Kondisi di saat peradaban bangsa Arab tentunya merupakan suatu kondisi yang sangat kelam. Dikatakan kondisi yang sangat kelam karena banyak terjadi hal-hal buruk seperti  permusuhan, perselisihan, ketidakadilan, penindasan, perbudakan bahkan pembunuhan.

Namun demikian banyak terjadi perubahan setelah Nabi Muhammad Saw berperan membawa keterangan dengan mukjizatnya yakni Al-Qur’an sebagai pedoman dasar kehidupan serta tata cara berperilaku Nabi. Sehingga muncul peradaban baru yakni peradaban Islam.

Perubahan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw yang dilihat dari sisi Pendidikan seperti masyarakat Arab yang dahulunya dikenal dengan masyarakat yang buta huruf. Kebanyakan penyair akan lebih bangga dengan pendayagunaan hafalannya dibandingkan dengan tulisan. 

Kedatangan Nabi Muhammad Saw ke Madinah di awal-awal masa kehijrahannya membuat terbukanya kesadaran baru terhadap baca tulis. Madinah yang sebagian penduduknya merupakan orang Yahudi sedikit lebih maju dalam dunia tulis-menulis.

Pertemuan antar dua budaya, Makkah dan Madinah membawa pada sudut pandang baru Rasulullah. Saat Nabi Muhammad Saw memasuki Madinah, beliau melihat kaum Yahudi mengajari anak-anak baca tulis. 

Nabi pun kemudian tertarik dan menyuruh sepuluh orang di antara para sahabatnya untuk belajar pada orang Yahudi tersebut. Apa yang dilakukan Nabi merupakan sebuah pedoman semangat keilmuan. Kepada siapapun umat boleh belajar bahkan kepada pemeluk agama lain.

Perubahan ekonomi masyarakat Arab, beberapa orang dalam kebudayaan Arab berpencaharian sebagai pedagang. Nabi merupakan salah satu di antara sosok yang pernah masuk dan berada di tengah-tengah komunitas tersebut.

Rasulullah juga sangat mengenal praktik riba dan untuk itu di beberapa Hadis dan Al-Qur’an riba menjadi salah satu tema yang dibahas. Penghapusan riba juga berkorelasi dengan upaya pengentasan kemiskinan.

Selain penghapusan riba, Islam juga sangat memperhatikan praktik monopoli. Untuk menanggulangi hal tersebut dan agar harta tidak berputar pada satu pihak, maka diberlakukanlah kewajiban zakat yang terdiri atas zakat mal dan fitrah. 

Dari sisi sosial budaya seperti, penghapusan perbudakan, tidaklah kebetulan Islam dalam beberapa hukuman yang diberlakukan kepada mukallaf mengharuskan atas pembebasan budak. Pengangkatan derajat budak juga terlihat ketika bilal mengumandangkan azan, sebuah posisi yang terhormat. 

Nabi Muhammad Saw lebih memilih posisi itu untuk diisi oleh seorang mantan budak sebagai lambang kesetaraan. Dalam Al-Qur'an kata budak sendiri diulang sebanyak 90 kali dengan berbagai trend baik antonim maupun yang sepadan dan kebanyakan mengacu terhadap pengentasan budak. 


Kemudian toleransi antar beragama yang paling terlihat selama peradaban Nabi Muhammad Saw adalah ketika berada di Madinah. Nabi Muhammad Saw mulai meletakan dasar-dasar kehidupan sosial antar umat beragama.

Menurut Munawir Syadzali, beberapa poin yang bisa digaris bawahi dari piagam Madinah adalah pembentukan umat tamaddun (berperadaban) dan toleransinya dengan pemeluk agama lain seperti; saling bertetangga baik, saling membantu dalam menghadapi musuh bersama, membela mereka yang dianiaya, saling menasihati dan, menghormati kebebasan beragama. 

Selanjutnya point yang paling penting dari peradaban yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw adalah kedudukan kaum perempuan. Dahulunya bayi wanita yang lahir dianggap sebagai sebuah petaka dan bagi orang yang masih memegang tradisi jahiliyah akan tega menguburnya hidup-hidup. 

Kedatangan Islam tidak sekedar merupakan gerakan sosial keagamaan namun juga gerakan kemanusiaan. Harta waris dan pembatasan istri merupakan salah satu upaya Islam mengangkat derajat wanita.

Dahulunya wanita dan anak-anak tidak mendapatkan warisan. Bahkan dalam hubungan pernikahan, seorang laki-laki bisa memiliki istri lebih dari tujuh orang. Kedatangan Islam membangun budaya baru dengan membatasi jumlah istri cukup empat orang.

Hal tersebut pada masa itu dianggap cukup adil mengingat posisi dan kedudukan perempuan yang sejak dulu tidak diperhatikan. Setelah datangnya peradaban Islam memang memiliki peran signifikan terhadap pengangkatan derajat kaum perempuan. 

Setelah Islam datang dengan membawa seperangkat aturan, kondisi perempuan di masyarakat Arab mulai membaik. Islam datang menghapuskan penguburan hidup-hidup terhadap perempuan yang lahir di masyarakat Arab. 

Terakhir, aturan memakai jilbab bagi perempuan adalah salah satu upaya untuk menjaga kehormatan perempuan. Nabi SAW juga menyuruh wanita untuk memakai jilbab jika keluar di muka umum. 

Hal ini diharuskan karena pada waktu itu kaum wanita rawan menjadi sasaran penghinaan dan gangguan laki-laki. Akan tetapi pada waktu modern, penggunaan pakaian sebagai hasil budaya menjadi sangat beragam. 

Beberapa negara masih menerapkan cara pakaian wanita Islam harus menutupi seluruh anggota badannya dan memakai cadar seperti di Arab Saudi tahun 1926. Sedangkan negara-negara lainnya membebaskan pakaian kaum wanitanya layaknya wanita Eropa, contohnya di Mesir, Iraq, dan sebagian negara Timur Tengah lainnya.

Sebelum masa modern kedudukan wanita dalam Islam telah mengalami kemajuan, di mana para wanita telah banyak  yang menuntut ilmu dan meninggikan derajatnya di muka umum. Kata lainnya yakni wanita sudah diratukan.