Tahun yang singkat, sekaligus berat. Banyak yang memberi sebutan tersebut untuk tahun 2020. Tahun penuh overthinking, manusia bertaruh daya tahan dan kesehatan. Demi dapat mencapai survivalitas saat harus hidup berdampingan dengan pandemi Covid-19 di new normal era. Sebagian masyarakat sepakat akan hal ini.

Belakangan banyak beredar quote ataupun cuitan di media sosial bahwa di tahun 2020 yang paling penting adalah bagaimana kita untuk sehat, tak perlu bermuluk-muluk untuk selalu produktif. Cukup menjaga pola hidup sehat, banyak di rumah saja, dan beristirahat. Bahkan kaum rebahan disebut-sebut dalam meme lucu sebagai aktivitas paling efektif di masa pandemi ini.

Istilah produktif jika diacu dari KBBI merupakan suatu keadaan yang selalu menghasilkan. Sifat produktif selalu berkonotasi positif, ketika seseorang produktif maka artinya ia menghasilkan manfaat, suatu karya atau sesuatu lain yang bermakna dan secara terus-menerus. Seseorang dengan produktivitas tinggi dianggap telah mengaktualisasikan dirinya dengan baik.

Jadi, muncul sebuah pertanyaan, mungkinkah aktualisasi diri ini dicapai di masa pandemi?

Aktualisasi diri sebagai puncak piramida kebutuhan ala Abraham Maslow

Aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang menempati puncak tertinggi pada hirarki piramida kebutuhan ala Abraham Maslow (1984). Dalam beraktualisasi diri, seseorang kerap memaksimalkan potensinya, memenuhi keinginan untuk menjadi, melakoni segala kegemaran dan kecintaan. Hal ini tentu saja sedikit berbeda dengan eksistensi diri semata.

Richard, L. Daft (2012) menginterpretasi aktualisasi diri ini meliputi pemenuhan kebutuhan akan pendidikan, pelatihan skill, hobi, dan aspek religi. Tentu saja untuk mencapainya ada beberapa kebutuhan yang harus dicapai dalam hirarki, yakni kebutuhan dasar fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk diterima, dan kebutuhan untuk dihargai.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berdiskusi dengan teman saya dari berbagai disiplin ilmu. Sebagian menyatakan, bahwa di masa pandemi ini, kebutuhan dasar dan rasa aman saja cukup untuk dicapai. Sedikit berbeda dengan tanggapan sebagian yang lain, bahwa di masa pandemi ini kita bisa mencapai kebutuhan di puncak hirarki--aktualisasi diri.

Memanfaatkan waktu di rumah saja

Di rumah saja, menjadi sebuah tagline utama di masa pandemi ini. berbagai institusi masih menerapkannya, institusi pendidikan misalnya. Sementara itu, perusahaan sebagian masih menjalankan sistem piket, untuk mencegah kerumunan dalam rangka meminimalisir penularan Covid-19. Kondisi ini, sangat memungkinkan bagi kita untuk memanfaatkan waktu di rumah saja.

Beberapa bulan lalu, sempat booming sebuah drama Korea berjudul The World of The Married. Masyarakat berduyun-duyun memberikan review. Booming-nya drama Korea tersebut juga ditengarai karena timing tayang yang begitu pas. Saat sebagian besar masyarakat menjalani work from home, study from home, semua serba di rumah saja. maka mau tidak mau masyarakat akan mencari aktivitas untuk membunuh jenuh. Nah, sudahkah kita memasukkan aktivitas produktif dalam check list selama di rumah saja?

Sebab hal tersebut perlu dan sangat memungkinkan. Hal ini terbukti, di banyak platform media sosial, orang-orang semakin mengeksplorasi ekspresi dan kreatifitas. Saya ambil contoh garapan Weird Genius dengan lagu Lathi yang kemudian hits dan bahkan go Internasional, projek ini digarap saat masa pandemi.

Contoh lainnya seperti Noah dengan peluncuran lagu dan video klip Kala Cinta Menggoda dengan konsep yang begitu epik, lagi-lagi tergarap pada masa pandemi. Saya sendiri berhasil meluncurkan sebuah novel solo. Tentu saja novel ini tergarap selama dua bulan pada saat WFH di masa pandemi.

Berkarya, Bahagia, dan Sehat Jiwa

Berbagai contoh bentuk karya yang dihasilkan pada masa pandemi di atas, membuktikan bahwa aktualisasi diri juga perlu dipenuhi dan dicapai pada masa pandemi.

Maslow tentu saja memiliki sebuah alasan mengapa meletakkan aktualisasi diri di puncak hirarki piramida. Salah satunya adalah dihasilkannya sebuah kepuasan yang mengarah pada kebahagiaan. Siapa yang tak berbahagia jika seluruh kebutuhannya baik fisik maupun non fisik terpenuhi?

Bahagia menjadi akar dari kesehatan baik jasmani maupun rohani, sehingga kualitas hidup terbangun. Melansir laman pijar psikologi, saat kita berbahagia setidaknya ada empat jenis hormon baik yang direspon tubuh yaitu dopamine, oxytocin, serotonin, dan endorphine.

Keempat hormon inilah yang kemudian dapat membangun imunitas. Mengapa demikian? Dilansir dari laman yang sama, bahwa saat tubuh kita merespon hormon baik, penyerapan vitamin, mineral, dan zat berguna lainnya akan lebih optimal. Aliran darah juga akan lancar. Sehingga pertahanan daya tahan tubuh kita akan kokoh dalam melawan segala zat asing jahat seperti bakteri dan virus.

Fakta di atas menunjukkan, bahwa dengan menjadi produktif dan mengaktualisasi diri, kita akan menciptakan rasa percaya diri. Perasaan depresi karena merasa jenuh dan monoton, hidup yang seolah tanpa pencapaian apapun akan terkikis saat kita mampu melakoni hobi, kegemaran bahkan jika mungkin menghasilkan karya.

Jadi pemenuhan kebutuhan di puncak piramida Maslow berguna juga ‘kan di masa pandemi untuk mencipta pundi-pundi bahagia dan imunitas?