenaran yang perlu diperjuangkan.

Nge-Share Berita tanpa Kejelasan

Nge-share berita (informasi), di medsos, tanpa mengetahui hoaks atau bukan, jika ternyata berita itu hoaks, jelas anda berdosa, karena telah menyebar kebohongan. Jika ternyata itu bukan hoaks, maka anda nge-share berita berdasarkan ketidaktahuan atau kebodohan, atau juga karena kebetulan bukan hoaks. 

Nge-share berita berdasarkan kebodohan itu tidak boleh. Bukankah di dalam al-Quran disebutkan, “Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui” [al-Isra’: 36]. Ini juga berarti, “Jangan nge-share berita berdasarkan ketidaktahuanmu”. Kenapa? Karena “Semua itu akan diminta pertanggungjawabannya” [al-Isra’: 36].

Jika anda ingin nge-share berita, tetapi anda tidak tahu hoaks atau bukan, maka jangan anda share berita itu. Bukankah “Di antara kebaikan Islamnya seseorang, adalah meninggalkan apa yang tidak penting”. 

Begitulah sabda nabi. Dan nge-share berita berdasarkan kebodohan, bukan hanya tidak penting, tetapi berpotensi membahayakan. Potensi bahaya harus ditutup, berdasarkan konsep sadd adz-dzari’ah.

Jangan malah ngeyel, “Saya yakin ini bukan hoaks”. Perlu diingat, bahwa hoaks bukan berita yang sesuai dengan sikap anda. Berita yang sesuai dengan sikap anda adalah bukan hoaks. Lalu, berita yang bertentangan dengan sikap anda adalah hoaks. Bukan begitu. Hoaks adalah berita bohong, baik sesuai atau tidak sesuati dengan sikap anda.

Nge-share berita, tanpa mengetahui hoaks atau bukan, dilarang. Bukankah di dalam al-Quran disebutkan, yang terjemahan tafsirnya, “Jika ada berita, maka periksalah dengan teliti” [al-Hujurat: 6]. Jangan di-share sebelum tahu kebenarannya. Jika ketahuan hoaks, maka haram di-share.

Aktifitas Share Informasi Bukan Hoaks

Jika ketahuan tidak hoaks, jangan langsung di-share, tapi perlu dicek dulu, apakah berita itu membongkar aib atau tidak. Jika membongkar aib, maka tidak boleh di-share, meskipun benar. Bukankah di dalam al-Quran disebutkan, “Janganlah engkau mencari-cari aib” [al-Hujurat: 6]. Ini juga berarti, janganlah engkau menyebar aib orang. Ini termasuk hatk as-satr yang dilarang di dalam Islam.

Orang yang nge-share berita, tanpa mengetahui apakah berita yang di-share adalah hoaks atau tidak, berarti dia telah terjatuh ke dalam penganiayaan. Ibarat makanan, dia makan tanpa tahu apakah makanan yang dimakan bermanfaat atau beracun. Pokoknya, yang sesuai selera, dimakan, meskipun beracun. Dan makanan yang tidak sesuai selera, tidak dimakan, meskipun bermanfaat.

Barang kali, orang jenis ini akan berdalih, bahwa tindakannya nge-share tanpa nge-cek hoaks atau tidak, pasti ada berita yang tidak hoaks yang dia share. Jawabannya, berarti anda telah secara sengaja nge-share berita hoaks, atau secara sengaja anda makanan racun.

Bahkan, nge-share berita hoaks lebih berbahaya dari makan racun. Karena makan racun hanya membunuh anda. Sedangkan nge-share hoaks bisa membahayakan banyak orang. Mengerikannya, hoaks itu membahayakan keluarga, teman, dan orang yang percaya kepada anda sendiri. Bukan membahayakan orang jauh yang tidak ada ikat dengan anda.

Aktifitas Share Informasi Hoaks

Jika anda tidak tahu, apakah sebuah informasi itu hoaks atau fakta, maka jangan share. Cek dulu kebenarannya. Jika itu hoaks, maka jangan share. Jika anda nge-share hoaks, anda menyalahi perintah Nabi, “Berkatalah baik atau diam!”. Jika tidak bisa berbicara baik, maka diamlah! Beliau juga bersabda, “Hindarilah kebohongan!

Orang yang nge-share berita hoaks, juga ibarat berteriak maling padahal tidak ada maling. Dia membuat gaduh satu desa, padahal tidak apa-apa. Jika kondisi dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, maka tindakan nge-share bisa jadi alat untuk melumpuhkan  sebuah Negara. Negara yang aman tenteram, karena sikap warganya yang suka nge-share berita hoaks, akan menjadi menjadi Negara yang tumbang.

Apalagi, hoaks telah memakannya hingga dia tidak percaya lagi ke pemerintah. Bahwa semua yang berkaitan dengan kinerja pemerintah yang baik, baginya adalah hoaks, meskipun itu benar. 

Lalu, apapun yang menjelekkan citra pemerintah, baginya adalah kebenaran, meskipun itu hoaks. Padahal, Islam jelas memerintahkan untuk mematuhi pemerintah selama pemerintahnya tidak memerintahkan yang dilarang agama.

Di Indonesia, jelas sekali bahwa rukun Islam dan rukun iman tidak dilarang. Bahkan, banyak undang-undang yang mendukung, seperti UU tentang wakaf, zakat, ekonomi syariah, KHI, UU Perkawinan No 1/1974, dan banyak lagi peraturan perundang-undangan lain yang mendukung hukum Islam. Sehingga, tidak benar jika Indonesia dibilang sebagai Negara bughat.

Tentu saja, ada beberapa pejabat pemerintah yang korupsi. Tetapi pemerintah sebagai pemerintah, tetap harus dihormati. Bahwa ada oknum yang korup, itu sudah ada mekanisme yang mengatur untuk menegakkan keadilan dan hukum. Tidak boleh bersikap bahwa semua perbuatan pemerintah adalah salah.

Orang yang nge-share hoaks, berarti dia menyebar kebohongan. Jelas, kebohongan itu berbahaya, karena itu nge-share hoaks itu berdosa. Kebohongan bisa membunuh, memfitnah, membenarkan kesalahan dan menyalahkan kebenaran, menghilangkan kepercayaan, membunuh karakter, mencemarkan nama baik, dan masih banyak sekali bahayanya yang lain.

Jika anda nge-share hoaks, berarti anda berbohong. Jika anda berbohong, tunggu sebentar lagi, anda tidak akan dipercaya lagi oleh orang terdekat anda. Atau, anda akan dimanfaatkan oleh the man behind the gun. Anda dimanfaatkan oleh pembuat hoaks. Ingat, hoaks dibuat untuk sebuah tujuan tertentu. 

Tentu saja, kebenaran tidak boleh ditempuh dengan cara-cara menebar hoaks. Anda telah tertipu, mengira mendukung kebenaran, tetapi ternyata menebar hoaks.

Jika hoaks yang anda share itu mencemarkan nama baik, berarti anda memfitnah. “Tukang fitnah, tidak akan masuk surga”, demikian sabda Nabi. Jika pencemaran nama baik itu bukan hoaks, berarti anda telah melakukan gibah. “Janganlah kalian menggibah. Apakah kalian suka memakan daging saudara kalian”, demikian al-Quran melarang gibah.

Jika anda membenci seorang tokoh, maka tidak semua berita yang menjelekkan tokoh itu adalah kebenaran. Meskipun berita itu benar, anda tidak boleh men-share-nya. Jika anda men-share-nya, anda telah membuka aib. Islam melarang membuka aib. Apalagi, itu hanya berita yang tidak diketahui sumbernya.

Ada juga nge-share hoaks karena alasan iseng. Setelah ditegur, jawabnya iseng. Artinya, dia mempermainkan kebohongan sebagai bahan candaan yang seakan tidak ada artinya apa-apa. Padahal, kebohongan bisa masuk kategori buhtan, yamin ghamus, qaul zur, kadzb, namimah, gibah, ifk, qadzf, fadhihah, dan sukhriyah. Semua itu haram di dalam Islam. Bahkan, bercanda saja tidak boleh berbohong.

Nge-Share Apa Saja Yang Bermanfaat?

Jika nge-share berita yang tidak jelas hoaks atau bukan, tidak boleh dan dilarang, lalu nge-share apa yang boleh? Ya nge-share berita yang anda kuasai ilmunya. Jika anda ingin nge-share tentang politik, belajarlah terlebih dahulu ilmu politik. Tempuhlah delapan semester untuk mempelajari dengan baik politik itu bagaimana. Jika anda belum lulus, jangan sok pintar nge-share tentang politik.

Jika anda menguasai fikih, share-lah tentang ilmu fikih. Jika anda menguasai ilmu hukum, share-lah tentang hukum. Jika anda menguasai ilmu kesehatan, share-lah tentang kesehatan. 

Jika anda menguasai ilmu kebijakan publik, share-lah tentang kebijakan publik. Dan begitu seterusnya. Sesuaikan dengan pengetahuan yang anda kuasai. Jika demikian, kegiatan share yang anda lakukan, benar-benar bermanfaat dan terhindar dari hoaks.

Ini juga merupakan kejujuran secara akademik. Jika anda men-share berita yang tidak anda kuasai ilmunya, anda sebenarnya telah melakukan kebohongan kepada diri anda sendiri dan kepada publik. Kebohongan kepada diri sendiri yang sok tahu, padahal tidak tahu ilmunya. Jika tidak tahu, diamlah! Atau bertanyalah! Atau belajarlah! Bukan malah men-share-nya.

Jika anda menguasai fikih, jangan men-share tentang kesehatan, meskipun itu seakan-akan bermanfaat bagi orang banyak. Ingat, basis keilmuan anda adalah fikih, bukan kesehatan. Biarkan ahli kesehatan yang melakukan share tentang kesehatan.

Jika anda hanya menguasai ilmu hadits, misalnya, lalu merasa tidak keren dan tidak up date, jika tidak share tentang berita kekinian, maka gunakanlah ilmu hadits anda untuk menganalisis peristiwa yang up date! Tetapi ingat, jangan nge-share berita yang tidak sesuai dengan keilmuan anda, karena hal itu berarti anda nge-share berita yang tidak anda kuasai ilmunya. Dengan kata lain, itu berarti anda nge-share berdasarkan kebodohan anda.

Jika anda masih tidak puas, maka belajarlah lebih banyak. Setelah menguasai ilmunya, maka anda akan bermanfaat dengan share yang anda lakukan.

Jika anda tidak mengusai ilmu apapun, maka jangan pernah men-share. Itu lebih baik bagi anda. Jika anda ingin mendapatkan pahala dengan men-share, maka belajarlah. Terlalu berisiko men-share tanpa ilmu. Itu seperti berdakwah tanpa ilmu. Seperti orang yang mau melakukan pembedahan, padahal dia bukan dokter. Dia ingin membedah, hanya berdasarkan membaca medsos. Terlalu berbahaya. Haram.