Memang garis batas antara kemanusiaan dan kebinatangan itu tak tampak! Itulah kesimpulan saya dalam satu kalimat setelah menamatkan buku ini. Buku berjudul O karya Eka Kurniawan dengan ketebalan 482 halaman.

Diantar dengan sinopsis tentang seekor monyet yang berniat menikah dengan kaisar dangdut, buku ini menyajikan sudut pandang ke-hewan-an beriringan dengan kebinatangan manusia.

Sebelum menjadi monyet, setiap monyet itu sejatinya adalah ikan. Begitulah kiranya yang diyakini oleh monyet-monyet di komunitas monyet Rawa Kalong, termasuk di dalamnya monyet betina bernama O dan tunangannya, Entang Kosasih—si monyet jantan.

Dalam sejarah komunitas mereka, ada seekor monyet yang bisa menjadi manusia. Ialah Armo Gundul, yang telah dikisahkan entah berapa generasi. Menjadi manusia adalah cita-cita Entang Kosasih selanjutnya, apa pun harganya.

Entang Kosasih tertembak oleh seorang polisi, namun mayatnya tidak pernah ditemukan. Hilang begitu saja walaupun secara nyata disaksikan terjatuh dari pohon. 

Singkat cerita, si monyet O—yang kini sendirian, masih berharap akan berjumpa kembali dengan kekasihnya; dan kini ia bergabung dengan topeng monyet pimpinan Betalumur, pemuda menyedihkan dalam segala arti.

O yang mengalami kehidupan menyedihkan, setidaknya menurut Kirik si anjing kecil dan mungkin juga menurut dirinya sendiri, masih memilih untuk bertahan sebagai pemain topeng monyet, dengan satu-satunya alasan bahwa itulah satu-satunya cara agar ia bisa menjad manusia.

Menjadi topeng monyet berarti memainkan peran seperti yang dilakukan manusia: menjadi polisi, berbelanja ke pasar, termasuk juga memerankan kaisar dangdut sambil menenteng gitar.

Memikirkan lebih jauh tentang topeng monyet dan keyakinan O menggelitik memang. Apakah manusia dilihat sebagai manusia ketika ia bisa berbelanja ke pasar? Mengejar penjahat sebagai polisi? Menenteng gitar dan bermusik? Jika seperti itu, monyet pun bisa!

Apakah manusia dan kemanusiaan itu? Ah, maklumlah, buku ini ditulis oleh seorang alumnus filsafat. Tapi ya begitu, cara Eka Kurniawan menyelipkan sisi-sisi filosofis pada setiap tokohnya.

Buku ini ditulis dengan alur maju-mundur syantiksyantiiik. Jika tidak cukup jeli dalam mengingat peristiwa yang sebelumnya, mungkin pembaca akan keteteran dan tidak mengerti urutan kisahnya. 

Lagi pula, tokohnya memang cukup banyak. Alhasil, bagian pertengahan buku ini terasa sangat membosankan. Yang ada dalam pikiran saya adalah ini tentang O.

Tapi, kemudian buku ini membahas beberapa jenis hewan lain, seperti si anjing kecil Kirik dan si burung beo. Terlalu banyak porsi bagi mereka hingga saya bahkan pesimistis apakah O masih akan diceritakan lagi.

Panjang. Begitu lama kemudian. Terlalu banyak kisah yang menyelinginya. Lalu kembali pada O dan kehidupannya yang masih menyedihkan. Kemudian ia bertemu dengan kaisar dangdut yang berwujud manusia yang ternyata nama aslinya adalah Entang Kosasih. 

O kini bersama seorang waria yang memeliharanya bernama Mimi Jamilah. Betalumur hilang tanpa jejak.

Namun, O adalah seekor monyet, dan siapa yang akan mengerti percakapan manusia dan monyet? Bagaimana O akan berkomunikasi dengan Kaisar Dangdut? Betalumur yang sekian lama sebagai pawang topeng monyet pun tidak tahu bahasa monyet.

Ada cukup banyak tokoh dalam buku ini dengan kisah dan masa lalunya masing-masing. Tapi, entah bagaimana, semuanya terhubung. 

Saya mengapresiasi kecerdasan penulisnya dalam hal ini. Ya, walaupun harus melalui masa-masa yang membosankan ketika membacanya. Selain itu, buku ini juga banyak mistisnya. Haha.

Buku ini kaya akan satire. Beberapa kali menyajikan peristiwa-peristiwa berlatar Orde Baru, seperti perampasan lahan, pembantaian, dan korupsi-kolusi-nepotisme yang khas. Tapi, sebenarnya hal-hal seperti itu terjadi di setiap zaman. Tentu juga tidak lupa dengan “Tanah ini milik Tentara Nasional Indonesia” yang kerap disebut dan dituliskan dengan lengkap. Satire sekali!

Satire yang lain adalah tentang kaisar dangdut. Kaisar dangdut, bukan raja dangdut. Ia digambarkan membawakan lagu-lagu berisi pesan moral, menyampaikan ayat-ayat kitab suci, dan selalu menjadi rebutan partai-partai politik ketika momentum pemilu. Namun, pada suatu adegan, kaisar dangdut sendiri tengah asyik menikmati bir. Haha

Tentang nilai-nilai moral yang bisa didapat? Apa ya? Beberapa nilai-nilai religius Islam yang muncul seperti seorang syekh yang memberikan ceramah di bawah pohon rindang, sepasang pengemis yang akhirnya mendirikan salat setelah sebelumnya tidak, juga seorang Haji yang menolak anjing untuk konsumsi. Tapi, entahlah apakah yang memakan daging anjing itu seorang muslim atau bukan.

Yang membuat saya tidak habis pikir adalah seorang perempuan dengan dua anak yang sangat ingin memelihara anjing namun dilarang oleh suaminya. Hingga akhirnya, ia mengunci suaminya dalam gudang dan dibantai oleh seekor anjing ganas. 

Entahlah ini sifat kemanusiaan atau kebinatangan. Karena memang garis batas antara keduanya tidak tampak.

Seekor babi juga dikejar dan dibantai secara barbar oleh orang-orang yang menduganya sebagai babi ngepet. Ditombak sana-sini, hingga ditendang. Babi itu rupanya adalah Betalumur. Begitulah akhir hidup Betalumur. Dari sampah kembali ke sampah.

Terakhir, apakah O akhirnya bertemu dengan kekasihnya, Entang Kosasih? Sayang sekali. Ketika monyet menjadi manusia, ia melupakan kehidupannya sebagai monyet. Seperti semua monyet tidak mengingat kehidupannya sebagai seekor ikan pada kehidupan sebelumnya.

Jadi, apa jawabannya? Mereka berjanji bertemu. Kaisar dangdut yang nama sebenarnya adalah Entang Kosasih—mantan pengamen, yang menjadi pelanggan layanan curhat via telepon dengan nama samaran sebagai Romeo, dan costumer service layanan curhat via telepon dengan nama samaran Kamelia—yang nama sebenarnya adalah O.

Nama yang sangat singkat yang menggambarkan siklus hidup manusia. Lingkaran. Kembali ke titik semula.