Indonesia adalah Negara yang penduduknya sangat malas untuk berjalan kaki. Itu terbukti bahwa negeri ini menduduki peringkat juru kunci, perihal banyaknya orang yang melakukan aktivitas berjalan kaki per harinya. Orang-orang lebih memilih naik motor daripada berjalan kaki, meskipun jarak yang mereka tempuh relatif sangat dekat.

Ini sangat disayangkan, mengingat aktivitas berjalan kaki baik untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Dengan berjalan kaki, peredaran darah kita berjalan normal—dari ujung kaki sampai ujung kepala—Dan ini sangat baik untuk peredaran darah di otak kita, berbeda kalau kita menggunakan motor.

Kita juga mengeluarkan keringat, yang mana itu baik untuk kesehatan. Keringat dapat mengeluarkan penyakit yang ada di dalam tubuh kita. 

Selain perihal kesehatan, berjalan kaki itu sangat mengasyikkan. Dengan berjalan kaki kita bisa melihat-lihat dengan teliti lingkungan di sekitar kita. Kita bisa melihat dan mengamati apa pun yang ada di sekitar kita dengan berjalan kaki. Yang tidak bisa kita lihat, ketika kita menggunakan motor.

Selain memang penduduk di negeri ini sangat malas berjalan kaki, ada perihal lain yang memungkinkan mereka malas untuk melakukan aktivitas berjalan kaki dan mereka lebih memilih menggunakan motor.

Pada umumnya kita sudah melihat dengan mata kita sendiri, kalau jalan di negeri ini memang tidak didesain untuk pejalan kaki. Dari semenjak kita merdeka sampai sekarang lebih mengutamakan jalan untuk pengguna motor, mobil dan seterusnya. 

Itu terbukti, di beberapa wilayah atau kota besar di negeri ini melakukan pelebaran jalan sehingga jalan untuk pejalan kaki semakin sempit. Jangankan di perkotaan, di desa pun itu terjadi.

Berbeda waktu kita, sebelum merdeka. Di zaman belanda, cenderung mereka sangat memperhatikan nasib pejalan kaki. Itu terbukti antara ruas untuk pengguna motor, mobil dan seterusnya, dengan ruas untuk pejalan kaki itu disesuaikan dengan kebutuhan. 

Jelas lebih lebar untuk pengguna motor, mobil, daripada  untuk pejalan kaki. Tapi pelebaran jalan yang terjadi sekarang dan tidak memperhatikan nasib pejalan kaki, waktu itu hampir tidak ada.

Selain itu, sangat miris, kalau kita melihat trotoar yang ada di negeri ini. Trotoar yang seharusnya untuk pejalan kaki, malah digunakan untuk tempat pedagang kaki lima, parkiran, dan seterusnya. 

Mungkin itu juga yang menyebabkan orang malas untuk berjalan kaki. Tempat yang seharusnya mereka pakai, malah dipakai kegiatan-kegiatan yang lain. Kejadian ini kita bisa lihat, di perkotaan ataupun di pedesaan.

Adapun, terkadang, kalau kita berjalan kaki di trotoar, kita sering menemukan pengendara motor yang menggunakan ruas jalan—pejalan kaki—sebagai jalan pintas, untuk menghindar dari kemacetan. Dan itu sangat mengganggu sekaligus berbahaya untuk pejalan kaki.

Dan, kalau biasanya di pinggir trotoar itu ada pepohonan, dimana saat kita berjalan kaki kita merasakan sejuk, adem, pada saat kita berjalan. Tapi pepohonan-pepohonan yang rindang itu malah ditebang. 

Habislah makin malas kita untuk berjalan kaki. Sudah trotoar dijadikan tempat pedagang kaki lima dan sekarang pepohonan yang rindang itu ditebang. Sudah jalan sempit, malah ditambah panas.

Tidak berhenti di situ, di tepi jalan dijadikan ajang untuk menaruh pasir, batu dan semacamnya. Ini betul-betul mengganggu aktivitas berjalan kaki. Ini bukan hanya terjadi di pedesaan, di perkotaan saja, kejadian semacam ini masih banyak terjadi. Dan pasir, batu, dan semacamnya itu akan mengendap selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, di tepi jalan.

Kadang juga kita melihat di pinggir jalan, ada baleho-baleho calon kepala daerah, yang tiang-tiangnya mengganggu pejalan kaki. Tiang-tiang itu kadang berada di tengah-tengah ruas jalan untuk pejalan kaki. Ini bukan hanya terjadi di pedesaan saja, hal-hal semacam ini, di kota pun masih banyak terjadi.

Dan lagi, kalau kita lihat pada waktu lampu merah. Kita tau, pada saat itulah waktu pejalan kaki menyeberang. Tapi masih saja, orang menunggu lampu merah di tempat ruas jalan untuk pejalan kaki, Akibatnya mereka sangat terganggu. Biasanya yang melakukan pelanggaran itu, pengguna motor.

Sebenarnya, hak-hak untuk pejalan kaki sudah diatur dalam undang-undang. Perihal masih saja terjadi, sebab pemerintah kurang tegas menyikapi hak-hak pejalan kaki yang dirampas dengan kegiatan-kegiatan lain. 

Kalau kita lihat, bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai hak-hak pejalan kaki, selain faktor-faktor yang lain. Kita lihat saja seperti; Jepang, singapura, dan seterusnya. Mereka sangat peduli dengan nasib pejalan kaki. Dan sangat menghargai mereka.

Bagaimana bangsa ini mau maju, kalau perihal di atas masih saja terjadi. Ini harus dibenahi dari pedesaan sampai tingkat perkotaan dan harus secepatnya. Saya pun tau, kalau beberapa kota di negeri ini sudah melakukannya, tapi masih banyak kota di negeri ini yang tidak serius untuk mengubah budaya buruk ini.

Mungkin saja, kalau masalah di atas dapat terbenahi, orang-orang yang malas berjalan kaki sebab mereka melihat trotoar yang sering dijadikan tempat untuk pedagang kaki lima, pasir yang menghambat jalan, dan seterusnya, itu tidak ada. Mereka bisa lebih memilih berjalan kaki daripada menggunakan motor.

Dan, itu bisa meminimalisir banyaknya orang yang menggunakan motor, ketika tujuan mereka relatif dekat. Supaya mereka lebih memilih berjalan kaki. Dan juga bisa mengurangi macet. Berbeda, kalau masalahnya memang mereka cenderung malas untuk berjalan kaki. Itu hal yang berbeda lagi. Dan, perlu kesadaran dari diri sendiri.

Kalau saya pikir, orang-orang di negeri ini memang cenderung malas untuk berjalan kaki. Dan, memilih menggunakan motor, meskipun jarak yang mereka tempuh relatif sangat dekat. Bukan kecenderungan masalah adanya pedagang kaki lima, pasir, dan seterusnya, di pinggir jalan. Sepertinya masalah ini sudah menjadi budaya buruk di negeri ini dan sudah mendarah daging.

Satu-satunya cara untuk mengubahnya, memang dibutuhkan kesadaran dari tiap masing-masing individu. Kalau masalah kesadaran ini bisa dilalui, saya yakin, akan lebih cepat masalah di atas terselesaikan.