Pagi itu pagi paling indah kedua setelah aku memulai tahun ajaran pertamaku di Sekolah Menengah Pertama, lebih tepatnya aku berada pada bangku kelas 7 setelah menyelesaikan belajarku ditingkat Sekolah Dasar.

***

Tasku yang sudah kutata rapi sejak dua minggu lalu kini mulai kugendong untuk kedua kalinya. Di hari pertama bersekolah bukan berarti aku tidak mendapat tugas sama sekali.

Ya, aku mendapat tugas, bisa jadi adalah tugas pertama yang biasa diberikan untuk siswa baru pada masa MOS, yaitu tugas membuat papan nama yang biasa dikalungkan dileher bertalikan rafia.

Biasanya memang tidak harus tali rafia, tapi saat itu memang harus menggunakan tali rafia, mungkin agar kesannya lebih menyedihkan.

Tugas yang kukerjakan semalaman itu kurang lebih bertuliskan nama, absen dan kelas yang sudah ditentukan. O iya, akan kuceritakan sedikit  bagaimana kondisiku setelah mendapat kelas tersebut.

Aku mendapat kelas 7H, saat itu hari pertama aku menginjakkan kaki di sekolah, pembagiannya dilakukan cukup pagi, semua murid baru seangkatanku dikumpulkan di lapangan utama sekolahku, semua nama dipanggil satu persatu disertakan pula nama kelasnya, namaku terdengar sedikit terlambat hingga membuatku cemas.

Maklum saja, aku siswa biasa yang tidak tau apa-apa karena baru saja melangkah ke dunia luar, bukan seperti anak guru misalnya, yang biasanya lebih tau sedikit ketimbang murid biasa seperti aku ini.

Baik, setelah itu aku sedikit berlari ke arah dimana aku bisa berdampingan dengan barisan teman sekelasku, kemudian hanya perlu waktu sebentar untuk menunggu nama-nama yang belum disebutkan.

Suara gemuruh langkah kaki mulai terdengar dari kejauhan yang tampak pada papan nama bertuliskan kelas A. Aku yang sibuk mengamati papan nama tersebut sedikit terdorong oleh teman-temanku yang ternyata sudah mulai berjalan dipandu salah satu anggota OSIS untuk menuju ke ruang kelasku, eh bukan, lebih tepatnya ruang kelas lain, yaitu kelas 8 F.

"Ayo anak-anak siapkan satu buah buku dan bolpoin saja dan segera menuju ke aula!" suara lantang anggota OSIS  yang memandu kelasku.

Akupun segera menyiapkannya dan mengikuti arus teman-temanku yang menuju ke sebuah ruangan luas dengan dua pintu pada kedua ujungnya. Singkat cerita disana aku dijelaskan bagaimana aku harus membuat papan nama yang ditugaskan tersebut.

Jam sudah menunjukan pukul 09.00, penjelasan pagi ini diakhiri setelah sebuah salam sempat dilontarkan oleh kepala sekolah sebelum akhirnya ia meletakkan mikrofonnya.

Semua kebali ke kelas masing-masing, aku kembali sedikit akhir dari teman sekelasku, karna berbadan kecil aku sedikit kesulitan mencari sepatuku, tepat sekali, lagi-lagi aku terdorong oleh teman-teman yang berbadan normal, apalagi besar.

Aku langsung merapikan bajuku begitu aku mendapatkan sepatuku kembali. Alih-alih masuk ke kelas, teman-temanku malah berdiri kebingungan didepan kelas, karena melihat kelas yang kutempati itu tidak lagi kosong, melainkan sekelompok penghuni asli yang sedang menyeret tas mereka kedepan papan tulis. Akan kuperjelas, kami diusir, oleh siapa lagi, tentu saja siswa kelas 8F, penghuni asli kelas tersebut.

Salah seorang temanku akhirnya memberanikan diri untuk mengambil tasnya diikuti oleh semua teman-temanku begitu juga aku. Kami baru menyadari kalau ternyata itu bukan kelas asli kami, tak lama seorang guru datang dan langsung memandu kami keruangan lain karna tak ingin adu mulut dengan muridnya yang masih belum bisa berpikir dewasa.

Kami tiba disebuah ruangan yang cukup bagus dibanding ruangan lain, lantainya berkarpet merah, mejanya bersih tanpa coretan dengan kabel disalah satu kakinya.

Lab komputer, aku baru mngetahuinya setelah aku diberitahu, karena tidak terdapat satupun komputer di meja, kabel-kabel tersebut hanya masih terlilit saja, yang berarti itu adalah sebuah lab kosong dengan AC, aku tidak mengatakan kalau AC itu hidup.

Ketika pintu mulai terbuka semua siswa segera masuk kemudian berebut memilih tempat duduk, dan lagi-lagi aku tidak bisa masuk terlebih dahulu karena tersenggol tubuh teman-temanku hingga akhirnya aku tidak mendapat tempat duduk.

Aku segera berbicara kepada guru pemanduku tadi, tapi ia masih sibuk menata keramaian kelas, terlebih badanku yang kecil ini sudah pasti menghilang dari pandangan karena kelasku berbentuk leter L dimana disudut paling belakang terdapat siswa paling ramai.

Setelah beberapa menit kemudian, suara kecilku ini akhirnya terdengar olehnya, dan akhirnya aku pun mendapat kursi setelah puluhan pasang mata sejak satu menit tadi tidak henti-hentinya melihat langkahku menuju meja belakang.

Itulah hari pertamaku bagaimana aku mendapat kelas, tidak hanya sampai disitu kemalangan yang kami alami, kami harus pindah-pindah kelas mungkin 10 kali dalam setahun, belum lagi tahun selanjutnya ketika aku sudah kelas 8 yang ternyata aku mendapat kelas yang tidak semestinya lagi.

Namun apa boleh buat, saat itu memang sedang dalam masa pembangunan, dan beberapa kelas memang belum jadi, kami dijanjikan akan menempati kelas baru tersebut.

***

Baik kita kembali lagi ke ketika aku mengenalkan tugas pertamaku. Di hari kedua tersebut aku berangkat seperti bagaimana aku berangkat kemarin, aku berangkat bersama temanku menaiki angkutan umum.

Jarak rumahku sampai sekolah terbilang jauh, yaitu sekitar 4 km dimana satu kilo meter sebelumnya aku harus berjalan kaki. Perasaanku seperti biasanya, aku bahagia karna akan merasakan pengalaman baru dihari kedua ini. Sekitar 10 menit kemudian angkutan umum yang aku tumpangi berhenti ditepi jalan dekat gang menuju sekolah, semua penumpang turun termasuk aku.

Saat itu aku masih merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu hanya terhenti sampai disitu saja, ketika aku mulai menyadari kalau papan nama yang kukerjakan semalaman itu tertinggal dirumah.

Lebih parahnya aku baru menyadari itu ketika detik-detik dimana para siswa baru diperintahkan untuk turun kelapangan, aku bingung tak ketulungan, keringat dingin mulai bisa kurasakan.

Aku mencoba mengatur diri untuk tidak melanjutkan kebingunganku dan segera melakukan sesuatu, aku menemui guru yang kulihat sejak tadi berdiri didepan kantor setelah taman-temanku yang ternyata tidak diarahkan lagi untuk memasuki aula, namun berlatih PSBB dilapangan tersebut. Ratusan pasang mata tertuju padaku, saat aku mulai bertanya pada salah seorang guru tersebut.

"Pak saya lupa membawa papan nama" ujarku dengan ragu.

"Loh kok bisa to?" jawabnya lantang hingga membuatku kaget.

"Em... maaf pak" jawabku dengan tidak menyertakan alasan, mau menggunakan alasan apa kalau faktanya memang aku yang ceroboh karena tidak memeriksa tas ketika aku akan berangkat.

"Pinjam temannya!"

"Hah?"

"Pinjam temanmu! ada tidak yang membawa 2"

Pikiranku melayang, mencerna kata-kata yang dilontarkan sebelum akhirnya aku mejawab perintah yang tidak masuk akal tersebut.

"Bagaimana pak? tentu saja tidak ada pak"

"Kalau begitu bagaimana caranya saya tidak mau tau"

Aku sudah tidak bisa berkata kata lagi, kebingungan melihat sekeliling kemudian akhirnya menundukan kepala karena tidak kunjung menemukan solusi.

"Beli kertas BC di koperasi sekarang! kemudian temui saya dikantor" ujarnya dengan menunjuk kesebuah ruangan.

Tanpa pikir panjang akupun segera berlari menuju ruang tersebut, dan lagi-lagi ratusan pasang mata memperhatikan aku berlari kebingungan, malunya bukan main, entah apa yang mereka pikirkan tentang aku, aku tidak mau ambil pusing ditengah keadaanku yang tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini.

Kertas berwarna pink menjulur yang kubalas dengan juluran tangan besertakan uang 1000 rupiah, aku segera berlari menuju tempat kedua yang tadi diperintahkan.

Aku tiba di kantor dengan cepat, aku berjalan menuju guru tersebut setelah sebelumnya sempat bertanya kepada guru lain dimana meja yang ditempatinya. Aku berdiri tepat dihadapanya sekarang. Dia meraih kertasku kemudian menggariskan spidol bertinta hitam di kertas tersebut.

"Nama?" tanyanya mendadak.

"Biar saya sendiri yang membuatnya pak"

Ia memberikan kertasnya padaku dengan sebuah spidol, aku menuliskan namaku asal-asalan sejadinya saja, kemudian disusul menuliskan nomor absen dan kelas.

"Ini pak sudah terimakasih" Kataku dengan nada suara pelan sejak tadi.

"Besok-besok jangan sampai lupa lagi, sana kembali berbaris dengan teman-temanmu"

Kini raut mukannya tidak semenyeramkan tadi, akupun menjadi lebih tenang setelah mendapatkan papan namaku kembali, aku segera berlari menuju lapangan dan berbaris dibarisanku kembali setelah sempat bertanya kepada salah satu anggota OSIS.

Ketegangan mulai hilang ketika aku sudah mengikuti PSBB seperti murid lainnya, namun rasa malu tetap tidak bisa hilang begitu saja. Aku mencoba sekeras mungkin mengontrol diriku agar aku tenang dan tidak melakukan kesalahan lagi.

***

Kesimpulannya, jangan menganggap remeh sesuatu yang kecil, karna bisa menjadi besar bila terlewatkan. Dan kita harus pandai untuk mengatur waktu agar tidak tergesa-gesa ketika melakukannya dan mengakibatkan kecerobohan.

Seperti kata pepatah “waktu adalah emas”, mengapa? Karena waktu dianggap lebih berharga dari pada emas, sebab emas dapat dicari dan dibeli, sedangkan waktu tidak bisa.