74675_67653.jpg
radarbogor.id
Politik · 2 menit baca

Kebutaan di Balik Aksi 211

Dampak dari kejadian Hari Santri yang diselenggarakan oleh ormas Islam di Garut pada 22 Oktober 2018 lalu berujung panjang hingga adanya Aksi Bela Tauhid 211. Aksi membela kalimat Tauhid dipelopori oleh sekelompok muslim maupun muslimah yang tidak terima bendera HTI telah dibakar, namun dibelokkan sebagai bendera bertuliskan tauhid.

Jika kita lihat bersama, Aksi Bela Tauhid yang berlangsung pada 2 November 2018 lalu seharusnya tidak perlu terjadi, mengingat penegakan hukum terhadap tersangka pembakaran bendera telah dilakukan oleh pihak yang berwenang dan pelaku pengibar bendera juga telah memberikan klarifikasi bahwa bendera yang dibawa merupakan bendera HTI, bukan bendera tauhid yang banyak disuarakan masyarakat umum.

Bila kita mau jujur dengan kondisi kehidupan beragama saat ini, adanya Aksi Bela Tauhid itu sebenarnya sangat disayangkan. Belum tuntasnya meredam bahaya perpecahan antarumat pemeluk agama Islam atas kejadian pembakaran bendera di Garut, aparat berserta jajaran lain yang berwenang harus ditimpa dengan gerakan massa yang memanfaatkan momen tersebut untuk menggerakkan kembali ormas terlarang HTI, melihat munculnya atribut-atribut HTI dalam kegiatan aksi. 

Jadi sebenarnya apa esensi aksi-aksi yang kalian lakukan? Pasalnya, indikasi-indikasi adanya pihak yang mengadu domba melalui pembakaran bendera tauhid itu sangat kental.

Belakangan, menurut penyelidikan pihak kepolisian, terdapat upaya secara sistematis dari pihak tertentu yang sengaja memancing kegaduhan di tengah momentum peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2018. Munculnya anggapan bahwa kejadian tersebut merupakan settingan telah viral dan dapat dipastikan memiliki tujuan untuk memprovokasi umat Islam, sehingga muncul keributan sebagaimana yang terjadi dan akan berujung tidak adanya lagi sikap saling percaya di antara umat pemeluk agama Islam.

Ormas keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mulai angkat bicara tentang permasalahan yang terjadi di Garut. Kedua ormas keagamaan yang biasanya berbeda pandangan terhadap setiap permasalahan keagamaan, saat ini, sepakat untuk menyatukan pemahaman terkait kejadian pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid. Kesamaan pandangan tersebut juga didukung oleh beberapa ormas Islam lainnya.

NU dan Muhammadiyah bersama ormas Islam lainnya membuat kesepakatan untuk berperan dalam meredam emosi masyarakat yang tidak terima dengan pembakaran bendera HTI di Garut oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). NU, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya juga setuju untuk tidak memperbesar masalah tersebut demi persatuan dan kesatuan, serta Indonesia yang damai.

Melihat rangkaian kejadian tersebut, maka seharusnya kita mulai sadar dan mawas diri. Tak perlu lagi kita memunculkan reaksi yang terlalu spontan seperti ini. Kita harus berpikir lebih cermat dalam menilai suatu permasalahan yang muncul. 

Yang perlu kita ingat kembali, para pembakar bendera sudah meminta maaf. Mereka juga telah mengakui tindakannya itu salah. Apalagi, pelaku pembakaran bendera itu juga saudara seiman yang beragama Islam. Mereka juga anggota dari ormas Islam.

Selain itu, pihak kepolisian juga sudah bergerak cepat untuk mengamankan pelaku sekaligus menyelidiki kasus ini. Jadi, apa lagi yang mau dituju?

Akan lebih baik apabila kita mulai meredam dan menghilangkan ketegangan yang saat ini sedang bergejolak. Kita harus menguatkan kembali rajutan tali persaudaraan antarumat beragama. Jangan sampai, sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman suku, ras, budaya, agama, dan adat istiadat, dapat dengan mudah diadu domba oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. 

Sebab, meskipun kita berbeda keyakinan, suku, ras, budaya, dan adat istiadat ataupun berbeda hobi sekalipun, pada dasarnya kita tetap satu saudara sebangsa setanah air, yaitu Indonesia.