Menguatnya kelompok fundamentalisme keagamaan global, bahkan termasuk di Indonesia tidak serta merta disebabkan persoalan keagamaan semata. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal itu marak terjadi. Salah satu faktor terbesar adalah keberagaman modernitas (multiple modernity) yang masuk ke negara-negara dalam kategori negara tertinggal dan berkembang. Respons modernitas masing-masing negara pun berbeda, termasuk dampak yang ditimbulkannya.

Asah Kritis Indonesia merespons fenomena tersebut dalam diskusi daring seri ketiga dengan topik “Keberagamaan dalam Aneka Modernitas”. Dua narasumber yang akan mengulasnya di antaranya Andri Rosadi, seorang dosen di UIN Padang. Narasumber lainnya sekaligus sebagai penanggap adalah Aris Arif Mundayat, pendiri Asah Kritis Indonesia (ASKI).

Karakter Keberagaman Modernitas

Andri membuka penjelasannya tentang modernitas yang kemunculannya pertama kali berada di Eropa dan Amerika dengan gejala yang tidak tunggal, lalu menyebar dengan cepat di kawasan negara lainnya. Sebagian besar tertuju ke negara muslim seperti kawasan Timur Tengah, Turki, Arab Saudi, Mesir, Malaysia, dll.

Modernitas yang masuk ke negara-negara tersebut mendapatkan respons yang beragam, sekalipun dengan corak negara yang memiliki kemiripan yakni negara Islam—baik  dalam definisi sistem pemerintah atau mayoritas penduduk muslim. Dalam kondisi seperti itu maka lahirlah keberagaman modernitas (multiple modernity).

Adapun tema modernitas yang diusung pun beragam varian seperti rasionalisme, sekularisme, liberalisme, individualisme, demokrasi, dan globalisasi. Dari sekian tema tersebut, aktor tunggal yang dianggap sebagai karakter global modernitas adalah sains dan teknologi. Adapun agen-agen yang turut menyebarkan modernitass di antaranya melalui kolonialisme, globalisasi, media, teknologi, orang/tokoh, lembaga keuangan dan ideologi.

Hadirnya modernitas di Barat merupakan konsekuensi logis dari evolusi sejarah sosial Barat yang berjalan secara organik, alamiah, dengan alur buttom up, bukan top down seperti halnya yang terjadi di negara kawasan muslim. Sehingga modernitas secara tidak langsung membentuk dua kutub yakni orang kembali pada puritanisme dan atau orang menjadi sangat relativistik.

Sejarah kemunculan modernitas di Barat, kata Andri, meninggalkan noda hitam seperti perang agama dan persekusi agama. Dua peristiwa tersebut merupakan tanda reformasi agama tidak berjalan dengan mulus, seiring dengan kemunculan revolusi industri—yang mendorong tumbuhnya perekonomian namun terjadi eksploitasi buruh besar-besaran. Akibatnya sebanyak puluhan ribu orang terkapar di kota Paris yang disebabkan perang antara Protestan dan Katolik. Begitupun yang terjadi di Inggris dan kawasan Skandinavia.

Sekalipun modernitas mengibarkan kesadaran HAM global, di sisi lain Barat secara intensif melakukan kolonialisme dan imperialisme ke negara-negara miskin yang mengakibatkan perang dunia I dan II menjadi sejarah panjang ekspansi modernitas Barat.

Pola Ekspansi Modernitas antara Barat dan Timur

Pergumulan modernitas di Barat yang bersifat buttom up—hasil evolusi sejarah sosial memunculkan sebuah kesadaran lahirnya sekularisme. Hal tersebut, bagi Andri, dianggap sebagai suatu konsensus bahwa semua elemen warga hidup damai tanpa perlu diganggu sentimen primordial yang selama ini dianggap melekat pada agama dengan konsekuensi ruang publik disterilkan dari kepentingan agama.

Dalam prinsip sekular, demokrasi dianggap sebagai sistem yang paling relevan, sebab bertumpu sepenuhnya pada kedaulatan manusia. Bukan sebaliknya teokrasi yang berkedaulatan penuh kepada Tuhan. Sehingga sekularisme menjadi software demokrasi model Barat yang paling kompatibel.

Lantas di mana agama? Dalam prinsip sekularisme, agama akan ditarik secara paksa ke dalam ruang privat. Seperti halnya pengalaman Andri di London, melihat sebuah bus melintas dengan iklan bertuliskan “Kunjungi Website Gereja”. Gara-gara iklan tersebut, gereja dikecam luas karena kemunculannya di ruang publik dalam bentuk iklan.

Agama yang dipaksa tampil di ruang publik memunculkan sebuah asumsi bahwa agama yang bersifat eksklusif akan mengakibatkan kemunculan batas antara orang beriman dan tidak beriman. Secara tidak langsung, agama tertuduh memiliki klaim kebenaran universal yang berpotensi melecehkan sikap toleransi, pluralisme, multikulturalisme yang sejak awal sudah dibangun secara horizontal.

Kekhawatiran lainnya soal agama dalam prinsip sekularisme adalah kedudukan agama sebagai nilai moral yang bersifat final. Dengan “dosa bawaan” itu yang melatarbelakangi agama sebaiknnya tidak perlu muncul dalam ruang publik karena kuatnya sentimen primordial memberikan ekses pengabaian hak-hak individu. Lain halnya dengan demokrasi yang dapat diubah, disesuaikan, dan diperbaiki. Bagaimana dengan negara muslim?

Tidak seperti di Barat, modernisme di kawasan negara muslim bersifat top down karena sekularisme dan demokrasi terimplantasi dari kalangan elite lokal—hasil persentuhannya dengan kekuatan kolonial dengan memaksakan modernitas inheren menjadi bagian kehidupan negara muslim.

Mustofa Kemal Attaturk salah satu elite lokal yang tergiur dengan modernisme, menginjeksikan sekularisme dan demokrasi dalam sistem pemerintahan Turki—dengan mengganti huruf Arab menjadi huruf latin, melarang jilbab dan gamis diganti dengan topi, melarang jenggot, atau larangan simbol keagamaan di ruang publik.

Pendekatan top down ini yang menciptakan gap antara segelintir elite yang sudah “terbaratkan“ dengan mayoritas rakyat yang masih menjadikan agama sebagai identitas utama.

Perkembangan Masyarakat Modern

Elemen modernitas kepada agama memberikan pengaruh semakin dominannya otonomi individualisme. Sebagai karakter dasar modernitas, memberikan efek samping netralitas kepada agama yang menggiring demokratisasi atas interpretasi teks-teks agama.

Bagi Andri, demokratisasi ini menyebabkan munculnya fragmentasi otoritas keagamaan menjadi runtuh. Di sisi yang lain relativisme muncul dan berpeluang bahwa ulama atau tokoh keagamaan yang otoritatif pada suatu kelompok tradisional dapat dikritik secara terbuka.

Globalisasi yang terekspresikan dengan migrasi secara masif, menjadi bagian elemen lain dari modernitas perlahan memunculkan budaya yang beragam (culture of pluralism) sehingga meredefinisikan agama menjadi sebuah kebutuhan.

Dampak serius yang ditimbulkan, pondasi keimanan masyarakat modern menjadi korosif terhadap segala bentuk kehidupan keagamaan. Kata kunci dari gerakan modern ini adalah perubahan yang berkelanjutan membentuk masyarakat modern kehilangan kemampuan untuk menumbuhkan religiusitasnya secara mendalam.

Tumpulnya memori keagamaan masyarakat modern disebabkan ekonomi industri modern yang memiliki kecenderungan berwatak materialistik. Seperti yang pernah diungkapkan Max Webber yakni Indiferent to God and Prophet.

Pada sisi yang lain, perubahan yang cepat dan terjadi terus menerus—merangsang kerinduan untuk kembali pada stabilitas tradisi yang mapan. Modernitas memaksa kelahiran dua kutub sekaligus yang saling berseberangan yaitu puritanisme dan relativisme.

Modernisme sebagai Gejala Matinya Tuhan

Aris Arif Mundayat, mengutip buku Civilization and Multiple Modernity karya Eisten Start menjelaskan multiple modernity merupakan cara pandang seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukan proses transformasi dari hubungan antara pusat (Barat) dan pinggiran (Timur).

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, hubungan pusat dalam hal ini adalah negara Barat yang sudah mengalami modernisasi jauh lebih awal mengalami proses industrialisasi. Secara langsung, kawasan pinggiran atau Timur mengalami proses restrukturisasi industri yang mengakibatkan menipisnya batas dari keduanya.

Industrialisasi di Eropa seiring dengan melajunya proses sekularisasi dengan memisahkan agama, baik secara moral dan politik setelah melalui fase perang agama dan persekusi agama. Ini disebabkan agama terlibat dalam praktik politik yang justru menghasilkan kerumitan karena penyalahgunaan otoritas keagamaan. Dalam suasana seperti itu, filsuf kenamaan, Friedrich Nietzsche membuat sebuah karya termahsyur: God is Dead!

Bukan tanpa sebab Nietzsche menuliskannya, banyak ajaran keagamaan yang dibawa langsung oleh gereja justru dibajak dan dibunuh langsung oleh institusi gereja itu sendiri dengan menjadi bagian dari kekuasaan. Akibatnya gereja semakin ditinggalkan pengikutnya.

Sekularisme di Barat menjadi sebuah keniscayaan, seiring dengan restrukturisasi industri berbasis primordialisme agama yang terlempar ke negara-negara ketiga, termasuk Indonesia. Pola ekspansi ini perlahan mengalami multiplikasi, sehingga menyebabkan terjadinya keberagaman modernitas (multiple modernity).

Keberagaman Modernitas dan Respons Keberagamaan

Dalam bukunya The Real Society karya Ulrich Back yang terinspirasi Anthony Giddens, Aris menjelaskan modernitas menyebabkan situasi masyarakat bersiko tinggi (risk society) karena situasi masa depan yang tidak bisa diprediksi atau ketidakpastian—dipengaruhi tidak hanya perkembangan teknologi tetapi juga perubahan ekonomi-sosial sampai gaya hidup.

Gelombang modernisme yang menguat dengan sekaligus memperkenalkan kapitalisme dan liberalisme di kawasan Eropa dan Amerika pada periode 1970-an, secara tidak langsung memantik berkembangnya situasi masyarakat beresiko tinggi seiring proses keberagaman modernitas yang dialaminya.

Aris mencontohkan kawasan pedalaman Amerika yang tidak sekaligus diidentikan tertinggal secara ekonomi-sosial—justru kawasan tersebut menunjukan kecenderungan masyarakat yang rasionalis dan sekuler. Secara spesifik tidak adanya lagi kepercayaan kepada agama: agnostik.

Berbeda halnya di kawasan urban Amerika dan Eropa, yang menunjukan gelombang populisme kanan semakin menguat ketika orang-orang seperti Donald Trump dan Borish Johnson muncul dalam kontestasi politik. Sikapnya pun sama, tidak sepenuhnya menolak kapitalisme dengan sepenuhnya ingin membangkitkan nasionalisme berbasis keagamaan.

Situasi kerentanan masyarakat beresiko tinggi juga dialami masyarakat kawasan negara muslim, akibat praktek-praktek keagamaan yang bersifat multiplikasi dengan respons yang beragam pula.

Pertama, corak keagamaan konservatif; kedua, corak keagamaan secara politik dengan merebut dan mengganti ideologi modern dengan ideologi berbasis keagamaan; ketiga, corak keagamaan yang diekspresikan dengan cara ekstremisme kekerasan (violence ekstremism); keempat, corak keagamaan berkarakter sufistik.

“Jadi di dalam keberagaman keagamaan (multiple religiousity) juga terdapat irisan keberagaman modernitas (multiple modernity). Dalam situasi saat ini keduanya masih dalam kondisi bersitegang,” kata Aris.

Gelombang Modernitas

Dalam konteks Indonesia, kata Aris, setidaknya terdapat empat gelombang modernitas yang masuk sekaligus mewarnai kebudayaan Indonesia. Keempatnya hidup dalam saling berdampingan, bahkan berujung pada proses penyingkiran dan mengganti satu sama lain.

Gelombang pertama, Budaya Hindu (Hindi Culture) dengan tanda praktek keagamaan Hindu dan Budha yang merupakan gelombang globalisasi era awal sebelum Barat melakukan melakukan ekspansi; gelombang kedua, Budaya Arab (Arabic Culture) dengan melalui jalur perdagangan dengan menemukan sekaligus memanfaatkan teknologi pelayaran dan perbintangan.

Gelombang ketiga, Budaya Barat (Western Culture) dengan corak kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan negara Eropa seperti Portugis, Inggris, dan Belanda; gelombang keempat, Budaya Cina (China Culture) dengan cara meninggalkan keahlian seni pahat kayu yang dapat dijumpai di kawasan Pantura, terutama Jepara, Jawa Tengah.

Keempat gelombang modernisasi tersebut merupakan bagaimana restrukturisasi industri mengekspresikan dirinya dengan karakternya masing-masing. Konsekuensinya atas pertemuan, bahkan transisi kebudayaan tersebut juga memiliki potensi yang bersifat damai sampai konflik.

Lapisan Modernitas dan Teknologi sebagai Medium Perlawanan

Modernitas yang berjalan beriringan dengan globalisasi menurut analisis Andri, terbentuk tidak secara tunggal karena di dalamnya terdapat struktur yang terdiri inti (core), tengah (centre), dan pinggiran (periphery).

Dalam struktur tersebut, negara muslim lebih dominan berada pada bagian pinggiran yang direspons dengan merekayasa terjadinya globalisasi secara kebudayaan dan keagamaan. Adapun posisi inti dikuasai negara-negara maju kawasan Barat yang menguasai teknologi.

Secara menarik Aris juga menyebut Cina yang sebelumnya terletak pada posisi tengah, kini masuk dalam bagian inti dan berada pada posisi sejajar dengan negara Barat lainnya. Ini dapat dilihat bagaimana kekuatan perekonomian China menjadi ancaman serius bagi Amerika Serikat.

Tidak hanya Cina, negara kawasan Asia Timur lainnya seperti Jepang dan Korea yang berada pada posisi tengah, perlahan bergerak menuju ke posisi inti menyusul Cina. Ketiga negara tersebut melakukan perlawanan melalui optimalisasi pemanfaatan teknologi atas dominasi modernisasi Barat yang sudah lama berada kondisi mapan dan hegemonistik.

Bagaimana dengan Indonesia? Dalam konteks Indonesia sudah berjalan walau masih dengan setengah hati. Bacharuddin Jusuf Habibie sesungguhnya sudah memulai dengan baik melalui teknologi pesawat yang dibuatnya, walau akhirnya setelahnya tidak pernah berjalan mulus. Tingginya keinginan menguasai teknologi, tapi ragu melakukan sekularisasi menjadi penyebabnya.

Persentuhan secara langsung dengan keberagaman modernitas, seringkali dihinggapi keraguan di hampir sebagian besar negara yang religiusitasnya kuat ketika dihadapkan dengan pemanfaatan dan penguatan teknologi. Tidak peduli negara tersebut berbasis agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha.

Ancaman yang mengintai dari modernitas, kala perkembangan teknologi menguat, di sisi lain dalam waktu bersamaan terjadi penurunan dalam aspek religiusitas. Kebutuhan sebuah negara yang kuat melalui penguasaan teknologi dan keagamaan secara bersamaan jarang ditemui. Keduanya dalam posisi sulit untuk berjalan bersama. Lebih tepatnya berakhir pada satu pilihan yang dominan dan kekalahan kepada sisa pilihan lainnya.