Langit mendung ditambah semilir aroma angin hujan tercium ditengah pepatnya kondisi kota. Langit mendung dan hilir balik pekerja dari kantor masing-masing semakin riuh dibuat kota kecil yang diharapkan mampu memberikan pundi-pundi rupiah. Sepatu bolong di ujung jempol tak pernah membuat malu woli untuk menggedor pintu per pintu perusahaan.

Rintik hujan mulai menetes dengan manjanya dan beberapa berlari berteduh agar tak membasah jas eropa yang kebanyakan dipakai di kota besar yang unik itu. Woli dipaksa berteduh karena hujan membasahi seisi kota ditemani seekor kucing kotor dengan luka sobek di belakang kupingya. “Sudah berapa tahun tinggal disini?” sambil mengelus pantat kucing dan berbincang konyol dengannya.

Hampir satu tahun, woli bergulat dengan kerasnya kota untuk mengais rejeki dan mendapatkan kerja kembali setelah dipecat karena perusahaannya bangkrut. Selembar berkas dan secarik kertas ijazah didekapanya agar tak basah oleh hujan yang tak diharapkan turun. Guntur hebat menghantam menara, dum! bocah kecil lusuh penjual Koran menutup telinga didepan toko yang terbengkelai.

Tak tau kenapa aroma debu hujan menginatkan woli pada seseorang di tempat nan jauh. Melamun dengan dilihatnya aliran air mengalir deras di selokan kota semakin lesu dibuat masalalu dengan pedih dan ceria menjadi satu. Masa kecil dengan bebas bergumul ceria bermain dibawah terpaan hujan terlintas sesaat meresapi masalalu berseling dengan kehidupan pait masa lalu.

Lalu lalang kembali normal. Derum kendaran mulai memekikan telinga Woli, tanda hujan telah reda  dan menghadapi berjalanya kehidupan kembali dilakoni. Sudah tujuh tempat dikunjungi, tapi tak satupun menerima Woli. Tak tau, apa masalahnya. Jelasnya, tidak sesuai kriteria perusahaan. Dengan Celana hitam dan kemeja putih yang telah menguning disusurinya gang-gang sempit untuk kembali ke rumah kontrakannya.

Jalanan becek, meresap ke dalam kaki Woli. Nampak tak nyaman dan terlintas untuk membeli sepatu baru, tetapi dibendung masalah uang dan finansial. Orang tua mendorong gerobak nasi goreng, tanda sore akan raib ditelan malam. Hampir berhari-hari dilakukan woli untuk berjalan kaki, kadang juga memakai fasilitas transportasi kota.

“Baru pulang mas?” Senyum lebar dengan make over tebal memaksa woli untuk berbincang terlebih dahulu sebelum merebahkan diri di kamar sewa sempitnya. Pengusaha kos adalah tuan tanah, hidupnya sangatlah nikmat menunggu cuan penyewa setiap bulan atau tahun dan selalu punya waktu untuk ngopi ataupun nge-bar. “Sudah dua hari ini bu, saya cari kerja tapi tak juga dapat.” Celetuk Woli dengan muka lesu dan kusam. “Bukannya Mas Woli, sudah dapat pekerjaan?” Dipecat bu, perusahaan bangkrut. Pasrah nampak wajah Woli.

Dialog panjang lebar membuat berat kedua mata Woli dan berkali-kali menguap sebagai alasan Woli untuk masuk ruangan. Rembesan air karena hujan nampak telah membasahi tembok ketika woli membuka ruangan. Sudah wajar, untuk tinggal ditempat sewa murah. Ada harga ada kualitas. Gumam woli sambil melepas dasi coklatnya.

Ternyata radionya telah lama nyala yang dinyalakannya di pagi hari, dan didengarnya pemberitaan tentang pemecatan pegawai besar-besaran karenan krisis ekonomi. Tak hanya woli saja menderita karena pemecatan tapi ratusan bahkan ribuan manusia merasakan penderitaan yang sama. Direbahkannya tubuh kecilnya itu, dengan aroma khas bantal dengan bercak hitam. Dipikirnya rencana kedepan apa yang harus dilakukakn untuk mengatasi keresahaan baru-baru ini.

Membuka bisnia tak lihai mengamati pasar, menjadi politikus tak lihai beradu debat, minimal membohongi tukang becak atas visi, misi dan wacananya. Dipikirannya hanya uang dan bisa mendapat gadis idaman dengan ditemani ruangan bertembok mahal. Perut terasa kosong seharian tak makan. Wolipun keluar, untuk menikmati sajian kopi dan pisang goreng hangat Pak Iba, sering dipanggil –pak tua.

“Pak, kopi hitam satu.” Warung kala itu ramai, banyak dari mereka berbincang terkait berapa nomor yang akan keluar dan ramalan tim bola untuk berspekulasi siapa yang akan memenangkan pertandingan. Berjudi, dengan deposito murah siapa tak tergiur dengan hal tersebut. Beberapa dari usia remaja sampai tua mengharapkan mendapat laba lebih dari uang spekulasi itu.

“Dapat, tujuh ratus ribu.” Teriak pemuda di pojok warung dengan suka cita dengan memukul meja secara spontan. Nampak senang raut mukanya, tapi tidak dengan mereka yang murung karena rugi tak ada satupun sepersen rupiah yang didapatnya. “Wah, kita makan gratis hari ini. Biar si Alpin yang membayarnya.” Pemuda dengan tiba-tiba nyeletuk ke Alpin.” Ndasmu!. Tandas Alpin dengan suara tinggi.

Penyedia layanan judi dan beberapa strategi spekulasi menjamur dan membuat tertarik (mereka) para pemuda yang ingin mendapatkan cuan. Hasil gaji yang tak seberapa digunakannya untuk berspekulasi, siapa tahu dapat rejeki. Rejeki tandasnya. Nampak bingung wajah Woli, bagaimana tidak mereka takut dengan pencipta di keesokan hari dengan gambaran siksa pedih ketika kyai-kyai menyampaikan aturan agama.

Hidup yang dirasa kadang kejam itu, tak satupun rasa takut. Karena dipikirnya bisa menghidupi anak istri dan selang waktu di sabtu dan minggu bisa menyantap kepiting bakar. Dilihatnya pemuda terlihat parlente dengan sebungkus rokok mahalnya bersantai menikmati kopi dan usus bakar buatan Pak Tua. Woli berhasrat untuk mengajak berbincang dengannya.

Menyapa dan mencari celah pembukaan di pikirkan Woli lamat-lamat. Pembukaan perbincangan baik, bisa mendapat informasi yang baik pula. “Bang, ikut nimbrung ya?” tanya Woli sebelum meletakan pantatnya yang trepes itu. “Silahkan-silahkan, pemuda berkacama mata Oakley dan bibir yang menghitam menjamu Woli malam itu.

Perbincangan malam itu sangatlah menarik. Woli dijejali pengetahun mengenai ternak uang. Tak pernah sebelumnya Woli tahu, bagaimana mengelola uang, yang ia tahu hanya menyelipakan kedalam kasur berkutu dan beberapa bolong di makan segerombolan rayap.

Cryptocurrenty. Diingatnya tajam-tajam atas sistem kerja alat elektronik baru itu. Sistematika dijelaskan cukup detail dan sabar karena kadang Woli bertanya pada hal yang telah dijelaskan. Cukup dibuat sabar pemuda itu, oleh tingkah Woli yang lugu, atau mungkin masih minim dengan wawasan pengetahuannya.

Gaya parlente pemuda itu diringkas saja dalam otaknya didapatkan dari permainan Cryptocoin. Nampak santai kerjanya, sore bisa ngopi malam bisa nongki lagi. Tak luput gadget-nya selalu aktif dilihatnya berjam-jam untuk mengetahui informasi terbaru. Begitulah kerjanya. Tak tahu sampai kapan berlangsung demikian.

Setelah berdiskusi cukup lama, Woli mengusulkan untuk kembali ke kontrakan dan menyerap pengetahuan dari angkringan Pak Tua. Gerimis dan dingin mewarnai malam itu, tetasan rintik hujan masih terasa dan membasahi jaket tua milik Woli.

Meminjam bank. Di benak pikirnya terlintas kuat untuk modal awal terjun di dunia Cryptocoin. Dengan uang itu, di bisa bermain dan pikirnya bisa mendapat segepok uang dengan berleha setiap hari di warung Pak Tua. Tiba-tiba teringat teman sekolahnya yang sekarang bekerja sebagai menejer bank. Meminjam uang solusi awalnya hengkang dari kemiskinan.

Woli nampak gegabah dan mungkin percaya secara betul, Tuhan adil dan bisa membimbingnya hidup dalam dunia yang asbsurd itu. Segepok uang didapatnya dengan alasan untuk bisa membuat usaha. Lobi yang baik. Keesokan hari ia bertemu dengan pemuda parlente untuk membimbing masuk ke dunia cryptocoin. Bitcoin target utamanya karena nilainya tinggi dibanding crypto-crypto lain.

Woli tak pernah terpikirkan sebelumnya kenapa orang-orang mulai tertarik pada dunia Cryptocurrenty. Tiba-tiba datang teman lamanya dari Surabaya untuk menanyakan kabar. Bercampur kaget dan bahagia ketika Woli mengetahui dunia uang elektronik yang baru-baru ini naik daun. Perbincangan dan diskusi tak bisa dihindarkan.

Temanya memberikan penjelasan tentang cara kerja uang. Uang hari ini telah mengalami revolusi dari awalnya disepakati sebuah kuwuk hingga hari ini berkembang menjadi Bitcoin. Woli nampak melongo karena tak pernah mendengar sebelumnya. Yang ia tahu, uang itu adalah benda berharga untuk menukarkan benda atau kebutuhan lain.

“Uang itu adalah konsensus masyarakat li. Kamu lihat batu didepan sana? Itupun bisa jadi uang bila ada kesepakatan kuat antar individu satu dengan lainnya.” Jelas Adi kepada Woli. Orang-orang bisa terpengaruh ketika mengikuti kesepakatan bersama untuk bisa menggunakan barang yang dinamakan uang. Termasuk Bitcoin.

“Ya, kagak salah si untuk investasi atau jual beli pake Bitcoin. Tapi ya kamu harus intens untuk gali informasi lebih, biar tidak keblinger.” Tandas Adi sambil merapikan rambutnya yang panjang itu. “Em, mikir terus kelamaan gerak di. Bisa-bisa kehilangan peluang.” Sahut Woli dengan penuh percaya diri.

“Tidak seperti itu li. Kamu tahu siapa yang ngebranding dan siapa yang memainkan sistematika bitcoin? Mereka semua orang-orang besar dan spekulan cerdas. Mereka tidak sembrono menentukan langkah mereka.” Woli termenung dan berfikir keras sambil menggaruk-garuk lehernya.

Adi juga menjelaskan peristiwa pahit di era orde baru, dimana ada seorang spekulan gila bernama George. Soros, yang mampu melemahkan dan menghancurkan perekonomian di negara berkembang melalui Thailand. Soros meminjam uang kepada bank-bank di negara berkembang untuk dibelikan dolar. Dan dor! Negara-negara berkembang kecolongan.

Bank sentral langsung memilih “imidiate reaction,” karena ada indikasi peminjaman uang lokal secara besar-besaran. Suku bunga pada dolar dinaikan. Mereka para bank yang meminjamkan rugi hingga berakibat pada krisisi moneter dengan didepaknya presiden Soeharto karena tercekik inflasi besar yang berpengaruh pada negaranya.

Adi menjelaskan juga, mengenai fiksi dalam kehidupan. Fiksi adalah hal yang dipercayai untuk dilakukan secara bersama. Seperti contohnya uang yang dapat mengalami evolusi itu. Kamu harus bisa cerdas dan tidak gegabah untuk menggunakan uangmu itu, apalagi uangmu itu kamu dapat dari hasil pinjaman bank. Sangat beresiko. Tutur Adi dengan semangat.

Hening dan sunyi ketika berdabe dengan durasi cukup lama. Notifikasi berita terbaru muncul di layar utama gadget Adi. Skak! Indeks Bitcoin turun total. Adi penasaran pada isi pemerintaan. Dibacanya lama-lamat. Pengaruh salah satu orang berpengaruh di dunia nampaknya yang mempengaruhi tingkat berharganya mata uang itu. Sekelibet Adi teringat Celotehan Yuval Noah Harari kala menjelaskan pengaruh uang kepada manusia.

Woli bersyukur karena belum terjerumus dan lebih tertekan karena kegegabahannya. Ia pun menepuk pundak Adi dan berterima kasih atas masukannya. Keesokan harinya, Woli melihat pemuda parlente nampak murung. Adi merasa tak enak untuk mendekatinya karena cukup merah dan frustasi mukanya karena rugi banyak. Woli mendapat kabar dari pak tua bahwa ia rugi sekitar satu milyar. Rumit dan pelik dunia ini.

Woli pun bersyukur karena ada temannya yang memberikan masukan untuk tidak gegabah dalam investasi. Harus dipelajari secara detail terlebih dahulu. Tidak semerta-merta instan –kaya. Semua butuh usaha dan proses. Sekian.