Mungkin banyak yang sudah tahu bagaimana kisah "Kebo Ijo" ini. Seseorang yang diperdaya oleh Ken Arok atau Ken Angrok, sehingga dia dengan polosnya memamer-mamerkan keris cantik tapi belum selesai, yaitu keris Mpu Gandring, yang sebelumnya dicuri oleh Ken Arok dari si Mpu pembuat keris, setelah sebelumnya membacoknya dengan keris buatan si Mpu sendiri.

Keris itu pula yang digunakan Ken Arok membacok Tunggul Ametung, penguasa Tumapel. Akan tetapi, karena orang-orang tahunya yang punya keris adalah Kebo Ijo, maka dialah yang dihabisi. Sementara Ken Arok naik berkuasa, mempersunting janda Tunggul Ametung, Ken Dedes, menakluklan Kerajaan Kediri dan mendirikan Kerajaan sendiri, yang bernama Singosari.

Dalam sejarah bangsa ini, Kebo Ijo ini sempat muncul, tidak hanya sekali, berkali-kali bahkan. Bagi yang paham, kemunculan Kebo Ijo tentulah tersenyum getir, dan berkata dalam hati: "Hadeuh polos banget sih." Akan tetapi, begitulah realitas sejarah bangsa ini, selalu ada yang polos terkena tipu daya, dan si tukang tipu biasanya berjaya dan berkuasa bergelimang kemewahan dunia.

Tahun 65, ada Partai Komunis Indonesia (PKI), yang sedang di atas angin. Seolah-olah ikut berkuasa, padahal sebenarnya ada beringin kuning dan Ken Arok era modern, sang Jenderal Besar Soeharto (saat itu masih Mayor Jenderal), yang sedang bersabar menunggu peluang, untuk mengambil tongkat kekuasaan dari si Bung, yang sudah sepuh, yang dikenal dekat dengan PKI.

Epilognya, akibat instruksi Sjam yang keblinger, kelompok militer dan milisi yang dikomandoinya, alias Gerakan 30 September (G30S), malah membunuh 7 perwira Angkatan Darat, yang awalnya sebenarnya akan dihadapkan pada Bung Karno untuk dimintai pertanggungjawabannya terkait isu Dewan Jenderal. Sjam Kamaruzzaman dalam sejarah mengganti instruksi pada pasukan militer G30S menjadi "Tangkap Jenderal-Jenderal itu hidup atau mati!".

Namanya juga militer, tentu mereka akan pilih yang kedua, karena lebih mudah menangkap manusia yang tak bernyawa daripada yang masih hidup. 

Di belakang hari diketahui bahwa, para oknum militer, yang terlibat dalam G30S, beserta Sjam, ternyata punya sejarah bersama dengan Sang Jenderal Besar, yang memimpin Rezim Orde Baru, selama 30 tahun lebih. Penjelasan yang lebih lengkap tentang peristiwa ini bisa dibaca dalam buku yang saya tulis, yang berjudul “Materialisme Sejarah Peristiwa Gerakan 30 September 1965”, terbitan Elpueblo Tritama Mandiri, tahun 2015.

Tipu daya juga adalah hal yang menyebabkan kejatuhan Soeharto dari tampuk kekuasaan. Penyerbuan Kantor DPP PDI, tanggal 27 Juli 1996, yang konon kabarnya diorkestrai secara diam-diam oleh mantan Jenderal kepercayaan Soeharto yang tersingkir dalam percaturan kekuasaan. Ratusan nyawa hilang dalam peristiwa yang dikenal sebagai Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli) itu. 

Soeharto berhenti, akan tetapi anak-anak didik sang jenderal, yang sebelumnya tersingkir, berhasil menancapkan kuku-kuku mereka pada pemerintahan-pemerintahan berikutnya, dan mendominasi arah politik kekuasaan dalam sebagian pemerintahan-pemerintahan tersebut. Mungkin hanya pada era Gus Dur saja para jenderal anak didik Moerdani tidak berhasil dominan, entah kenapa, mungkin karena tingkat inteligensia Sang Kiai, yang jauh di atas manusia normal.

Kasus penculikan aktivis dalam kurun waktu 1997-1998 juga adalah contoh aksi tipu daya, yang dimainkan oleh para Ken Angrok era modern, yang berkuasa setelahnya. Belum terungkapnya kebenaran di balik kasus tersebut, sehingga dalang penculikan 13 aktivis yang sampai sekarang masih hilang, masih belum diketahui. 

Ironisnya tiap pemilu, pasti selalu ada suara-suara yang menuding Letjen (Purn). Prabowo sebagai dalang keseluruhan aksi penculikan aktivis. Padahal, vonis hukum terhadapnya belum ada, dan sekarang malah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dalam Pemerintahan Jokowi.

Peristiwa kerusuhan 21-23 Mei 2019 di Jakarta, pasca Pilpres (Pemilihan Presiden) 2019, adalah contoh lain dari Kebo Ijo yang terpedaya Ken Arok. Rivalitas yang memanas pada Pilpres tersebut, antar 2 paslon (pasangan calon) yang bertarung, membuat massa di akar rumput terbakar, kerusuhan terjadi, yang kemudian menewaskan 9 orang.

Ironisnya, sampai sekarang dalang sebenarnya dari peristiwa ini belum juga terungkap. Sementara, sang Jenderal, yang sebelumnya kalah dalam kontestasi Pilpres, dan diisukan sebagai pihak yang dicurangi, malah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dalam pemerintahan yang sekarang ini.

Akhir-akhir ini, Kebo Ijo samar-samar terlihat lagi kemunculannya dalam percaturan politik nasional. Polemik seputar RUU HIP (Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila), yang terakhir memunculkan aksi pembakaran terhadap bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan sehelai bendera merah berlogo palu arit, oleh sekelompok massa aksi penolak RUU HIP, yang berlangsung di depan pagar Gedung Dewan Perwakilan Rakyar (DPR), tanggal 24 Juni 2020.

Padahal kalau dirunut sedikit ke belakang, sebelum gonjang-ganjing pro-kontra RUU HIP ini, ada peristiwa pertemuan antara Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Bambang Soesatyo, yang juga politisi Partai Golongan Karya (Golkar), dengan Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasional Demokrat, yang dulunya sempat menjadi politisi Partai Golkar. 

Dalam pertemuan itu, terlontar wacana untuk mengubah UUD (Undang-Undang Dasar) 1945 dari mulai pembukaan sampai batang tubuh (untuk lebih lengkapnya, silakan baca artikel dalam cnnindonesia.com, "Bamsoet Sebut Surya Paloh Usul Amandemen Total UUD 1945", 14 November 2019).

Hal yang secara logika, sebenarnya sama dengan mengubah Pancasila, kalau dilaksanakan, karena rumusan Pancasila terdapat dalam alinea ke-4, Pembukaan UUD 1945. Herannya, saat itu tak ada demonstrasi penolakan terhadap wacana ini, dan bendera Partai Golkar serta Partai Nasdem tak dibakar, seperti bendera PDIP.

Terakhir, sepertinya, PDIP tidak terima terhadap aksi pembakaran bendera mereka tersebut dan memilih untuk mengambil jalur hukum untuk mengusut dan menyelesaikan kasus pembakaran tersebut. 

Persoalannya kemudian, siapakah nanti dalam epilog drama politik ini yang akan “dikebo-ijokan”, dijadikan kambing hitam dan menjadi korban kemarahan rakyat? Mungkin lirik lagu “Sanggupkah” dari Andy Liany, “Hanya waktu yang bisa jawab semua itu”, yang tepat untuk menjawab pertanyaan ini.