Sebagaimana yang tertuang pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 1 menyebutkan, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.”

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam mempengaruhi kemajuan bangsa. Maka dari itu, untuk mencapai tujuan Pendidikan serta persiapan sumber daya manusia (SDM) unggul dan berdaya saing menuju Indonesia emas 2045, butuh transformasi Pendidikan yang mengedepankan kualitas dan bukan sekedar kuantitas.

Secara umum Pendidikan bisa diperoleh dari mana saja. Baik secara formal, non-formal, dan informal. Secara formal, Pendidikan tidak terlepas dari kurikulum yang dirancang. Kurikulum merupakan salah satu instrumen yang sangat berperan penting dalam mencapai tujuan Pendidikan, karena kurikulum menjadi pedoman atau pegangan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas Pendidikan.

Namun, dalam perjalanan panjangnya, kurikulum selalu mengalami perubahan, bahkan akibat seringnya pergantian kurikulum ini memunculkan stigma “ganti Menteri Pendidikan, ganti kurikulum”.

Sejarah mencatat, sejak Indonesia merdeka 1945, kurikulum sudah mengalami perubahan sebanyak sepuluh kali hingga sekarang. Tentunya tidak ada yang salah dari pergantian kurikulum tersebut, karena mengingat perkembangan zaman yang begitu cepat dan mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan.

Kurikulum yang dirancang dari masa ke masa sangat baik dan memiliki tujuan masing-masing. Akan tetapi yang menjadi masalah dalam pelaksanaannya di lapangan mengalami stagnan atau tidak ada perubahan.

Baca Juga: Bukan Guru Biasa

Tak jarang perubahan kurikulum tidak dibarengi perubahan proses pembelajaran untuk lebih efektif. Sehingga di beberapa sekolah tidak mengalami perubahan.

Dalam pelaksanaannya di lapangan, Guru menjadi ujung tombak penentu keberhasilan tujuan Pendidikan. Maka guru sebagai pelaksana kurikulum harus memiliki kesiapan dan kemampuan mengelola pembelajaran dengan baik, karena keberhasilan Pendidikan tergantung pada kreativitas guru.

Kreativitas adalah menjadi prioritas yang harus dimiliki Guru. Bagaimana Guru mampu mengkemas pembelajaran untuk lebih menarik dan dapat diterima oleh siswa dengan baik. Didukung oleh faktor lainnya seperti fasilitas, orangtua, lingkungan dan lain sebagainya akan mempercepat peningkatan kualitas Pendidikan tersebut.

Maka sangat dibutuhkan kerjasama yang baik dari semua stakeholder untuk memastikan tercapainya tujuan pembelajaran dalam proses pembelajaran, terutama Guru selaku yang paling dekat dengan siswa dalam pembelajaran.

Guru dalam proses pembelajaran sering kali menggunakan cara-cara konvensional, berceramah satu arah dan membosankan. Walaupun kurikulum sudah berubah, akan tetapi metode mengajarnya tetap saja dan tidak mengalami perubahan.

Hal tersebut bukan tanpa sebab dan harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah untuk bagaimana meningkatkan kualitas Guru.

Sebagian guru mungkin menganggap kurikulum baru hanya soal administrasi ke dinas saja.  Sedangkan metode belajar konvensional seakan-akan sudah menjadi budaya mengajar yang sulit diubah atau merasa terbebani jika akan mengikut kurikulum.

Sementara, Guru adalah ujung tombak pelaksanaan kurikulum. Guru harus kreatif dan berinovasi dalam menyajikan pembelajaran. Guru harus berpikir keras bagaimana agar tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dapat tercapai dengan efektif dan efisien.

Metode mengajar Guru sangat berpengaruh terhadap minat belajar siswa. Sehingga metode-metode lama dan membosankan harus dapat diubah dan dikemas dalam bentuk yang lebih menarik dengan kreativitas yang dimiliki oleh seorang Guru.

Bagaimana anak bisa aktif, mengambil inisiatif, spontas, dan cerdas kalau gurunya diam saja? Guru harus belajar bagaimana harus memahami karakter siswa? Bagaimana harus membawakan diri dan materi di kelas? Bagaimana cara membangun suasana kelas serta sekolah yang menyenangkan?

Contohnya bagaimana agar peserta didik itu harus bisa merasakan bahagia dalam belajar. Karena indikatornya adalah kebahagiaan peserta didik, mau tidak mau seorang guru harus menciptakan suasana bersenang-senang dalam belajar. Seolah bermain, padahal mereka belajar. Sehingga ketika lebih giat bermain akan membuat mereka belajar lebih banyak.

Kreativitas seperti itulah yang sangat dibutuhkan sehingga memang kurikulum betul-betul mempengaruhi apa yang diajarkan guru dan bagaimana materi itu diajarkan. Kurikulum yang baik memang menjadi dasar untuk tercapainya kualitas Pendidikan yang baik, akan tetapi juga harus dibarengi dengan guru yang berkualitas sehingga dapat meningkatkan kualitas belajar yang dialami muridnya.

Intinya kita ingin semua guru dapat mengajar dengan baik bagaimana pun kualitas kurikulumnya. Karena apapun kurikulumnya, yang paling penting adalah kemampuan dan keterampilan guru dalam menginterpretasi dengan ilmu dan pedagogi yang mendalam. Sehingga tujuan Pendidikan dapat tercapai dan persiapan SDM unggul dan berdaya saing menuju Indonesia emas 2045 dapat terlaksana dengan baik.

 Kita yakin dengan kerjasama bersama akan mencapai  Pendidikan yang berkualitas guna memajukan negara ke arah yang lebih baik dan mencapai cita-cita negara. Sudah saatnya kita lebih optimis untuk mencapai cita-cita bersama.