Nama Greysia Polii mungkin kalah tenar di kalangan pemuda dengan nama artis papan atas ibu kota Indonesia. Greysia Polii lahir di Jakarta, 11 Agustus 1987. Ia telah mencicipi karier bulutangkis dari yang biasa saja, jatuh ke dalam jurang kegelapan, hingga berdiri di podium tertinggi.

Sebelum Olimpiade Rio de Janeiro 2016, ia bersama partnernya Meiliana Jauhari memang kerap menjadi andalan Indonesia. Walaupun menjadi andalan, duet ganda ini tak kunjung menorehkan prestasi yang dapat dielu-elukan. Dilansir tribunnews.com, prestasi tertinggi yang dicapai mereka hanya menjadi semi finalis Djarum Indonesia Open Super Series Premier 2012, semi finalis Singapore Open Super Series 2012, dan finalis Taipei Open 2011.

Dengan catatan karier tersebut, mereka justru telah menciptakan dosa besar untuk nama Indonesia di ajang olahraga yang paling prestisius di dunia, Olimpiade London 2012. Berawal dari kekalahan tak terduga wakil asal Tiongkok Tian Qing/Zhao Yunlei dari wakil asal Denmark Kamila Ryter Juhl/Chrtistina Pedersen di babak penyisihan grup, sehingga Qing/Yunlei menjadi runner up grup.

Inilah yang membuat Wang Xioali /Yu Yang, rekan senengara Qing/Zhao yang juga memiliki cita-cita untuk ‘kalah’ saat bersua dengan Jung Kyung-eun/Kim Ha Na dan berada di posisi runner up. Hal ini dilakukannya karena tak ingin terjadi duel antar sesama wakil Tiongkok di babak semifinal. Wang/Yu hanya ingin bertemu rekan senegaranya tersebut di babak final.

Berbekal dari insiden tersebut, Greysia/Meiliana juga memiliki tujuan yang sama dalam melakoni pertandingannya yaitu ‘kalah’. Dramatisnya lagi, lawan tanding mereka Ha Jung-eun/Kim Min-jung juga memiliki arah yang sama. Mereka sengaja mengalah agar tak dapat berduel dengan unggulan satu, Wang/Yu.

Akibat dari insiden tersebut empat pasang ganda tersebut menerima kartu hitam alias dikeluarkan dalam pertandingan dan juga didiskualifikasi dari ajang empat tahunan tersebut karena dinilai mencederai fairplay.

Dari insiden inilah yang membuat Greysia Polii frustasi dan ingin berhenti dari karir yang telah dibangun sejak kecil. Namun jika ia berhenti dari bulutangkis, ia telah berhenti di titik terendah kehidupannya. Tak akan bisa menutupi dosa besarnya dengan raihan emas yang mungkin saja dapat tercapai.

Pilihan lainnya, jika ia membangunnya lagi dari awal, ia membawa dosa besar tersebut yang melekat di raganya dan kemungkinan bisa menutupi dosa besarnya lewat prestasi yang dapat dicapai pada masa depannya.

Bangkit bersama Nitya Krishinda

Greysia Polii memilih mengawali karirnya lagi dengan dosa besar yang masih melekat di raganya. Walaupun begitu ia memiliki peluang dengan menutupi tinta emas. Benar saja, ia tak salah memilih. Ia telah berhasil dari sekadar mengalahkan lawan dan meraih medali emas, yaitu mengalahkan dirinya sendiri.

Ia telah menciptakan tinta emas yang dapat dielu-elukan oleh bangsa ini. Bertengger di ranking dua, meraih medali perunggu kejuaraan dunia, hingga melakoni pertandingan bulutangkis terlama yaitu 161 menit. 

Tak sampai di situ, ia bersama partnernya telah meraih medali emas Asian Games 2014 padahal ia tak diunggulkan dalam ajang empat tahunan tersebut.

Menjadi Guru Bagi Pasangannya

Setelah Nitya memilih untuk menepi dari lapangan karena operasi lututnya, pelatih ganda putri Indonesia, Eng Hian mengonta-ganti pasangan Greysia Polii. Mulai dengan Della Haris, Rosyita Eka, hingga Rizki Amelia. Dari keempat pemain tersebut tak kunjung membuat Eng Hian puas.

Hal ini yang membuat Eng Hian memanggil Apriyani Rahayu untuk berpasangan denganya. Kecermatan pelatih memasangkan keduanya membuahkan hasil yang tak terduga. Tak lama dipasangkkan, duet ganda senior-junior berhasil mencatatkan tinta emasnya di Thailand Open Grand Prix Gold 2017.

Tak sampai disana, Greysia yang menjadi guru dalam duet ini juga membawa Apriyani Rahayu meraih titel super series pertamanya, Perancis Open Super Series 2017 hingga menjuarai Indonesia Master 2018 di Jakarta Convension Center. Yang teranyar, Greysia/Apriyani meraih titel di Indonesia Master 2020 setelah mengalahkan duet asal Denmark, Maiken Fruergaard/Sara Thygesen.

Menjadi Role Model Pemuda Indonesia

Berlarut larut dari masa kelam hanya akan membuat hidup tak lagi bergairah. Greysia Polii mencoba untuk membangun karirnya dari nol sejak insiden Olimpiade London 2012.

Pilihan yang tak mudah bagi seorang atlet. Pasalnya, ia membawa dosa besar dan cacian penggemar untuk membawa karirnya ke tinta emas. Ia melawan rasa takut dan trauma dalam karirnya.

Hal-hal ini yang harus patut dicontoh oleh atlet bulutangkis atau cabang olahraga lainnya. Dalam hal perjuangan seorang atlet, Greysia Polii patut menjadi role model atau panutan atlet-atlet Indonesia dan bahkan pemuda Indonesia lainnya mengingat para pemuda saat ini sering dicap sebagai generasi manja dan apatis.

Kini Greysia Polii bersama Apriyani Rahayu menjadi tulang punggung Indonesia di nomor ganda putri. Selain dituntut untuk merebut kembali Piala Uber, peringkat delapan dunia ini juga diharapkan meraih medali di ajang Olimpiade Tokyo 2020 yang akan digelar tahun depan.