Kecerdasan buatan sering diartikan sebagai “simulasi kecerdasan manusia pada mesin”. Istilah kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) pertama kali diciptakan oleh John McCarthy, seorang ilmuwan di bidang ilmu kognitif dan komputer. Kecerdasan buatan merupakan ranah ilmiah yang melibatkan ilmu filsafat, matematika (algoritma), psikologi, dan ilmu komputer.

Berbagai bentuk kecerdasan buatan telah dihasilkan dari masa klasikal hingga modern. Awalnya, bentuk kecerdasan buatan yang dihasilkan berupa game playing dan pembuktian teorema, kemudian berkembang dalam bentuk mesin yang dapat mengenali bahasa. Terakhir, pada masa modern dihasilkan kecerdasan buatan berupa robot manusia yang dapat berinteraksi seperti manusia sesungguhnya.

Kemunculan Robot Manusia

Pada 2017 lalu, salah satu robot AI sempat menjadi perbincangan yang hangat, yaitu Sophia. Diciptakan oleh Hanson Robotics, Sophia diperkenalkan sebagai robot manusia pertama yang telah memiliki kewarganegaraan, yaitu kewarganegaraan Arab Saudi. Sophia telah banyak diundang di acara televisi dan konferensi internasional, membuat dunia takjub dengan kemampuan interaksinya dengan manusia.

Sumber gambar: en.wikipedia.org

Sophia diklaim dapat mengenali wajah orang, membaca ekspresi dan mengenali emosi lawan bicara, serta menangkap percakapan (bahasa). Sempat diundang di acara The Tonight Show yang dibawakan oleh Jimmy Fallon, Sophia menunjukkan kemampuannya bercakap-cakap, sesekali mengeluarkan humor yang segar, hingga menyanyikan lagu “Say Something” milik A Great Big World bersama Jimmy Fallon. 

Meskipun begitu, salah satu pengamat kecerdasan buatan, yaitu pengamat robotika mengkritik Sophia diciptakan hanya untuk mengiklankan perusahan Hanson Robotics alias untuk kepentingan komersial.

Isu Etika: Sejauh mana kemungkinan AI untuk melampaui norma?

Berbicara mengenai kehidupan dunia, seluruh aspek kehidupan kita rasanya telah melampaui norma yang sebenarnya seiring berkembangnya zaman. Tidak jarang isu mengenai etika dan norma menjadi hal yang selalu muncul ketika membahas tentang kecerdasan buatan.

Yuval Noah Harari, seorang sejarawan dalam bukunya yang berjudul “Homo Deus: A Brief History of Tomorrow” mengungkapkan istilah Super Humans, dimana manusia di masa yang akan datang dapat dirancang memiliki kecerdasan dan kemampuan kognitif yang luar biasa. Tidak mustahil akan ada bayi mesin (engineered babies) maupun kecerdasan buatan dalam tingkat atau level manusia lainnya.

Tidak mustahil akan ada katalog bayi dan kita dapat memilih kombinasi bayi mesin yang sesuai dengan kriteria kita. Meskipun begitu, hal ini tentu saja bertentangan dengan norma dan etika secara humanis.

Saat ini saya membayangkan kemungkinan di masa yang akan datang, dimana dunia tidak lagi hanya dihiasi oleh sekumpulan “manusia hidup yang sebenarnya”, melainkan telah muncul robot yang menyerupai manusia dan menjadi rekan kerja kita. Kemajuan ini membuat segala aspek kehidupan kita berubah, terutama aspek sosial dan ekonomi.

Pola interaksi dan komunikasi akan berubah, society yang lama akan runtuh dan digantikan oleh society baru, dan kita tidak dapat “mengerem” perkembangan ini seperti yang ditulis Yuval Noah dalam buku Homo Deus. Sejarawan itu berkata “Tidak ada yang tahu dimana remnya”

Tidak ada orang yang dapat memprediksi sejauh mana perkembangan dunia dalam 15 tahun ke depan. Sulit untuk membayangkannya, karena perkembangan adalah pesat. Selanjutnya, muncul pertanyaan: Bagaimana jika kecerdasan buatan ini memiliki kemampuan yang jauh melebihi kemampuan dan kecerdasan manusia asli?

Nick Bostrom, seorang filsuf di Oxford University membahas mengenai kemungkinan yang terjadi jika kecerdasan buatan yang semula merupakan simulasi dari kecerdasan manusia menjadi lebih cerdas dibandingkan manusia sebagai penciptanya. Menurutnya, kecerdasan buatan yang melampaui manusia mungkin saja dapat memusnahkan manusia, karena kecerdasan buatan dapat mengambil alih peran manusia di dunia.

Meskipun begitu, menurut penulis, keberadaan kecerdasan buatan seperti robot bagaimana pun juga memiliki keterbatasan dan tidak mungkin untuk menggantikan peran manusia seutuhnya di dunia.

Kecerdasan Buatan Vs Humanitas

Penggunaan kecerdasan buatan, baik dalam bentuk audio, avatar (simulasi virtual), robot sosial atau humanoid maupun non-humanoid telah diterapkan dalam bidang kesehatan, termasuk kesehatan mental. Kecerdasan buatan tersebut disebut dengan AICPs (Artificial Intelligence Care Providers). Beberapa AICPs bahkan dirancang dapat membaca sinyal emosi dan perilaku user (pasien maupun klien).

AICPs juga dapat menstimulasi emosi maupun melakukan pemahaman empatik kepada user yang mana pemahaman empatik ini sangat dibutuhkan dalam bidang profesi kesehatan, baik kesehatan fisik maupun mental. Pemahaman empatik adalah bagaimana kita mencoba memahami mengapa klien maupun pasien berpikir, berperasaan, dan berperilaku demikian dari sudut pandang mereka.

Ini menjadi fungsi kecerdasan buatan yang berguna bidang kesehatan. Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri muncul beberapa kritik terhadap keberadaan AICPs ini, terutama apabila user adalah pihak yang masih rentan, seperti anak-anak. Mungkin saja penggunaan teknologi ini lebih cocok digunakan bagi pasien maupun klien dewasa, namun muncul lagi isu etika tentang kecenderungan untuk menyamakan perangkat lunak dengan manusia.

Batas antara teknologi dan manusia menjadi semakin pudar dan dapat menyebabkan manusia menganggap kecerdasan buatan dan manusia adalah sama. Contohnya, ketika klien berinteraksi dengan terapis AI, klien mengetahui bahwa itu adalah sebuah perangkat lunak, namun klien tetap menganggap itu sebagai terapis yang sesungguhnya.

Hilangnya batas antara mana yang nyata dengan mana yang tidak nyata menjadi isu penting yang dibahas apabila membicarakan AI. Isu penting lainnya, yaitu mengenai privasi. Data-data yang tersimpan di dalam AI berasal dari interaksi AI dengan pihak-pihak tertentu. Dalam hal ini, pihak-pihak yang berinteraksi dengan AI perlu dilindungi privasinya. Bayangkan saja jika data-data mengenai diri kita digunakan untuk kepentingan lain yang melenceng dari tujuan sebenarnya hingga merugikan kita sebagai user.

Saya kemudian merefleksikan kembali. Jika ada perlindungan terhadap hak-hak pengguna (user) AI, apakah akan muncul perlindungan terhadap hak-hak AI itu sendiri? Jika iya, maka itu akan menjadi perdebatan dan diskusi yang panjang.

Tidak ada hal yang mustahil, namun bisa saja kecerdasan buatan yang sekarang diimajinasikan orang-orang tidak terwujud pada akhirnya, karena kekompleksannya. Tidak ada pihak-pihak yang mengetahui hal itu dengan pasti. 

Hal pasti yang bisa dilakukan, yaitu memperluas wawasan kita mengenai dunia, mempersiapkan diri berhadapan dengan segala kemungkinan yang ada mengenai masa depan.