Pemilu merupakan salah satu nyata wujud penerapan demokrasi di Indonesia. Hampir di seluruh Indonesia pemilu dijadikan sebagai salah satu cara untuk memilih pemimpin yang dilakukan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Namun dalam praktiknya kecurangan-kecuraangan dalam pemilu masih sering dilakukan, padahal ini melanggar asas yang sudah ada. Seperti yang pernah terjadi di desa saya.

Pemilihan kepala desa merupakan salah satu peristiwa yang selalu ditunggu-tunggu di desa saya. Kenapa? Karena pada masa kampanye biasanya para calon akan membuat acara yang meriah di rumahnya masing-masing, dengan tujuan untuk mengundang warga desa agar datang ke rumahnya.

Sebenarnya itu sebuah tindakan yang terpuji, karena setiap tamu yang datang akan disuguhi berbagai jajanan dan juga dipersilahkan untuk menikmati jamuan makan yang disediakan keluarga calon kepala desa. Semuanya bebas memakan apapun dan sebanyak apa pun, dan tentu saja hal ini disambut baik oleh setiap warga. Dari pagi hingga malam, semua warga mulai dari tua, muda hingga anak-anak datang untuk sekadar mencicipi makanan.

Ingat kalimat ‘tidak ada yang gratis di dunia ini’ dan dalam hal ini acara jamuan yang diberikan calon kepala desa ada harganya. Tapi bukan dalam bentuk uang, melainkan suara. Jadi sederhananya, si calon kepala desa meminta agar para warga yang datang supaya memberikan hak suaranya pada si calon.

Jadi, selain acara jamuan makan yang lauknya enak-enak, para warga juga akan diberi amplop sebagai oleh-oleh saat pulang. Isinya? Anda pasti sudah tahu apa isinya, bahkan sebelum membukanya.

Anda mungkin berpikir, ‘harusnya ditolak karena itu adalah perbuatan yang salah’, tapi cobalah untuk mengerti pola pikir masyarakat desa. Mereka yang mayoritas petani berpenghasilan rendah dan hidup seadanya. Misalkan saja disebuah desa ada pemilihan kepala desa, ada tiga orang yang mencalonkan diri dalam pemilihan tersebut.

Setiap calon akan memberikanRp.50.000 per orang. Yakin dengan pemikiran seorang warga desa anda akan menolak? Tentu saja rasanya sangat sayang jika kesempatan macam ini dilewatkan.

Dan para calon kepala desa pun punya cara tersendiri untuk menarik pendukung. Selain jamuan makan dan juga amplop, terkadang ada calon yang melakukan pelayanan masyarakat dengan membangun atau memperbaiki fasilitas umum yang ada. Jangan tanya berapa uang yang mereka punya untuk melakukan itu semua, yang jelas untuk mencalonkan diri anda harus punya banyak uang agar para warga  mau memilih anda.

Bahkan jika usaha yang mereka lakukan masih belum bisa menjanjikan mereka terpilih, maka ada cara ekstrem yang masih bisa ditempuh. Seperti yang pernah terjadi didesa saya dulu, si calon kepala desa membagikan uangnya langsung di TPU tepat pada saat sebelum pemilu dilaksanakan, tujuannya tentu saja untuk menarik suara lebih banyak, tapi hasilnya tetap tergantung para pemilih.

Orang-orang pasti tahu kalau ini namanya politik uang, atau bahasa Inggrisnya money politics, atau bahasa sederhananya menyogok. Tentu saja ini perbuatan yang salah, karena melanggar aturan yang ada. Tapi warga desa yang berpikiran sederhana tak terlalu ambil pusing tentang aturan.

Dalam pemilu yang lebih besar saja kecurangan masih bisa belum dicegah apalagi skala sekecil desa, jadi  bagi mereka bukan masalah besar untuk menerima uang dari para calon. Tinggal memilih saja siapa yang akan dipilih, secara langsung, umum, bebas, tapi tidak rahasia, jujur dan adil.

Dulu saat sekolah, pertanyaan kenapa politik uang masih belum bisa diberantas di Indonesia benar-benar bahan diskusi yang sangat menarik. Guru sejarah saya pernah menceritakan alasan kenapa orang-orang mudah disogok dengan uang, apalagi kalangan rakyat menengah ke bawah.

Beliau bilang, yang mereka pikirkan bukanah siapa yang mencalon, siapa yang lebih pandai atau siapa yang lebih kaya, tapi yang mereka pikirkan adalah perut, selama perut mereka kenyang, maka rakyat akan diam, jadi semakin banyak yang anda berikan pada rakyat, maka rakyat tak akan protes. Hal inilah yang pernah terjadi di Indonesia dulu, tapi kapan tepatnya Indonesia pernah mengalami ini?

Saya rasa tak perlu menjelaskannya, karena ini kata guru sejarah saja, belum tentu pendapat anda sama. Anda tahu multidimensional approach bahwa adalah satu hal yang dibahas dari berbagai sudut pandang, jadi tergantung dari sudut pandang mana orang melihatnya.

Tapi biarlah masa lalu jadi masa lalu. Sekarang setelah banyak pemuda-pemudi desa yang lulus sekolah menengah seperti saya, setelah kami mengerti apa itu politik, politik uang pun sudah jarang terdengar didesa, walaupun masih ada acara jamuan makan.

Jamuan makan sudah seperti tradisi, jadi harus selalu ada di setiap acara pemilihan kepala desa. Kami menyosialisasikan tentang pemilu baik dan sehat kepada para warga, jadi mereka akan menjadi warga yang sadar politik.

Kami juga bekerja sama dengan para mahasiswa-mahasiswa yang melakukan KKN di desa kami. Walaupun minat warga pada politik masih rendah, setidaknya sudah ada para pemuda-pemudi yang mengingatkan mereka bahwa pemilu yang baik adalah pemilu yang berdasarkan asas LUBER JURDIL.

Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Pemuda-pemudi juga sebagai mempelopori pemilu yang sehat, apalagi sekarang pemuda-pemudi merupakan mayoritas warga yang terbanyak di desa.

Untuk memulai sebuah politik yang sehat haruslah dimulai dari skala yang paling kecil, seperti desa. Dulu desa saya memang melakukan kecurangan saat melakukan pemilu, dalam bentuk politik uang. Namun berkat para pemuda-pemudi yang sudah sadar akan perlunya pemilu yang jujur dan sehat guna membangun Indonesia yang benar-benar demokrasi, sekarang sedikit demi sedikit desa saya sudah menjadi lebih baik.

Politik uang sudah jarang terdengar lagi sampai sekarang.

Tahun lalu desa saya melakukan pemilihan kepala desa. Dan tak terdengar adanya politik uang yang dilakukan para calon kepala desa. Kalaupun ada pasti dalam bentuk lain, karena tak terlihat ada yang membagi-bagikan uang, dan itu sudah lebih baik dari sebelumnya. Lagipula sesuatu tak akan berubah secepat kita membalikan tangan kan?

Butuh banyak waktu untuk memperbaikinya sedikit demi sedikit. Yang jelas desa kami sudah lebih baik dalam politik dan semakin banyak warga yang sadar politik.

Pemuda-pemudi benar-benar berperan besar dalam hal ini. Pengetahuan yang kami peroleh tak akan sia-sia karena kami membaginya dengan para warga terutama dalam bidang politik. Semoga Indonesia secepatnya menjadi negara yang bebas berdemokrasi tanpa kecurangan di setiap pemilu.

#LombaEsaiPolitik