RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang masih belum juga disahkan mengingatkan saya akan gerakan Balance Ton Porc. Gerakan semacam Me Too ini telah mempercepat pengesahan UU Menentang Kekerasan Seksual dan Kekerasan Seksis di Prancis. 

Rekan-rekan mungkin sudah mengenal gerakan Me Too yang didirikan Tarana Burke pada tahun 2006 dan dipopulerkan Alyssa Milano saat kasus Harvey Weinstein mencuat (2017). 

Di Prancis, #BalanceTonPorc sudah meramaikan Twitter dua hari sebelum Milano melancarkan twit Me Too. Maraknya kasus Weinstein pada saat itu menarik perhatian Sandra Muller, jurnalis Prancis yang menetap di New York. Ia meluncurkan tagar #balancetonporc untuk mengundang korban melaporkan nama-nama “pemangsa seksual”.

Penjelasan Tagar #balancetonporc 

Balance merupakan konjugasi dari kata kerja balancer. Penggunaannya di sini adalah dalam bentuk kata perintah. Pusat sumber tekstual dan leksikal nasional di Prancis mencatat 29 arti kata balancer

Penggunaannya dalam kalimat ini lebih mengacu kepada makna informal dan dapat diartikan sebagai mengayunkan, melemparkan, mengeluarkan, membebaskan diri, mengirimkan, mendorong dengan kuat, melaporkan, mengungkapkan, mengecam, mengadukan.

Ton adalah kata kepemilikan untuk kamu. Sedangkan porc adalah babi. Tetapi arti di sini lebih mengacu kepada konotasinya, yakni seseorang yang kekotoran, penampilan fisik, sikap dan perilakunya dari segi moral, intelektual/mental menimbulkan kejijikan yang sangat.

#BalanceTonPorc dapat diartikan sebagai lemparkan/buang keluar/dorong/kecam/adukan/laporkan/ungkap/bebaskan dirimu dari babimu (orang yang menjijikkan itu, yang telah melakukan perbuatan tercela dalam hidupmu).

Muller terinspirasi dari kata porc yang mengacu kepada Harvey Weinstein. Harvey adalah pendukung setia film-film Prancis. Ia hadir setiap tahun di Cannes dan bahkan menerima penghargaan dari mantan presiden Nicolas Sarkozy. Setiap tahun pula, di kota ini, ia mengadakan pesta seks dan kokain. Ia pun mendapatkan julukan The Pig.

Muller meyakini pilihan kata “babi” juga karena kata ini memiliki pencitraan yang kuat. Ada aspek vulgar dan populer yang dapat menarik lebih banyak orang untuk bergabung. Muller benar, hanya dalam waktu tiga hari, belasan ribu orang sudah menuliskan kesaksiannya di Twitter. Twitter pun menjadi pengadilan rakyat.

Dalam pemahaman saya, #BalanceTonPorc ini lebih merangkul emosi korban yang terluka, marah, benci, dan tentu jijik terhadap pelaku dan kelakuannya. Dalam #MeToo seperti sudah ada penerimaan terhadap peristiwa traumatis yang dialami. 

#MeToo, bagi saya, lebih mengundang korban yang mungkin telah menjadi penyintas/pemenang untuk berbagi pengalaman tersebut. Sedangkan #BalanceTonPorc mengundang korban untuk mengungkap si pelaku dan mengecamnya. #BalanceTonPorc menjadi media untuk menyalurkan kemarahan, kebencian, dan kepahitan yang masih dirasakan korban terhadap pelaku.

Namun demikian, keduanya sama-sama mengajak korban untuk bicara agar dapat menunjukkan bahwa pelecehan dan kekerasan seksual bukan kasus kecil.

#BalanceTonPorc, Hukum Positif, dan Justice Expeditive

#BalanceTonPorc berhasil membangkitkan arus kesaksian para korban baik di Twitter, Facebook, blog pribadi, majalah, surat kabar, dan juga di situs balancetonporc secara anonim. Sejumlah kasus dilaporkan ke jalur hukum dengan sejumlah figur terkenal tertuduh sebagai “babi”-nya.

Perlu diketahui bahwa bukan Muller yang membuat situs balancetonporc. Ia sendiri kurang sreg dengan ide situs balancetonporc yang menjaga kerahasiaan korban dan apalagi pelaku.

Ketika menggunakan kata balance, Muller memang condong pada pengungkapan identitas pelaku. Pesan-pesannya di Twitter kira-kira berbunyi demikian: 

Dan jika kita juga mengungkapkan nama-nama pemangsa seksual yang tidak respek terhadap kita/yang melecehkan kita secara verbal dan mencoba untuk meraba-raba kita? Siapa (mereka)?

#balancetonporc !! Kamu juga ceritakan dengan memberikan nama dan identitas lainnya dari pelaku pelecehan seksual yang kamu alami di tempatmu bekerja. Saya tunggu. 

Di twit berikutnya, ia menceritakan pelecehan yang ia alami dan mengungkap nama si “pelaku”.

Kamu memiliki payudara yang besar. Kamu adalah tipe perempuan yang saya suka. Saya akan membuatmu merasakan kenikmatan seksual sepanjang malam. Eric Brion, mantan direktur Equidia. 

Istilah balancer itu sendiri sering digunakan di kalangan mafia ketika seseorang mengadukan orang lain. Dalam dunia mafia, sistemnya adalah percaya terhadap informasi yang diberikan tanpa perlu bukti: pengaduan adalah kebenaran. Selanjutnya, orang yang diadukan akan segera ‘dihabisi’ tanpa perlu proses. 

Demikian pula maksud #BalanceTonPorc. Seperti yang kita ketahui, proses hukum positif membutuhkan pembuktian, dan ini sama sekali tidak mendukung korban kekerasan seksual. 

Dengan #BalanceTonPorc, korban tidak dituntut membuktikan. Korban hanya perlu mengungkapkan, mengecamnya secara terbuka di media sosial dengan menyebutkan langsung identitas (maaf) si babi tersebut. 

Berkenaan dengan ini, Balancetonporc mendapatkan penentangan karena menganut sistem justice expéditive (peradilan cepat). Mereka menyesalkan media sosial yang menghakimi pria-pria tanpa melalui proses yang layak. #BalanceTonPorc, menurut mereka, seperti membawa babi-babi ke pejagalan.

Namun demikian, masyarakat Prancis secara umum mendukung gerakan ini. Mereka mengakui bahwa dalam masyarakat modern seperti Prancis, perempuan tetap rentan mengalami pelecehan dan kekerasan seksual. Kebanyakan korban hanya diam dan tidak melawan karena ada relasi kuasa antara korban dan pelaku. Mereka menganggap perlu dan sudah saatnya korban bicara. 

Mari Mulai Bicara

Di Indonesia, gerakan semacam Me Too dan Balance Ton Porc sudah ada sebelum kasus Harvey mencuat. Adalah Lentera Sintas yang menggagas kampanye Mulai Bicara sejak tahun 2016. Tagar #MulaiBicara juga dipakai dalam petisi di Change.org untuk mendorong pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. 

Saat tulisan ini dibuat, sudah tercatat 256.847 penanda tangan petisi. Namun demikian, sepanjang yang saya ketahui, belum benar-benar ada arus kesaksian korban. 

Saya dapat memahami jika korban memilih tidak bicara. Memang tidak mudah untuk membagikan pengalaman pahit yang sarat dengan emosi. Kita cenderung ingin menyimpannya sendiri. Rasa malu, takut balik dihakimi, dapat menghambat seseorang untuk membagikan kisah tragis yang dialami.

Di sisi lain, mengungkapkan peristiwa pelecehan dan kekerasan seksual dapat memberikan kelegaan, apalagi setelah menyimpan sendiri pengalaman ini sekian waktu lamanya. Pengungkapan ini dapat menjadi awal atau bagian dari proses pemulihan sekalipun mungkin membawa dampak/konsekuensi yang tidak menyenangkan. 

Pertanyaan-pertanyaan dengan nada menginterogasi dan respons-respons negatif bahkan dari orang-orang terdekat yang sulit menerima jika pelaku adalah anggota keluarga, adalah salah satu konsekuensi yang dapat terjadi. Tetapi justru dari sinilah kita dapat menyaring siapa yang memang sungguh peduli dengan kita. 

Kadang kita juga menganggap bahwa pelecehan/kekerasan yang kita alami tidak cukup berat untuk perlu dibagikan. Namun pelecehan dan kekerasan seksual, terlepas dari bentuk, dampak, intensitas, dan durasinya, adalah pelecehan, adalah kekerasan; tidak ada toleransi untuk ini. 

Jangan ragu untuk bercerita. Jangan malu karena berpikir ini tidak seberapa dibanding yang dialami korban lain. 

Kita tidak harus menerapkan apa yang dilakukan di Prancis yang budayanya berbeda dengan kita. Kita tidak perlu mengungkap identitas pelaku. Tetapi kita dapat Mulai Bicara untuk menunjukkan pada masyarakat dan pemerintah bahwa kasus-kasus ini tidak sedikit, tidak hanya ada di berita-berita.

Pelecehan dan kekerasan seksual dapat menimpa siapa saja, termasuk anggota keluarga kita. UU yang melindungi kelompok-kelompok rentan terhadap pelecehan dan kekerasan seksual adalah mutlak dan mendesak. 

Mari #MulaiBicara