Persebaran corona virus disease 19 (covid-19) semakin merebak seiring berjalannya waktu. Bencana tersebut memberikan banyak pengaruh bagi sebagian besar kehidupan masyarakat di dunia termasuk diantaranya ialah di Indonesia. 

Kasus persebaran covid-19 yang semakin merajalela di tengah masyarakat Indonesia mendorong pemerintah untuk turun tangan dalam rangka menangani dan menanggulangi persebaran covid-19 yang begitu masif. Kebijakan demi kebijakan diupayakan oleh pemerintah Indonesia. 

Hal tersebut menjadi langkah awal yang bertujuan untuk semakin memperlambat persebaran covid-19. 

Salah satu kebijakan awal yang diambil oleh pemerintah pusat yakni dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020. Peraturan ini berisi mengenai penerapan social distancing atau physical distancing yakni menjaga jarak dan membatasi aktivitas sosial secara langsung dengan cara kontak fisik. 

Peraturan tersebut diterbitkan untuk dapat diterapkan dalam masyarakat. Kegiatan-kegiatan seperti bekerja, belajar, dan beribadah hendaknya dilakukan di rumah dan membatasi kegiatan di luar rumah yang sifatnya mengumpulkan massa dan berkerumun. 

Kebijakan publik tersebut diumumkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, Selasa 31 Maret 2020 setelah melalui rapat terbatas dalam kabinet. Kebijakan tersebut diikuti dengan terbitnya Keputusan Presiden (Keppres) tentang penetapan kedaruratan kesehatan masyarakat untuk dapat melaksanakan amanat UU (Kompas.com: 2 April 2020).

Persona yang Saling Menyempurnakan Diri

Personalisme merupakan sebuah aliran pemikiran filsafat yang memiliki fokus pada kajian persona manusia. 

Persona sendiri berasal dari kata persona dalam bahasa latin. Kata persona mempunyai akar kata dalam bahasa Yunani yakni πρόσωπον atau topeng. T

openg yang dimaksudkan di sini yakni menjadi sebuah identitas diri manusai yang memainkan peran dan menunjukkan berbagai peran di balik topeng tersebut. Topeng ini sering muncul dalam panggung pertunjukkan teater. Menurut pandangan pemikiran para kaum personalis, dimensi sosial bagi manusia merupakan bagian yang paling penting dalam kodrat manusia. 

Kesempurnaan manusia hanya akan di dapat ketika manusia saling berinteraksi dengan manusia lainnya. Relasi interpersonal inilah yang menjadi struktur paling penting dan mendasar bagi manusia.

Menurut pemikiran Nicholaus Driyarkara, seorang filsuf Indonesia sekaligus rohaniwan dari ordo Yesuit, manusia bukanlah makhluk yang hanya memiliki dua atau tiga definisi. 

Definisi yang acapkali melekat dalam diri manusia yakni animal ratione, Geist in Welt, dan Espirit Incarne. Menurutnya manusia merupakan makhluk yang kompleks dan menyeluruh. Manusia bukanlah apa, melainkan siapa, sebab manusia bukanlah sebutir, sebuah, sesuatu, melainkan seseorang. 

Pertanyaan mengenai apa manusia lebih mengarah pada sesuatu yang ragawi dalam tangkapan panca indra, sedangkan siapa lebih pada sesuatu yang bersifat istimewa yakni berkenaan dengan kesadaran manusia yang menyadari dirinya dan akal budi yang ia miliki.

Persona merupakan subjek yang tak tergantikan. Sebab subjek ini memupnyai kesadaran untuk dapat menyadari dirinya. Kesadaran bahwa dirinya ada inilah yang menjadi keistimewaan persona manusia. 

Sebagai persona, manusia selalu menjalankan hubungan dengan sesamanya. Proses hubungan dan interaksi antar manusia secara langsung ini secara tidak langsung juga turut serta mengakui interaksi antar persona, yakni hubungan antara aku dan engkau. 

Menurut Driyarkara persona dalam diri manusia ini menjadi bagian langsung dan mendasar dalam diri manusia. Bagian ini tertanam dan melekat dalam diri manusia sebab persona ini menjadi sarana untuk berhubungan dengan orang lain.

Persona manusia ini seiring berjalannya waktu akan senantiasa mengalami proses interaksi dan interkomunikasi antar persona sebagai subjek dengan subjek. Proses interaksi antar persona inilah yang menjadi titik awal terjadi proses penyempurnaan diri. 

Sebab menurut pandangan Driyarkara pada dasarnya manusia belumlah sempurna. Kesempurnaan manusia hanya didapatkan ketika manusia sebagai persona saling berinteraksi dengan persona lainnya. 

Interaksi inilah yang menjadi manusia semakin sempurna dan mencapai kesempurnaan dirinya sebagai manusia, persona, dan subjek yang sempurna.

Hidup manusia yang sejati hanya dapat berkembang ketika terdapat komunikasi antara persona dengan masyarakat. Persona meliputi masyarakat dan demikian halnya sebaliknya. 

Persona dapat terbuka bagi masyarakat supaya dengan demikian persona dapat berkembang dan membina dirinya dengan lebih baik lagi. Semakin lancar dan semakin luas jaringan komunikasi antar personanya dalam masyarakat maka akan terbentuk pribadi persona yang semakin kuat. 

Dimensi sosial dan masyarakat telah tertanam sebagai kodrat manusia. Ketika setiap persona berinteraksi dengan sesamanya untuk melimpahkan cinta kasihnya, maka disitulah ia melipatgandakan kebahagiaannya sendiri bagi orang lain.

Ketika manusia menyempurnakan dirinya sebagai persona yaitu dengan membuka dirinya bagi orang lain dalam cinta kasih, di situlah manusia ini menyempurnakan masyarakatnya meskipun itu kecil pengaruhnya. 

Hukum dan aturan dalam masyarakat yang dibuat oleh manusia tidak boleh menjatuhkan dan merendahkan kepribadian persona manusia. 

Apabila hal tersebut terjadi maka sama halnya merendahkan kepentingan persona dan persona tidak dapat mencapai kesempurnaan dirinya dalam masyarakat dan interaksinya dengan orang lain.

Kebijakan Pembatasan Sosial dan Penyempurnaan Diri

Kebijakan pembatasan sosial di masa pandemi yang dilakukan pemerintah merupakan suatu bentuk kebijakan yang terkesan menghambat proses penyempurnaan diri persona. 

Kebijakan yang muncul dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) dan Keputusan Presiden (Keppres) dengan membatasi ruang gerak sosial secara langsung terlihat melanggar kodrat manusia sebagai makhluk sosial dan bermasyarakat. 

Namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat untuk berinteraksi bukan secara langsung kontak fisik melainkan dapat dilakukan dengan cara jarak jauh dan melalui daring.

Kebijakan pemerintah dengan memerintah adanya pembatasan sosial di masa pandemi ini tentu memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positifnya yakni bertujuan untuk menghambat persebaran covid-19 di masyarakat. 

Dampak negatifnya yakni interaksi sosial secara langsung di masyarakat juga terhalangi dan tidak dapat seperti biasanya. Interaksi sosial tersebutlah yang membuat manusia semakin bertumbuh dan membina diri untuk menjadi manusia yang mencapai kesempurnaan personanya. 

Sebab manusia pada awal mulanya memanglah persona yang belum sempurna. Kesempurnaan hanya dapat dicapai dalam masyarakat yakni dengan berinteraksi dan perjumpaan dengan persona lainnya. 

Perjumpaan inilah yang dapat membentuk kepribadian persona manusia untuk mampu bertumbuh menjadi manusia dengan persona yang sempurna dan sejati.

Kebijakan pembatasan sosial di masa pandemi ini memang terlihat melanggar kodrat manusia yang adalah manusia bermasyarakat dan berinteraksi dengan manusia lain. 

Kebijakan ini tentu menghambat proses penyempurnaan diri manusia sebagai persona yang bertumbuh menjadi persona yang sejati dan sempurna. Namun perkembangan zaman, teknologi, komunikasi, situasi, serta kondisi yang demikian menuntut setiap pribadi dan setiap persona manusia untuk berdaptasi dan bertumbuh. 

Hal ini menuntut setiap manusia bahwa interaksi sosial dan proses penyempurnaan diri tak lagi hanya berkutat pada interaksi sosial secara langsung melalui kontak fisik dan perjumapaan tatap muka. 

Kebijakan pemerintah mengenai pembatasan sosial dalam masyarakat mengajarkan bahwa proses penyempurnaan diri setiap pribadi persona dapat pula dicapai dengan cara berinteraksi dalam komunikasi jarak jauh dan media daring. Hal tersebut memang agaklah sulit dilakukan secara sekejap dan membutuhkan proses. 

Namun, bukankah proses inilah yang menjadi hakikat mendasar dan jalan bagi masing-masing persona untuk semakin menyempurnakan diri di tengah masyarakat? 

Sebab persona yang sempurna juga menuntut pribadi yang terbuka terhadap diri dan masyarakat. 

Kebijakan pembatasan ini mengajarkan setiap manusia untuk mau terbuka terhadap keadaan dan belajar berproses untuk mencapai kesempurnaan.