Pandemi covid-19 memberi dampak krisis untuk sektor kesehatan, ekonomi, & pangan. Organisasi pangan dunia, Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi akan terjadi krisis pangan dunia, termasuk juga Indonesia. 

Menurut pengamat pangan dari Institute For Development of Economic and Finance (INDEF), Rusli Abdullah mengatakan ancaman krisis pangan terjadi karena kegiatan logistik hingga proses impor terganggu akibat pandemi covid-19. Hal tersebut bisa menyebabkan kelangkaan produk pangan.

Indonesia akan menghadapi tantangan dalam sektor pangan. Stok beras Indonesia sebesar 2,8 juta ton bisa untuk persediaan sampai Januari 2021. Jika pandemi masih terjadi, Indonesia akan mengalami krisis beras karena Vietnam menyetop impor berasnya. Sedangkan, panen raya di Indonesia terjadi pada Maret 2021.

Fenomena tersebut menyadarkan banyak masyarakat Indonesia bahwa sektor pertanian sangat penting untuk bertahan di masa krisis. Sekarang mulai banyak sarjana-sarjana muda banting setir menjadi petani. 

Bahkan, sarjana yang terjun menjadi petani bukan hanya lulusan fakultas pertanian, banyak dari mereka berlatar belakang non-lulusan fakultas pertanian. Salah satu sarjana yang banting setir menjadi petani adalah Permadi, sarjana teknik lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Permadi menanam padi organik, jagung, cabai di sawah dan kebun miliknya. Dia pada akhirnya memilih menjadi petani karena kesadarannya bahwa Indonesia kekurangan petani muda dan sektor pertanian salah satu sektor yang bisa tahan di masa krisis. “Semua orang butuh makan, sumber makanan berasal dari pertanian. Jadi walau di masa krisis produk pertanian akan tetap dicari masyarakat,” kata Permadi.

Pada masa perang dunia 1 dan 2 berlangsung, Amerika Serikat dan Inggris memerintahkan masyarakatnya agar berkebun untuk memenuhi kebutuhan mandiri. Masyarakat yang berkebun secara tidak langsung membantu negara menekan dana pangan untuk memperkuat militer. 

Masyarakat dunia sekarang tidak berperang secara militer, tapi sedang berperang melawan Covid-19 dan dampak krisisnya. Kita semua bisa menerapkan ketahanan pangan yang dimulai dari berkebun seperti Amerika Serikat dan Inggris di masa perang dunia 1 dan 2.

Untuk mendukung ketahanan pangan, kita dapat mencoba menanam sayur-mayur dataran rendah. Banyak sayur yang bisa ditanam dengan mudah di rumah dan membutuhkan waktu panen yang relative tidak terlalu lama. Kangkung dan bayam panen 21 hari, sawi panen 40 hari, tomat panen 60 hari, cabai panen 70 hari, dan umbi-umbian panen 80 hari.

Namun, tidak semua masyarakat bisa mulai bertani. Problem utama yang dihadapi adalah tidak tersedianya lahan untuk menanam. Tidak semua masyarakat mempunyai sawah dan kebun, terutama masyarakat yang tinggal di perkotaan. 

Seiring berkembangnya teknologi, muncul model pertanian modern, yaitu Urban Farming. Urban Farming adalah konsep memindahkan pertanian konvensional menjadi pertanian perkotaan.

Banyak metode yang dapat dilakukan dalam urban farming. Berikut metode urban farming dan jenis tanaman yang bisa di tanam:

Metode Vertikultur: Budidaya menanam secara vertikal menggunakan paralon atau botol. Metode ini cocok untuk menanam strawberry, bayam, seledri, dan sawi.

Metode Hidroponik: Budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Hidroponik cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasokan air terbatas. Metode ini cocok untuk menanam timun, selada, melon, dan tanaman herbal rempah.

Metode Akuaponik: proses budidaya yang menggabungkan antara konsep budidaya menanam dengan budidaya ikan yang bersifat simbiotik. Metode ini cocok untuk menanam kangkung dan ikan lele, mujair, dan ikan mas.

Metode Wall Gardening: konsep wall gardening hampir sama dengan metode vertikultur. Namun perbedaannya adalah metode ini menggunakan dinding sebagai media tanam. Metode ini cocok untuk menanam tomat, cabai, dan umbi-umbian.

Urban farming bisa menjadi solusi untuk masyarakat kota yang ingin bisa bertani. Hasil dari bertani tersebut bisa digunakan untuk tambahan sumber pangan masyarakat perkotaan. Jika dikembangkan dengan baik, konsep bertani urban farming bisa dijadikan lahan bisnis dan sumber ketahanan pangan masyarakat kota di saat krisis.

Salah satu kota di Indonesia yang sukses menerapkan urban farming adalah kota Bogor, provinsi Jawa Barat. Pemerintah kota Bogor melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan telah membina 24 kelompok  masyarakat untuk menanam sayur-mayur. Walikota Bogor, Bima Arya mengatakan urban farming di Kota Bogor dapat menarik minat Bank Indonesia Jawa Barat untuk menjadikan proyek percontohan.

Sebuah penelitian Profesor dari Arizona  State University, Matei Georgescu mengungkapkan bahwa jika implementasi urban farming dilakukan secara penuh di setiap kota besar dunia, produksi urban farming dapat menghasilkan 180 juta ton bahan makanan selama setahun. Produksi tersebut merupakan 10 persen dari total hasil produksi makanan secara global.

Bagi masyarakat pedesaan ketersediaan lahan bukan menjadi masalah utama. Mereka bisa leluasa memanfaatkan sawah dan lahan di kebun rumahnya yang luas. 

Ketersediaan lahan yang luas membuat masyarakat pedesaan lebih banyak memilih model pertanian konvensional, tapi ada juga masyarakat pedesaan yang mencoba inovasi urban farming. Hasil pertanian masyarakat pedesaan yang lebih melimpah bisa mencukupi kebutuhan pangan mandiri masyarakat pedesaan dan bisa mencukupi kebutuhan pasar.

Hal yang terpenting adalah dukungan dari pemerintah. Peran pemerintah disini bisa mendukung dengan memberi bantuan bibit dan pupuk gratis kepada masyarakat. 

Selain itu, pemerintah melalui Dinas Pertanian di seluruh daerah bisa memberikan pelatihan kepada masyarakat agar bisa mulai melakukan praktik berkebun di masing-masing rumah, mengingat belum semua masyarakat menguasai ilmu berkebun yang baik dan benar. Langkah tersebut adalah awal kedaulatan pangan berawal dari kebun rumah.