1 bulan lalu · 41 view · 5 min baca menit baca · Lingkungan 67590_81476.jpg
Foto: IG @Btauri_nVuE

Kebutuhan Kertas Menuju Revolusi Industri 4.0

Kertas adalah suatu bahan yang tipis dan rata yang dihasilkan oleh kompresi serat yang berasal dari pulp. Pulp berasal dari serat tumbuhan seperti kayu, bambu, padi, dan tumbuhan lain yang mengandung serat, tetapi pada umumnya yang sering digunakan untuk bahan baku kertas adalah kayu. 

Penciptaan kertas pada masa lalu merupakan suatu perubahan besar bagi kehidupan, khususnya bagi dunia tulis menulis yang turut mempengaruhi peradaban dunia.

Seiring dengan berjalannya waktu, kertas tak hanya digunakan untuk menulis saja. Kertas kini telah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. 

Bahkan hampir di setiap aktivitas manusia selalu membutuhkan kertas, seperti sebagai pembungkus makanan, tas belanja, tissue, sarana untuk menulis, melukis, mencetak buku, kalender, koran, pamflet, dan lain-lain.

Dalam jangka panjang, aktivitas-aktivitas tersebut dapat menghasilkan banyak kertas yang tidak terpakai dan akan menumpuk dengan percuma. Sampah kertas kemudian menjadi salah satu penyumbang sampah yang jumlahnya cukup banyak. 

Bahkan saat ini, jumlah sampah kertas dan produk turunannya meliputi 25% dari seluruh sampah yang ada di pembuangan sampah. Padahal kertas merupakan jenis sampah anorganik yang tidak bisa dihancurkan oleh organisme dan mengandung bahan-bahan kimia sebagai campurannya, seperti sulfat dan chlorin.

Kertas-kertas bekas tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan bila digunakan sebagai pembungkus makanan, selain karena kertas itu sendiri sudah tidak hiegenis, juga yang mengandung banyak tinta seperti kertas koran, ternyata mengandung timbal yang berbahaya jika masuk ke tubuh manusia.


Permasalahan lingkungan hidup akan terus muncul secara serius diberbagai pelosok bumi sepanjang penduduk bumi tidak segera memikirkan dan mengusahakan keselamatan dan keseimbangan lingkungan. 

Demikian juga di Indonesia, permasalahan lingkungan hidup seolah-olah seperti dibiarkan menggelembung sejalan dengan intensitas pertumbuhan industri, walaupun industrialisasi itu sendiri sedang menjadi prioritas dalam pembangunan. Tidak kecil jumlah korban ataupun kerugian yang justru terpaksa ditanggung oleh masyarakat luas tanpa ada konpensasi yang sebanding dari pihak industri.

Perlu kita ketahui bahwa 42% dari hasil panen kayu hutan digunakan untuk membuat kertas atau industri kertas. Industri kertas merupakan penyumbang terbesar ke 4 untuk emisi fuel rumah kaca diberbagai negara contemporary dan memberikan kontribusi 92-110 dari emisi karbon sektor manufaktur. 

Industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri yang memegang peranan penting bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan data FAO (2018) total nilai ekspor Indonesia pada tahun 2018 untuk produk kertas dan barang dari kertas 539,05 ( dalam juta US$ ).

Secara kumulatif, kinerja ekspor dan impor industri pengolahan sepanjang Januari-Juni 2018 lebih baik dibandingkan capaian Januari-Juni 2017. Nilai ekspor industri pengolahan secara kumulatif hingga bulan Juni 2018 tercatat sebesar US$ 63,01 miliar, naik sebesar 5,35% dibandingkan periode yang sama tahun 2017. Adapun nilai impornya tercatat sebesar US$ 69,75 miliar, naik 25,53% dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar mengatakan, pada tahun 2013 Indonesia memiliki 82 industri pulp dan kertas yang terdiri atas 4 industri pulp, 73 industri kertas, serta 5 industri pulp kertas terintegrasi dengan kapasitas terpasang industri pulp dan kertas sebesar 18,96 juta ton.

Realisasi produksi pulp dan kertas masing-masing 4,55 juta ton dan 7,98 juta ton kertas. Dengan kemampuan produksi tersebut Indonesia menempati peringkat ke-9 untuk produsen pulp terbesar di dunia dan ke-6 untuk produsen kertas terbesar di dunia.

Saat ini konsumsi kertas di dunia sebanyak 394 juta ton dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada 2020. Sementara di dalam negeri konsumsi kertas per kapita masih sangat jauh dari rata-rata konsumsi negara lainnya sehingga masih sangat potensial untuk berkembang.

Semakin berkembangnya industri maka semakin banyak pula kertas yang akan dihasilkan. Sehingga akan berakibat buruk ke lingkungan terkhusus manusia. Oleh karena itu, kita sebagai kaum intelektual yang terdidik harus cerdik dalam merespon setiap yang terjadi di lingkungan sekitar bahkan bumi sebagai tempat kita tinggal.

Indonesia sudah menapaki era Industri 4.0, dimana ditandai dengan serba digitalisasi dan otomasi. Namun, belum semua elemen masyarakat menyadari konsekuensi logis atau dampak dari perubahan-perubahan yang ditimbulkannya. 


Bahkan, fakta-fakta perubahan itu masih sering diperdebatkan. Misalnya, banyaknya toko konvensional di pusat belanja (mall) yang tutup sering dipolitisasi dengan argumentasi bahwa kecenderungan itu disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat. 

Padahal, toko-toko konvensional memang mulai menghadapi masalah serius atau minim pengunjung karena sebagian masyarakat perkotaan lebih memilih sistem belanja online. Dari beli baju, sepatu, dan buku hingga beli makanan semuanya dengan pola belanja online

Ilustrasi ini menggambarkan perubahan yang muncul akibat digitalisasi dan otomasi dalam era Industri 4.0 sekarang ini. Perubahan-perubahan besar menjadi tak terhindarkan ketika dunia harus bertransformasi mengikuti perubahan zaman.

Hadirnya Revolusi Industri 4.0 memberikan solusi kepada kita semua, bahwa dengan pemanfaatan teknologi digital kita dapat menggantikan fungsi kertas dengan media digital. Contohnya saja kita dapat mengganti surat-menyurat dengan surat elektronik, modul belajar dan dokumen penting lainnya dapat disimpan di google drive dan semua yang tidak perlu dicetak sehingga mengurangi penggunaan kertas. 

Untuk kertas yang sudah terlanjur di produksi dan sudah digunakan jangan dibuang ataupun dibakar namun solusinya adalah diolah menjadi kerajinan tangan atau sesuai dengan kreatifitas kita sendiri. Seperti yang dihasilkan oleh kertas kita.

Kertas kita adalah sebuah komunitas peduli lingkungan dimana munculnya ide ini dilatarbelakangi dengan banyaknya kertas yang sudah tidak terpakai dan dibiarkan begitu saja sehingga menimbulkan permasalahan lingkungan. 

Pada umumnya mahasiswa yang ada di Kota Medan mayoritas adalah anak perantauan. Menjadi seoarang mahasiswa pasti banyak menggunakan kertas baik untuk penelitian, laporan bahkan skripsi, sehingga perlu kiranya kita sebagai kaum intelektual dapat menuangkan ide kreatif dalam penggunaan kembali kertas bekas dengan baik tanpa menimbulkan permasalahan. 

Komunitas ini bergerak dan digerakkan oleh beberapa alumni Universitas Sumatera Utara (USU). Awalnya kominitas ini diberi nama byebyepaper yang dipost di instagram kertaskitacom pada tanggal 27 januari 2019. Atas pemikiran-pemikiran para penggeraknya nama byebyepaper di transformasikan menjadi kertaskita yang dipost pada tanggal 20 maret 2019 hingga sekarang. 

Andika Mulia Utama adalah Chief Executive Officer (CEO) dari kertaskita yang merupakan alumni S1 Ilmu Komputer Fasilkom-TI Universitas Sumatera Utara. Selain aktivitas sebagai pembicara dibeberapa seminar atau kajian, CEO dari kertaskita juga aktif diberbagai komunitas penebar kebaikan.

Dan TAHUKAH KAMU ? setiap 1 ton kertas bekas yang di daur ulang kita telah menghemat sebanyak 7000 galon air, 2 tong minyak dan menyelamatkan 17 pohon.


Penghematan ini ditemukan oleh Australian Conservation Foundation. Di negara sekering Australia dan dengan ancaman pemanasan global, penghematan apa pun merupakan kontribusi yang signifikan untuk memperbaiki lingkungan. Selain penghematan dan menyelamatkan lingkungan, daur ulang kertas juga dapat mengurangi limbah. Misalnya, kertas daur ulang mengurangi jumlah yang masuk ke TPA. 

Pada dasarnya akan mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan oleh perusahaan. Banyak perusahaan pembuangan sampah membebankan biaya layanan mereka berdasarkan berat atau jumlah pickup per minggu. Daur ulang dapat mengurangi sampah dan biaya layanan limbah. Kertas daur ulang juga dapat digunakan perusahaan besar sebagai ajang mempromosikan citra hijau yang dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat. 

Dan tidak lupa pula, daur ulang kertas dapat membuka lapangan pekerjaan. Daur ulang yang bertanggung jawab tidak hanya membantu ekonomi yang lebih luas, tetapi juga memengaruhi pertumbuhan bisnis di bidang manufaktur atau jasa. 

Mendaur ulang produk kertas memiliki banyak manfaat untuk bisnis dari semua ukuran. Ini menguntungkan secara ekonomi dan lingkungan dan berkontribusi terhadap kekayaan masyarakat. Ini juga meningkatkan citra perusahaan di pasar.

Selain menginspirasi untuk jadi bermanfaat seutuhnya, kisah-kisah pengolahan pohon dan penjagaan pohon semestinya jadi pengingat untuk kita bahwa kebutuhan memang terus bertambah, tetapi kita bisa memenuhi semuanya secara berkelanjutan, jika mengerti ke mana harus mencari dan luwes menghadapi perubahan.

Artikel Terkait