Researcher
2 bulan lalu · 48 view · 3 min baca menit baca · Buku 23284_79892.jpg
abiummi.com

Kecakapan Ramadan dan Habituasi Keagamaan Generasi 90-an

Awal ramadan, bagi sebagian generasi tahun 90-an, dipenuhi kenangan akan praktik ibadah, petasan, iklan sirup, dan buku kecakapan santri. Bila iklan sirup beserta selebrasi aneka kuliner telah dipampangkan di layar televisi berarti bulan ramadan tinggal menghitung jam. 

“Kode kultural” visual semacam ini disadari atau tidak membentuk persepsi sebagian orang sehingga mengakik di benak.

Buku kecakapan santri tak kalah penting juga dalam rangka mendisiplinkan praktik ibadah generasi muslim. Setidaknya bagi saya, buku tipis berbahan kertas “buram” ini, turut membentuk rutinitas salat subuh sampai tarawih. Buku itu kebanyakan berisi kolom-kolom dari kategori puasa sehari penuh sampai paraf orang tua dan penceramah sebagai bentuk legalitas kalau pemiliknya telah mengikuti kegiatan teologis.

Generasi muda yang masih diberi buku ini oleh guru agama di sekolah berarti memiliki tanggung jawab lebih untuk rutin melaporkan progres ibadahnya secara formal. Ia harus meminta tanda tangan sebagai bukti untuk kemudian dinilaikan kepada guru. Tak pelak bukti paraf yang penuh akan mendapatkan nilai memuaskan dari guru.


Keberadaan buku kecakapan santri menjadi penanda pelajaran agama mesti dibumikan lewat narasi-narasi tekstual yang terbimbing. Syariat, dengan kata lain, harus terpantau sekaligus tercatat untuk mengajarkan kedisiplinan yang autentik. Nilai tersirat, karenanya, dari pengajaran semacam adalah internalisasi nilai kejujuran.

Terdapat relasi antara buku, kedisiplinan, dan kejujuran. Aktif mengisi buku memberi peluang besar untuk menggayung nilai numerik dari guru, sementara pada gilirannya pula akan membentuk karakter disiplin dan jujur. Dua nilai ini akan berhasil pada subjek yang mengikuti aturan main dengan (tentunya) dilalui secara paksaan.

Ilustrasi di atas tak berlaku bagi semua orang karena betapa pun narasi demikian terikat pada pengalaman empiris saya. Namun, buku kecakapan santri ini, di sisi lain memberi memori kuat bagi saya sampai saat ini manakala membicarakan tentang wacana ramadan.

Upaya Behavioristik

Saya pernah menanyakan kepada guru Agama Islam waktu SD kenapa siswa-siswi diberi tugas mencatat keseharian selama bulan puasa. Guru itu dengan ringkas menjawab agar para murid memiliki bukti empiris kegiatan beribadah sehari-hari. Buku kecakapan santri, menurutnya, seperti buku harian sebagaimana catatan atas intimitas anak terhadap perilakunya.

Yang membedakan dengan buku harian lainnya adalah buku kecakapan santri harus dikonfirmasikan kepada pihak yang dianggap otoritatif melalui mekanisme tatap muka. Adanya paraf di sana menjadi bukti faktual atas kebenaran aktivitas beribadah keseharian para siswa. Namun, benarkah demikian?


Saya mengamini pernyataan guru tadi. Tapi sejauh pengamatan saya di lapangan saat masih berada di bangku sekolah dasar para murid ternyata banyak yang memalsu tanda tangan itu. Tak jelas benar kenapa sebagian besar siswa melakukan itu. Ada praanggapan di antara murid kalau buku itu justru memasung kebebasannya dalam beribadah.

Ibadah dalam pengertian siswa itu barangkali merupakan kecenderungan yang tak ingin diintai oleh aparatus berupa orang tua atau guru supaya praktik yang transenden di bulan puasa benar-benar tulus. Ia tak menginginkan praktik ibadah sebatas karena paksaan, apalagi harus dilalui lewat pantauan “orang yang lebih tua” hanya karena mereka memiliki kekuasan atas anak yang dominan.

Perspektif demikian mungkin dianggap mengada-ada. Mungkinkan anak berusia yang belum genap 17 tahun itu sudah memiliki daya kritis terhadap pembelajaran agama berbasis formal? Apa relasinya dengan wujud habituasi yang cenderung mendisiplinkan siswa ini terhadap daya pemberontakan peserta didik? Pertanyaan-pertanyaan ini menarik siapa pun untuk ditinjau lebih kritis dalam sebuah kajian ilmiah.

Terlepas dari kebenaran naratif di atas, saya tertarik untuk mengulas pengalaman empiris ini setelah mengingat kembali kenangan antara buku kecakapan santri, ibadah ramadan, dan pola pendidikan Agama Islam. Pertanyaan menarik selanjutnya, apa urgensi buku kecakapan santri tehadap wacana pendidikan Agama Islam yang berbasis pendisiplinan itu?

Saya kira pentingnya buku itu dan kenapa menarik didedah pada konteks sekarang adalah upaya strategis dalam menarik “benang merah” potret pendidikan Agama Islam di masa silam—mungkin pula sampai hari ini. 

Buku itu memberi memori historis bagaimana habituasi praktik beragama diinternalisasikan secara sistematis dari guru untuk siswa. Tanpa buku tersebut alih-alih upaya evaluatif terhadap pembelajaran dilakukan, malah bila mengabaikannya, maka kita termasuk kelompok yang ahistoris.


Kendatipun buku kecakapan santri kerap disepelekan karena komposisi kertasnya paling buruk, ia tak serta-merta diabaikan eksistensinya dalam memori kolektif kita. Buku inilah yang membuat jutaan generasi muda yang berada di sekolah dasar terkondisikan dalam rangka mengonstruksi individu yang saleh. Dengan kata lain, kesalehan tiap santri bisa tecitra eksplisit dengan penuhnya bubuhan tanda tangan dari pemegang otoritas orang tua.

Fantasi akan kesalehan yang imajiner itulah yang mengondisikan model pembelajaran agama sekarang cenderung kental akan eksistensi bukan malah substansi. Saya menduga kalau model ini berdampak pada pembentukan citra keislaman seseorang hari ini yang lebih dipenuhi oleh etalase diri secara atributif seperti menonjolkan simbol-simbol agamis melebihi perilaku empiris.

Artikel Terkait