Kembali ke topik soal Covid-19. Keberhasilan Kuba di sektor pendidikan dan kesehatan telah berimplikasi positif di tengah pandemi corona yang tengah menyibukkan dunia. Walaupun negara itu tidak bebas dari corona, mereka jauh lebih siap menghadapi pandemik ini—bahkan telah mengirimkan dokter-dokternya ke segala penjuru dunia.

Selain mengirimkan tenaga medis, para ilmuwan Kuba juga telah memberikan beberapa sumbangsih temuan di bidang kesehatan hingga sekarang.

Berbanding terbalik dengan Indonesia. Negara besar dengan potensi yang jauh lebih unggul dari Kuba itu seakan tidak siap menghadapi virus ini. Kita bisa melihat di beberapa pemberitaan, hantaman corona yang begitu masif justru menghadapkan kita pada persoalan-persoalan teknis di lapangan. 

Contoh kasus adalah soal Alat Pelindung Diri (APD), yang pada masa-masa awal penyebaran virus ini masih sangat terbatas. Tidak sampai di situ, rumah sakit rujukan bagi pasien yang terjangkit atau diduga terjangkit virus ini sebagian besar belum memiliki alat/laboratorium pengecekan spesimen darah untuk pemeriksaan Covid-19. 

Sehingga, untuk sampel darah dari para pasien yang ada ini, harus dikirim lagi ke 17 laboratorium yang menjadi rujukan pemeriksaan oleh pemerintah yang sudah pasti memakan waktu yang cukup lama hingga hasil rapid test-nya keluar.

Proses pemeriksaan yang memakan waktu itu justru menjadi hambatan bagi pelayanan penanganan Covid-19 di Indonesia. Bayangkan saja, bila terdapat pasien yang masih kategori OPD (orang dalam pemantauan) dan PDP (pasien dalam pemantauan) harus menunggu beberapa hari sampai hasil rapid test itu keluar. 

Padahal bila keberadaan laboratorium ini ditambah atau sejak awal dipersiapkan, justru akan membantu menghambat penyebaran corona dan keselamatan pasien bisa lebih terjamin.

Berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi penyebaran Covid-19 saat ini adalah buah dari kegagalan negara dalam mengelola sistem pendidikan dan kesehatan kita. Berbeda halnya dengan Kuba yang secara sistem pengelolaannya sudah jauh melebihi Indonesia.

Untuk mengarahkan perbandingan pendidikan kita dengan Kuba— yang telah dijelaskan sebelumnya (baca: Jalan Panjang Pendidikan dan Kesehatan Kuba) bisa dilihat dengan beberapa fakta sebagai berikut.

Jumlah Perguruan Tinggi di Kuba saat ini hanya terdapat 43 unit yang terdiri dari perguruan tinggi provinsi, institusi pendidikan di bawah kementerian, dan perguruan tinggi Iinternasional. Dari jumlah ini, Indonesia sudah jauh melampaui Kuba yang menurut data Ristek Dikti 2017 terdapat 4.504 perguruan tinggi yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia.

Perbedaan antara Kuba dan Indonesia terletak pada penguasaan negara di sektor pendidikannya. Bayangkan saja, dari 43 perguruan tinggi yang ada di Kuba, semuanya dimiliki oleh negara.

Berbanding terbalik dengan Indonesia. Dari 4.504 perguruan tinggi itu, ada 3.136 perguruan tinggi yang dimiliki oleh swasta, 122 adalah perguruan tinggi negeri dan sisanya dimiliki oleh kementerian dan lembaga keagamaan. Di sini kita bisa melihat bahwa perguruan tinggi swasta di Indonesia menjadi perguruan tinggi yang paling mendominasi sistem pendidikan kita.

Selain jumlah perguruan tinggi, alokasi anggaran pendidikan di Indonesia jauh lebih besar daripada Kuba. Pada 2020, pemerintah telah mengalokasikan dana di sektor pendidikan mencapai 505,8 triliun. Sangat jauh perbandingannya dengan Kuba yang hanya mengalokasikan dana di sektor pendidikan tidak lebih dari 10 triliun.

Perbedaan itu sebenarnya menjadi koreksi awal bagi pemerintahan Indonesia. Bahwa dengan alokasi yang besar tidak serta-merta menunjukkan perbaikan yang signifikan pada sistem pendidikan di tanah air.

Selain membandingkan sistem pendidikan, kita juga perlu melihat perbedaan mencolok di bidang kesehatan dari kedua negara ini.

Di sektor kesehatan, Indonesia sudah kalah jauh dari Kuba. Tercatat hingga saat ini (berdasarkan data dari Ikatan Dokter Indonesia 2019), jumlah dokter di Indonesia mencapai 168 ribu orang. Bila dipresentasekan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 269 juta jiwa, maka setiap dokter di Indonesia harus menangani 1.500 orang Indonesia dalam aspek kesehatan. 

Angka itu jauh di bawah Kuba yang menurut data Theculturetrip 2015, jumlah dokter di Kuba mencapai 77 ribu orang dengan jumlah penduduk sekitar 11 juta jiwa. Artinya, satu orang dokter di Kuba secara rasio melayani 150 warga negara. 

Sehingga tidak heran di tengah pandemik corona saat ini, para dokter-dokter itu setiap saat berkunjungan kepada rakyat Kuba untuk mengecek dan memberikan sosialisasi tentang kesehatan, terutama bahaya Covid-19.

Fakta-fakta ini mestinya menjadi petunjuk bagi pemerintah dalam mengevaluasi kembali sistem pendidikan dan kesehatan yang diterapkan di Indonesia.

Di beberapa aspek dari kedua sektor itu, memang terdapat keunggulan Indonesia atas negara penghasil cerutu itu. Tapi keunggulan-keunggulan yang ada ini justru tidak berkonsekuensi terhadap dunia pendidikan dan kesehatan kita. 

Sebaliknya, kesehatan makin mahal, pendidikan pun begitu. Kita perlu berkaca pada Kuba, negara kecil di karibia itu telah mampu mendorong kesehatan dan pendidikannya menjadi salah satu yang terbaik di tengah berbagai macam keterbatasannya.

Kuba dan Sosialisme

Kuba telah membuktikan pada dunia, dengan segala keterbatasan dan hantaman sanksi jahat Amerika, mereka mampu bertahan bahkan melebihi beberapa negara maju di muka bumi. Suatu prestasi yang perlu diapresiasi dan patut untuk dicontoh oleh setiap negara di dunia.

“Capaian Kuba saat ini perlu dilihat secara utuh dan menyeluruh bagaimana mereka membangun negara itu.”

Tidak ada kebijakan progresif tanpa pemerintahan yang progresif. Keberhasilan Kuba di bidang pendidikan dan kesehatan adalah hal yang tak terpisahkan dari gagasan mereka melihat dunia serta manusia (masyarakat). 

Kejernihan Kuba itu telah termanifestasikan dalam berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintahannya dan membuktikan bahwa sosialisme, sebagai pandangan hidup Kuba, telah mengantarkan mereka pada suatu kemajuan berarti.

Kuba telah menjadi bukti nyata bagi peradaban manusia; di bawah kapitalisme yang dipelopori oleh Amerika itu, adalah suatu sistem yang sudah usang dan harus ganti dengan sistem yang memanusiakan manusia. Kapitalisme yang selalu menghamba pada keuntungan segelintir orang nyatanya telah menghambat kemajuan manusia di muka bumi.

Olehnya itu, di tengah hantaman Covid-19, menjadi landasan bagi kita untuk memandang kembali sosialisme sebagai landasan kita bermasyarakat. Suatu sistem yang meletakkan dasar hidup pada nilai-nilai kemanusiaan sejati, kebersamaan dan persaudaraan internasional adalah suatu keniscayaan.

Di penutup ini, penulis berpesan bahwa selain berupaya menghambat penyebaran corona, kita juga perlu terus menajamkan nalar atas situasi-situasi yang terjadi sekarang. Hal ini dimaksudkan agar nalar kita tidak hanya terserap pada upaya menghambat penyebaran corona, tapi juga perlu melihat corona dalam kacamata luas serta kekritisan atas kapitalisme.