Keingintahuan adalah bekal utama yang wajib ada untuk melakukan perjalanan intelektual. Semakin kita ingin tahu, semakin rumit dan mendalam pertanyaan-pertanyaan yang kita lontarkan. Lambat laun, disadari atau tidak, semakin banyak pertanyaan dan usaha kita untuk menjawabnya, maka semakin dekat juga kita menuju pengetahuan.

Pengetahuan yang saya maksudkan di sini bukan hanya dalam aspek formal saja melainkan mencakup segala hal. Karena sejatinya, pengetahuan itu bisa diperoleh di mana saja, tidak sebatas hanya di bangku pendidikan formal.

Pengetahuan (ilmu) di dalam ajaran Islam mendapat kedudukan yang mulia. Bahkan di dalam salah satu Firman Allah SWT bahwa akan mengangkat beberapa derajat orang-orang yang menuntut ilmu (QS al-Mujadilah: 11). Ini menunjukkan bahwa menuntut atau mencari pengetahuan (ilmu) adalah pekerjaan wajib bagi setiap manusia, muslim khususnya.

Lalu, apakah tujuan dari menuntut ilmu itu? Mengapa kita wajib menuntut ilmu, muslim khususnya? 

Dalam Islamic Worldview, tujuan dari menuntut ilmu bagi setiap manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan dan kebaikan. Dengan ilmu, manusia akan mencapai kebahagiaan dengan mengenal Tuhan dan ciptaan-Nya, dirinya sendiri dan dunia sekitarnya. Kebahagiaan itu bisa terwujud dalam aspek pikiran dan perbuatan seorang manusia.

Salah satu cabang ilmu yang bisa dipelajari mengenai kebahagiaan adalah moral dan etika, terutama dalam perspektif filsafat Islam. Sebelum masuk pada uraian yang lebih dalam, mari kita awali dari apakah pengertian moral dan etika itu secara umum.

Moral dan Etika

Moral dan etika menurut Franz Magnis Suseno harus dibedakan. Namun pembedaan ini tidak dimaksudkan untuk memisahkan keduanya, melainkan menunjukkan batas-batas tertentu dalam kajian dan pendekatannya.

Moral dan etika sejatinya sangat terkait erat dan berhubungan satu sama lain. Moral menurut KBBI adalah akhlak, budi pekerti atau susila.

Franz Magnis Suseno mengatakan bahwa moral merupakan ajaran-ajaran, wejangan-wejangan, patokan-patokan, entah lisan/tertulis, tentang bagaimana seseorang harus hidup dan bertindak, agar ia menjadi menusia yang baik. Sumber ajaran-ajaran itu bisa berasal dari orang tua, guru, masyarakat dan agama.

Menurut Widjaja, moral adalah ajaran baik dan buruk tenang kelakuan (akhlak). Oleh karena itu, moral merupakan ajaran-ajaran yang bersumber dari suatu golongan tertentu yang termanifestasi lewat sebuah perilaku dalam praktik kehidupan sehari-hari. Artinya, moral ini lebih bersifat nyata dan konkrit.

Etika menurut KBBI berarti (1) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk; (2) kumpulan asas atau nilai yang berhubungan dengan akhlak; (3) nilai mengenai benar atau salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Etika diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau golongan untuk mengatur tingkah laku hidupnya. Dengan kata lain, etika di sini berarti sebagai sistem nilai/kumpulan nilai yang dianut oleh seseorang atau suatu masyarakat. Jadi, etika lebih bersifat abstrak dibandingkan moral karena masih berupa sistem, pemikiran dan teori.

Franz Magnis Suseno berpendapat bahwa etika merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan moral. Etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran.

Etika hendak memahami mengapa manusia harus mengikuti ajaran-ajaran yang diperintahkan. Misalnya, moral agama mengajarkan bahwa bermabuk-mabukan adalah perbuatan yang tidak terpuji dan seharusnya tidak dilakukan oleh manusia.

Lalu, melalui sudut pandang etika kita akan melontarkan pertanyaan, mengapa agama melarang manusia melakukan perbuatan mabuk-mabukan itu? Artinya, di sini kita mencari argumen-argumen rasional yang meyakinkan kita dalam menentukan suatu perbuatan.

Dengan mempelajari etika dapat membantu kita agar tidak hidup sekadar ikut-ikutan terhadap berbagai pihak yang menetapkan suatu aturan dan kita mengerti sendiri mengapa kita harus begini atau begitu. Bisa dikatakan secara eksplisit bahwa etika bersifat rasional.

Secara garis besar, maka dapat disimpukan bahwa etika merupakan teori/pemikiran tentang perbuatan baik dan tidak baik. Sedangkan moral adalah bentuk praktik nyata dalam tindakan/perilaku.

Dari sudut pandang sejarah, filsafat moral dan etika ini sudah ada sejak zaman Yunani Kuno. Aristoteles merupakan salah satu tokoh filosof Yunani Kuno yang terkenal dengan buku Etica Nikomachea-nya. Di dalam bukunya itu ia adalah orang yang pertama kali mengatakan bahwa tujuan semua manusia adalah kebahagiaan (Eudaimonia). Kebahagiaan itu diperoleh dengan moral dan etika yang terkumpul dalam sebuah keutamaan.

Untuk mencapai kebahagiaan, menurut Aristoteles, seseorang harus membangun keutamaan itu. Keutamaan adalah kumpulan sikap kebijaksanaan praktis (Phronesis), kejujuran, pengembangan diri, konsisten, keberanian dan berbudi luhur. Lebih lanjut, Aristoteles mengatakan bahwa keutamaan-keutamaan itu tidaklah alami, melainkan sesuatu yang kita pelajari. Oleh karena itu, untuk mempelajarinya kita membutuhkan filsafat moral dan etika.

Pada masa Aufklarung di Eropa abad ke-18, Immanuel Kant filosof asal Jerman mengembangkan pandangan moral dan etika lebih jauh. Jika Aristoteles mengatakan bahwa tujuan etika adalah kebahagiaan, maka Kant berpendapat lain.

Etika yang digagas oleh Kant adalah etika deontologi. Etika deontologi mengajarkan bahwa sebuah tindakan itu benar jika tindakan itu selaras dengan prinsip kewajiban yang relevan untuknya. Artinya, nilai perbuatan seseorang itu terletak pada perilakunya yang sesuai dengan kewajiban dan diyakini untuk ditaati. 

Perilaku itu timbul karena kesadaran batin dan bukan karena paksaan atau dorongan-dorongan dari luar diri seseorang. Istilah itu disebut juga "moralitas otonom". Dengan kesadaran dari dalam, seseorang melakukan perbuatan yang sesuai dengan kewajiban secara universal.

Dengan demikian, Kant mengajarkan bahwa dengan moral dan etika, seseorang dituntut untuk berbuat sesuai kewajiban tanpa pamrih dan tanpa paksaan dengan kesadaran yang tinggi. Pandangan Kant ini bercorak humanistis dan rasional. Hal ini sesuai dengan pernyataannya yang terkenal, “Setinggi-tingginya bintang di langit, kesadaran moral di dada manusia jauh lebih tinggi.”

Dari moral dan etika Aristoteles kita bisa belajar untuk hidup berdasarkan sikap-sikap keutamaan dan dari Kant kita dapat belajar menjadi manusia yang sadar, bebas, dan bertanggung jawab dalam berperilaku tanpa paksaan. Kedua orang itu merupakan jagoan di bidang moral dan etika dalam panggung filsafat Barat.

Lalu, bagaimanakah etika dan moral menurut kacamata filsafat Islam?

Moral dan Etika (Filsafat Islam)

Para filosof muslim dalam membahas persoalan moral dan etika lebih dekat kepada Aristoteles. Menurut mereka, tujuan yang ingin dicapai dengan moral dan etika adalah kebahagiaan yang terdiri dari unsur rasa aman, damai dan tenang. Hal ini sejalan dengan arti Islam itu sendiri secara harfiah, yakni selamat, damai dan tunduk.

Para filosof muslim berpendapat bahwa kebahagiaan itu dapat diperoleh dengan perbuatan susila dan pengerahan daya berpikir. Jadi, moral dan etika dalam kacamata filsafat Islam sejajar dengan Akhlak al-Karimah, yakni perbuatan-perbuatan terpuji yang dianjurkan oleh Al-Quran dan Sunnah. Dengan melakukan perbuatan-perbuatan dan kesusilaan yang terpuji, maka seseorang akan merasakan kebahagiaan.

Pemikiran para filosof muslim tentang moral dan etika berfokus pada masalah kebahagiaan. Di sisi lain, mereka tidak melakukan distingsi yang jelas antara moral dan etika. Dengan kata lain, dalam alam pemikiran filsafat Islam, moral dan etika adalah kesatuan yang utuh. Jadi, pemikiran mereka bisa dikatakan merupakan sebuah “panduan” moral dalam bertingkah laku untuk mencapai kebahagiaan.

Selain itu, pemikiran mereka dalam bidang moral dan etika juga mengandung unsur rasionalitas serta keilmiahan dalam mencapai kebahagiaan. Yang menarik, menurut mereka, moral dan etika juga berfungsi sebagai pengobatan rohani. Bagaimana bisa?

Filsafat Islam memandang moral dan etika sebagai pengobatan rohani. Para filosof muslim mensejajarkan moral dan etika dengan ilmu kedokteran, baik dalam aspek metodenya (epistemologi) maupun kemanfaatannya (aksiologi).

Al- Razi, seorang filosof muslim dan ahli kedokteran abad ke-10, secara tegas menyebutkan mengenai pengobatan rohani sebagaimana dalam karyanya yang berjudul Thibb al-Ruhani (Kedokteran Rohani). Dalam memandang manusia, filsafat Islam melihat secara menyeluruh, baik aspek jiwa dan fisik. Keduanya adalah kesatuan yang tidak terpisahkan.

Jika ilmu kedokteran berfokus pada dimensi fisik manusia, maka moral dan etika berfokus pada dimensi mental maupun fisiknya berupa perbuatan-perbuatan. Metode pengobatan moral dan etika sama halnya dengan metode kedokteran yang preventif dan kuratif.

Bagi para filosof muslim, kebahagiaan adalah kondisi jiwa yang tergambarkan oleh unsur-unsur ketentraman, rasa aman, damai dan tenang. Sementara menurut KBBI, kebahagiaan adalah keadaan senang, tentram, terbebas dari segala yang menyusahkan. Jadi, ketentraman adalah unsur penting dari kebahagiaan. Kebahagiaan akan tercapai jika ketentraman itu lebih dulu ada.

Perlu digarisbawahi bahwa kebahagiaan itu tidak sama dengan kenikmatan, kepuasan dan kesenangan. Nilai kebahagiaan jauh melampaui ketiga hal itu. 

Kebahagiaan terbagi menjadi dua, yaitu kebahagiaan kesusilaan dan kebahagiaan akaliah. Kebahagiaan sangat terkait erat dengan kesusilaan karena menurut para filosof muslim, kesusilaan merupakan prasayarat utama. Di sisi lain, Al-Razi mengatakan bahwa kebahagiaan sangat terkait erat dengan kewajaran (tidak berlebihan) dan adil, yakni kewajaran yang rasional (masuk akal).

Kesusilaan menurut KBBI adalah sebuah kondisi ketinggian tingkat kecerdasan lahir dan batin. Jadi, berdasarkan perspektif filsafat Islam, perilaku terpuji (Akhlak al-Karimah) dan kewajaran rasional akan menjamin seseorang untuk mencapai kebahagiaan di dalam kehidupan. Manusia harus melakukan kebaikan, karena dengan kebaikan manusia akan merasakan kebahagiaan.

Agar kebahagiaan dapat dirasakan terus menerus, maka kita harus memelihara kesehatan jiwa. Ibnu Miskawaih mengatakan, ada 5 cara yang dapat dilakukan untuk memelihara kesehatan jiwa:

1. Memilih teman yang baik agar tidak bergaul dengan orang yang buruk tabiatnya. Karena perilaku buruk itu dapat mencegah kita melakukan perbuatan baik.

2. Berolah pikir bagi kesehatan mental sama pentingnya berolahraga bagi kesehatan fisik. Hal itu dilakukan dalam bentuk kontemplasi dan refleksi.

3. Memelihara kesucian dengan tidak merangsang hawa nafsu.

4. Menyesuaikan rencana yang baik dengan perbuatan sehari-hari.

5. Berusaha memperbaiki diri dengan mencari dan mengenali kelemahan diri sendiri.

Memelihara kesehatan jiwa dan pengobatan rohani juga ditekankan oleh filosof muslim yang lain, yakni Al-Kindi. Menurutnya, salah satu bentuk penyakit atau kondisi patologis jiwa adalah kesedihan. Penyebab (etiologi) dari kesedihan adalah hilangnya apa yang dicinta dan tidak mampu dalam menggapai harapan-harapan.

Jika jiwa mengalami kesedihan, Al-Kindi memberikan resep pengobatan terkait dua penyebab kesedihan itu.

1. Kesedihan karena kehilangan apa yang dicintai

Obatnya adalah dengan menumbuhkan pemahaman bahwa sifat segala sesuatu di dunia ini adalah fana. Apapun yang dicintai pasti akan musnah. Jadi, manusia janganlah mengharapkannya agar kekal dan abadi. Mencintailah sewajarnya.

2. Kesedihan karena tidak terwujudnya harapan

Obatnya adalah dengan mengembangkan perilaku hidup yang sederhana, suka menerima (qana’ah) dan menyesuaikan keinginan dengan kemampuan yang dimiliki.