Seberapa banyak persentase para orang dewasa yang sungguh menghargai fase kehidupannya ketika masih menjadi anak kecil? Jika dibayangkan bagaimana menyenangkannya petualangan yang menjadi kenangan masa kanak-kanak, rasanya sayang bila harus mengabaikannya.

Namun, sebelum Abad Pencerahan, para orang dewasa sering menganggap masa kanak-kanak hanya diperuntukan sebagai persiapan bagi kehidupan dewasa (Jostein Gaarder, 2016). Bolehlah sedikit menafsirkan bahwa sebelum Abad Pencerahan, para anak sering dilarang-larang, sering dipaksa-paksa karena alasan untuk kebaikan masa depan mereka.

Pernah suatu ketika dibercandain seorang kenalan yang berprofesi sebagai tukang parkir, “Jangan ikut-ikutan guyonan kami, nanti kamu tidak laku dijual.” Yang dimaksud guyonan adalah gaya bercanda mereka yang mendambakan hal-hal tidak pantas.

Tidak dapat dimungkiri bahwa berharga atau tidaknya orang dewasa dilihat dari seberapa bergunanya dalam kehidupan – kesopanan masuk di dalamnya – dan seberapa mandiri tentu saja.

Bahkan, zaman sekarang pun tidak sedikit yang memandang manusia sebagai barang dagangan. Jangan sangka hanya rakyat kelas bawah saja yang mengamini sistem nilai tersebut. Kelas menengah-atas juga mengamininya.

Bukanlah sebuah kesalahan menjadikan peran dan kemandirian sebagai tolok ukur nilai seseorang? Nilai tersebut terbukti membawa manfaat. Menjadi masalah ketika tolok ukur tersebut membuat para anak tidak diakui eksistensinya.

Bentuk penolakan eksistensi anak berupa represi atas keinginan dan cita-cita orisinal yang tumbuh dari diri anak sendiri. Contoh represi keinginan anak seperti sering melarang bahkan memarahi hanya karena banyak bertanya, meniru, ketika terlalu aktif, atau ketika tidak mau serius memperhatikan arahan. Kadang memang menjengkelkan karena mengganggu.

Kemudian, represi cita-cita dapat berupa memaksa anak untuk mengikuti pelatihan tertentu, padahal anak tidak tertarik dengan bidang tersebut. Perlu diketahui bahwa tidak tertarik berbeda dengan menarik diri karena malu atau minder.

Rousseau, seorang pemikir Abad Pencerahan (dalam Jostein Gaarder, 2016), menyatakan, “Kita harus kembali ke alam, sebab alam itu baik, dan manusia secara alamiah baik, sedangkan peradaban itulah yang menghancurkan.” Bahkan, ia menganjurkan agar anak dibiarkan melakukan sesuatu sekehendak hatinya, tanpa direpresi oleh kebudayaan.

Abad Pencerahan dipenuhi oleh para pemikir yang sepemikiran dengan Rousseau yang menjunjung tinggi rasionalitas. Karena akal sejatinya merupakan unsur alam, maka apa pun yang alami dianggap baik seperti kecenderungan bawaan anak.

Abad Pencerahan saja pelakunya banyak yang mengamini akibat buruk represi terhadap kecenderungan anak. Oleh sebab itu, seharusnya dewasa ini para pelakunya juga mewarisi nilai tersebut. Tenang, zaman kita juga ada yang mewarisi nilai tersebut. Kalau tidak, maka dari mana asal DIR Floortime?

DIR Floortime adalah strategi pendidikan anak untuk mengembangkan keberanian bersosial dan mengembangkan pengendalian diri ketika menghadapi orang lain. Bagaimana cara kerja DIR Floortime? Yaitu dengan bermain bersama anak (Debora Basaria, 2018).

Ketika bermain bersama, para anak diharapkan mampu terbiasa rileks saat berhadapan dengan orang lain, baik teman sebaya atau para orang dewasa yang membimbingnya. Harus ada orang dewasa sebagai pembimbing untuk mengenalkan anak arti sportivitas. Tahu tidak kalau hakikat kedewasaan adalah sportivitasJadi, anak kecil pun mampu bersikap dewasa.

Sebelum mengenal DIR Floortime, sempat timbul pertanyaan, benarkah anak kecil mampu bersikap dewasa? Pertanyaan tersebut muncul setelah membaca novel Anak Rantau karangan A. Fuadi dan novel Si Anak Badai karangan Tere Liye.

Kedua novel tersebut sama-sama menyorot anak kecil dan menjadikannya peran sentral dalam alur cerita. Bagaimana tidak bertanya-tanya setelah disuguhi cerita epik penyelesaian masalah oleh anak kecil yang belum tentu orang dewasa mampu melakukannya.

Para anak kecil ini mampu berdamai dengan teman sebayanya setelah bertengkar, mampu memotivasi temannya agar tetap lurus, dan berani melawan penindasan yang dilakukan para orang dewasa (tentu dengan bimbingan orang dewasa).

Kendatipun demikian, para anak dalam kedua cerita sebenarnya sama-sama belum mengerti makna dari perbuatan mereka. Para anak tersebut bertindak semata karena lingkungannya. Sekolah, keluarga, dan masyarakatnya menjadi lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang mereka.

Ketiga tempat tersebut memberikan kebebasan bagi para anak untuk mengeksplorasi lingkungannya, memberi kebebasan berekspresi dengan tidak melarang anak bermain di mana pun tempat yang ingin mereka eksplorasi.

Bahkan, di tempat yang sedang mengadakan acara penting bagi orang dewasa sekalipun. Contoh tempat penting yang dimaksud seperti proyek pembangunan, kantor kecamatan yang sedang mengadakan rapat, atau tempat UMKM dijalankan.

Tentu tidak serta-merta mengabaikan para anak tersebut hanya karena ingin membebaskan mereka mengeksplorasi lingkungan. Para orang dewasa diceritakan menarik-ulur dalam mendidik sang anak. Ibarat bermain layang-layang, mereka tahu kapan harus menarik-ulur sebuah layang-layang agar tidak putus benangnya pun tetap terbang tinggi.

Selain itu, para anak di kedua novel tersebut digambarkan senang belajar dengan alam. Dengan begitu, alam pasti memberi permasalahan yang akan membantu mereka mengenali makna sportivitas.

Para anak juga senang meniru tokoh idaman mereka baik dari lingkungan mereka sendiri atau dari kisah-kisah fiktif yang mereka ketahui. Tokoh anak kecil dalam novel Anak Rantau menggandrungi seorang detektif dan berusaha menirunya dengan ikut membantu kepolisian setempat menyelidiki kasus pencurian sampai penyebaran obat terlarang.

Sedangkan dalam novel Si Anak Badai, para tokoh sentral yang masih anak-anak berani menyelinap ke markas musuh untuk mengambil bukti penting sebuah kejahatan, karena percaya keturunan para nelayan haruslah berani dan tangguh. Para anak kecil tersebut berusaha meniru keberanian dan ketangguhan idolanya, yaitu nenek moyangnya sendiri.

Jadi, masihkah ingin mengekang anak dengan pelatihan atau pembelajaran yang menjemukan mereka? Masihkah takut sang anak terluka karena bermain di luar? Takutlah bila sang anak tidak mampu bersikap dewasa.

Jangan terbalik: takut bila sang anak ketika dewasa tidak laku di pasar tenaga kerja, maka berhati-hatilah karena risikonya adalah mental menghalalkan segala cara.

Catatan: bisa saja orang tua ingin mengasuh anak secara over protection tanpa mengganggu kesehatan mental anak, tetapi sungguhkah mampu menjaga kesehatan mental anak dengan metode pengasuhan seperti itu?

Jangan over protection juga, kalau mengasuh secara penuh mungkin masih bisa, dengan cara selalu bersama dan saling melengkapi misal. Prinsip pedagogi dapat diterapkan. Namun, tidak inginkah sang buah hati memiliki kenangan berkesan selain dari lingkungan keluarga?

Sumber Rujukan

  • Fuadi, A. 2017. Anak Rantau (E. Sembodo, Ed.). Jakarta: PT Falcon.
  • Gaarder, Jostein. 1991. Dunia Sophie. Terjemahan Rahmani Astuti. 2016. Bandung: PT
  • Mizan Pustaka.
  • Kirana, Elita., Atmodiwirjo, Ediasri, T. & Basaria, Debora. 2018. Penerapan DIR Floortime
  • Pada Anak Autism Spectrum Disorder untuk Meningkatkan Kemampuan Sosial. Jurnal Psibernetika, (Online), 11 (2): 133-144.
  • Liye, Tere. 2019. Si Anak Badai (A. Rivai, Ed.). Jakarta: Republika Penerbit.