Kegelisahan dan kecemasan merupakan emosi yang sebenarnya wajar dialami, akan tetapi kondisi tersebut bisa tidak normal jika mengganggu aktivitas sehari-hari. Begitu pula pada generasi post-millenial yang kecenderungan berselancar menggunakan internet-utamanya media sosial sebagai pemenuhan kebutuhan psikologisnya.

Dikenal sebagai digital native, mereka yang selalu stay up to date pada media sosial dengan berbagai macam notifikasinya sebagai kebutuhan akan keterkaitan dengan berita terbaru atau relatedness need.

Informasi berita terbaru dan yang lagi tren menjadi penting karena membuat rasa “tidak tertinggal” dan “berada satu frekuensi yang sama” dengan banyak orang lain.

Bisa dikatakan bahwa pemenuhan kebutuhan ini menjadi sebuah gejala buruk pada generasi muda yang saat ini banyak mengalami kecemasan berlebih karena penggunaan media sosial, dikenal dengan istilah Fear Of Missing Out (FOMO) merupakan perasaan ketakutan atau "merasa" tertinggal karena tidak mengikuti tren, berita, atau aktivitas tertentu. Lalu apakah fomo itu?


FOMO bukan hanya kecanduan internet

Pada tahun 2013 Oxford English Dictionary menjelaskan bahwa FOMO sebagai kecemasan pada peristiwa menarik atau tren terbaru yang terjadi di tempat lain, kecemasan ini terstimulasi oleh hal yang ditulis di dalam media sosial seseorang.(Time.com)

Sedangkan menurut McCroskey (1984) menyatakan bahwa kecemasan komunikasi (communication apprehension) adalah sebagai perasaan takut, gugup dan cemas ketika hendak berkomunikasi dan atau berinteraksi dengan orang lain.

Berdasarkan penjabaran mengenai teori tersebut, maka dapat dikatakan bahwa kecemasan berkomunikasi adalah keadaan individu yang merasa takut atau khawatir dalam berkomunikasi, dan ketidakmampuan individu untuk menyampaikan atau menerima suatu informasi sehingga menimbulkan reaksi tertentu.

Akan tetapi perasaan pada pengidap sindrom FOMO ingin selalu terhubung sepanjang waktu dengan media sosial. Perasaan ketakutan, cemas dan kegelisahan yang di alami mengacu pada perasaan atau persepsi bahwa orang lain lebih bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau mengalami hal-hal yang lebih baik dari pada dirinya.

Bisa kita cek secara mandiri bila kita dengan sengaja terus menerus mengecek insta-stories atau Whatsapp-story dari rekan-rekan kita, atau menghabiskan banyak waktu scrolling down Facebook feed maupun Instagram feed untuk meng-update pengetahuan tentang apa yang orang lain lakukan atau alami dalam hidupnya, bisa jadi kita mengalami FOMO.

FOMO memang perlu kita pahami berbeda dengan perilaku adiktif terhadap internet, berbeda dengan adiktif terhadap internet FOMO secara impulsive mendorong hanya untuk mengecek media sosial. Namun tidak semua orang yang mengalami FOMO juga pasti mengalami kecanduan internet.

Kecanduan internet ditandai dengan penggunaan internet berlebihan akibat kurangnya kemampuan dalam pengendalian diri, dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika kecanduan internet dapat mengubah perilaku seseorang seperti malas bekerja, penurunan prestasi sekolah dan berkurangnya jam tidur sehingga lebih membuat konsekuensi negatif .

Maka FOMO bukan hanya sekedar kecanduan internet, akan tetapi lebih menggambarkan pada upaya untuk meredam kecemasan sesaat sebelum akhirnya timbul kembali karena mendapati beberapa informasi atau tren terbaru yang dilewatkan.

Bila mana kita saat ini merasakan gambaran gejala FOMO seperti dijelaskan di atas maka harap tenangkan diri Anda. Lalu bagaimana dapat menguranginya ?


Cara mengurangi dampak FOMO

Beberapa efek dari sindrom FOMO memang bisa jadi kita telah terjangkitnya, untuk menguranginya perlu beberapa trik dan tip yang dapat kita terapkan.

Seperti dilansir pada healthline.com beberapa trik dan tip yang dapat di ikuti:

1. Hapus beberapa aplikasi media sosial dari ponsel, meskipun masih dapat mengaksesnya dari komputer pribadi, menjauhkannya dari ponsel dapat membantu mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan di media sosial secara keseluruhan.

2. Matikan telepon pribadi selama beberapa jam seperti saat jam kerja, serta selama sekolah, makan, dan kegiatan rekreasi pribadi. Selanjutnya dapat juga dilakukan penyesuaian atau pengaturan pada setiap aplikasi media sosial sehingga dapat menonaktifkan notifikasi tertentu.

3. Atur sejumlah waktu tertentu yang didedikasikan untuk media sosial per harinya. Jika perlu gunakan timer untuk membantu tetap bertanggung jawab dan berkomitmen.

4. Jauhkan beberapa alat pendukung seperti ponsel, tablet, dan komputer dari kamar tidur.

5. Lakukan hobi baru yang tidak terkait dengan teknologi; misalnya olahraga, seni, kelas memasak, dll.

6. Buatlah jadwal khusus pertemuan untuk mengunjungi teman dan keluarga secara langsung jika memungkinkan.

7. Sangat penting juga untuk beristirahat secara teratur dari media sosial sama sekali untuk membantu menemukan landasan kehidupan nyata.


Setelah melakukan trik dan tips di atas maka perlu juga komitmen pribadi pada diri kita masing-masing agar tetap menjaga pola komunikasi tanpa menambah intensitas kita dalam menggunakan media sosial. Sehingga kita tetap dapat menjalin hubungan dengan semua keluarga, kerabat dan teman yang selama ini mendukung keberhasilan kita.

Salam sehat bermedia sosial…